Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjaga Warisan Islam: Penulisan Mushaf Nusantara di Islamic Center NTB

nur cahaya • Sabtu, 22 Maret 2025 | 20:20 WIB
HAMPIR SELESAI: Seorang kaligrafer tengah menyalin ayat Al-Quran ke Mushaf Nusantara, Rabu (19/3).
HAMPIR SELESAI: Seorang kaligrafer tengah menyalin ayat Al-Quran ke Mushaf Nusantara, Rabu (19/3).

Di ruang yang sunyi penuh khusyuk di Islamic Center NTB, para kaligrafer bekerja dengan tekun. Dengan ketelitian dan kecintaan, mereka menuliskan ayat-ayat suci Al-Quran untuk dijadikan mushaf khas Nusantara. 

Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menorehkan prestasi dengan kontribusi terbesar dalam penulisan Mushaf Nusantara. Sebanyak 22 kaligrafer menyalin 2,5 juz dari NTB turut serta dalam proyek monumental ini, menjadikannya provinsi dengan jumlah peserta terbanyak di Indonesia.

---------------------------

SALAH satu di antara mereka adalah Khairul Umam, seorang kaligrafer asal Gerung, Lombok Barat, yang telah mengabdikan dirinya pada seni kaligrafi sejak remaja. Bagi Umam, perjalanan menjadi seorang kaligrafer bukanlah sesuatu yang instan.

Ia mulai mengenal seni menulis indah ini sejak duduk di kelas tiga Madrasah Tsanawiyah. Ketertarikannya semakin mendalam ketika ia melanjutkan studi di Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (LEMKA), Sukabumi, yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan kaligrafi terbaik di Indonesia.

“Di sana, saya banyak belajar kaidah penulisan khat (tulisan Arab), yang menjadi dasar utama dalam seni kaligrafi Islam,” tuturnya, Rabu (19/3).

Proses belajar ini tidak hanya membutuhkan keterampilan artistik, tetapi juga kesabaran dan kedisiplinan tinggi. Setiap goresan pena harus mengikuti aturan yang ketat, mulai dari ketinggian huruf, kemiringan, hingga keseimbangan antarhuruf dan kata.

“Butuh bertahun-tahun untuk benar-benar menguasai kaidah khat dalam kaligrafi,” ujar Umam.

Ia mengungkapkan fokus keahliannya pada khat naskhi khat tsuluts. Menurutnya keduanya sering digunakan untuk dekorasi masjid dan penulisan mushaf.

Di antara banyak karya yang telah dihasilkannya, ada satu yang paling berkesan bagi Umam, mushaf yang ia tulis sendiri sebagai mahar pernikahannya. Dalam dunia Islam, mahar sering kali berupa uang atau emas, tetapi Umam memilih sesuatu yang lebih bermakna.

Ia menyalin Al-Quran dengan tangannya sendiri dalam 137 lembar tulisan sebagai bentuk penghormatan terhadap istrinya dan pengabdian kepada Allah. “Ini salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya,” katanya dengan bangga.

Menulis mushaf sebagai mahar tak hanya soal rasa bangga akan karya tetapi tentang nilai penghambaan pada Ilahi yang sulit dilukiskan. “Menulis mushaf sendiri untuk mahar adalah pengalaman spiritual yang luar biasa.”

Umam, salah satu kaligrafer yang berkontribusi dalam penulisan Mushaf Nusantara di Islamic Center NTB. sebuah proyek besar yang bertujuan menciptakan mushaf khas Indonesia.

Menulis kaligrafi bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga tentang alat yang digunakan. Umam masih menggunakan alat tradisional yang telah digunakan oleh para kaligrafer selama berabad-abad.

Alat itu antara lain, Qalam Hantam, yakni pena khusus yang dibuat dari pelepah pohon enau, menghasilkan garis yang lebih alami dibandingkan pena modern. Berikutnya, Tinta Jepang – Tinta hitam berkualitas tinggi yang mampu memberikan warna pekat dan tahan lama.

Berikutnya, kertas khusus – Kertas yang dipilih harus memiliki tekstur yang sesuai agar tinta dapat terserap dengan baik tanpa melebar. “Setiap alat memiliki peran penting dalam menciptakan kaligrafi yang indah dan tahan lama,” jelasnya.

Meski terlihat indah, menulis mushaf Al-Quran bukanlah pekerjaan mudah. Kesalahan sekecil apa pun bisa mengubah makna ayat, sehingga diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi.

“Kesulitan terbesar dalam menulis mushaf adalah menjaga kaidah penulisan,” kata Umam.

Ia menjelaskan, setiap huruf memiliki ukuran dan posisi yang sudah ditentukan. Misalnya, huruf ‘alif’ harus setinggi tujuh titik, sementara kemiringan huruf lainnya harus sesuai dengan aturan yang telah ada.

Selain itu, proses penulisan mushaf juga memerlukan kondisi yang tenang dan fokus. Meskipun tidak harus dalam keadaan sunyi total, tetapi seorang kaligrafer tidak bisa bekerja dalam suasana yang terlalu ramai atau terganggu.

“Kaligrafi bukan seperti seni lukis yang bisa dibuat dengan ekspresi bebas,” tambahnya.

Ia mengatakan, ada aturan baku yang harus diikuti. “Dan itu membutuhkan ketenangan jiwa,” tekannya.

Meskipun memiliki keahlian luar biasa, Umam belum membuka kursus kaligrafi sendiri di kampung halamannya, Gerung. Namun, ia sering menjadi pembimbing bagi peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di bidang kaligrafi.

Ia menekankan siap membantu generasi muda yang ingin belajar kaligrafi, terutama saat ada MTQ. “Tapi memang masih jarang anak muda yang mau benar-benar mendalami seni ini,” ucapnya.

Di sisi lain, Islamic Center NTB berupaya untuk terus mengembangkan seni kaligrafi di daerah ini dengan memberikan pelatihan dan peluang bagi kaligrafer lokal untuk berkarya.

Kaligrafi Islam bukan hanya sekadar seni, tetapi juga bentuk ibadah dan refleksi spiritual. Setiap goresan huruf adalah bagian dari proses merenungi kebesaran Allah dan memperindah wahyu-Nya.

Khairul Umam dan para kaligrafer di Islamic Center NTB adalah penjaga warisan Islam, memastikan seni penulisan mushaf tetap hidup di era modern ini. Dengan dedikasi mereka, Mushaf Nusantara tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga warisan yang akan bertahan untuk generasi mendatang.

KEPALA Dinas Pariwisata NTB Jamaludin Malady mengungkapkan, NTB mendapatkan porsi 2,5 juz dalam proyek ini. Jumlah ini, jauh lebih besar dibandingkan provinsi lain yang rata-rata berkontribusi satu juz.

“Alhamdulillah, ini adalah penulisan Mushaf Nusantara secara serentak di seluruh Indonesia dan NTB termasuk yang terbanyak jumlah penulisnya, yaitu 22 orang,” tutur Jamal, Rabu (19/3).

Ia mengungkapkan tidak tahu alasan spesifik di balik amanat yang luar biasa ini. “Saya tidak tahu kenapa harus terbanyak, tapi dari informasi yang saya terima, NTB sangat aktif dalam Hasanah Ramadan, terutama dalam memberikan edukasi penulisan kaligrafi kepada anak-anak,” ujarnya.

Setiap sore selama bulan Ramadan, berbagai kegiatan edukasi kaligrafi digelar di NTB, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan minat dan keterampilan generasi muda dalam seni kaligrafi, tetapi membentuk fondasi bagi mereka yang ingin mendalami penulisan mushaf secara profesional.

“Di Hasanah Ramadan, kita adakan lomba kaligrafi dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Setiap sore di lokasi acara, disiapkan kanvas dan perlengkapan lain agar anak-anak bisa berlatih,” tambahnya.

Penulisan Mushaf Nusantara bukan hanya sekadar proyek kaligrafi, tetapi upaya mengabadikan kekayaan budaya lokal dalam seni Islam. Di antara berbagai desain mushaf yang dibuat oleh tiga provinsi, motif khas NTB seperti Sasambo (Sasak, Samawa, Mbojo) dan ornamen Sumbawa banyak muncul sebagai bagian dari identitas visual mushaf.

“Dari corak dan motif, ternyata unsur Sasambo dan Sumbawa cukup dominan dalam mushaf ini. Menunjukkan budaya NTB memiliki tempat tersendiri dalam seni kaligrafi Islam,” kata Jamal.

Hasil penulisan mushaf ini nantinya akan dikumpulkan dan diserahkan ke Kementerian Agama, sebelum akhirnya diberikan kepada Presiden Republik Indonesia. Mushaf ini akan dijilid dan diperbanyak untuk disebarkan ke berbagai penjuru Nusantara.

“Nantinya, mushaf ini akan dijilid dan mungkin diperbanyak agar bisa didistribusikan ke seluruh Nusantara,” jelasnya.

Meskipun NTB memiliki banyak kaligrafer senior yang sudah sering mengikuti kompetisi nasional, Jamal menegaskan pentingnya regenerasi agar seni penulisan mushaf dan kaligrafi tidak punah di masa mendatang. “Saya memahami SDM senior kita cukup banyak. Tapi kalau kita tidak terus melibatkan generasi muda, lambat laun minat terhadap kaligrafi bisa hilang,” ucapnya.

Oleh karenanya, ia ingin mendorong agar seni kaligrafi terus diadakan setiap tahun. Baik dalam bentuk lomba, pagelaran seni, ataupun kegiatan yang dapat membangun minat pada seni yang indah ini.

“Saya berharap kegiatan ini tetap diadakan setiap tahun,” tekannya.

Sebagai bentuk komitmen membina generasi muda, Pemprov NTB melalui Hasanah Ramadan telah menyediakan pembinaan khusus sebelum lomba dimulai. Selain itu, berbagai hadiah disiapkan memotivasi peserta.

“Ada pembinaan sebelum lomba, jadi mereka tidak hanya sekadar berlomba, tetapi juga belajar. Hadiah juga sudah kita siapkan dengan dukungan berbagi pihak,” ungkapnya.

Selain lomba penulisan mushaf dan kaligrafi, Hasanah Ramadan juga menghadirkan berbagai kompetisi lain untuk memperkaya tradisi keislaman dan budaya lokal, seperti tilawah, pidato, dan dai cilik. “Kita juga melombakan seni tradisional agar tidak punah. Kita ingin memberikan panggung bagi anak-anak NTB untuk berkreasi dan melestarikan budaya mereka,” ujar Jamaluddin.

Dengan terselenggaranya berbagai kegiatan ini, NTB tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pusat seni kaligrafi di Indonesia, tetapi juga menjadi contoh bagaimana tradisi Islam dan budaya lokal dapat berpadu harmonis dalam satu wadah yang penuh makna. “Semoga ini menjadi awal bagi NTB untuk terus berkontribusi dalam seni mushaf dan kaligrafi di tingkat nasional. Kita ingin anak-anak NTB punya kebanggaan terhadap budaya mereka dan terus melestarikannya,” tutupnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)

Editor : Rury Anjas Andita
#Kaligrafer #nusantara #mahar #seni #generasi muda #profesional #Penulisan #mushaf #Pembimbing #Pariwisata