Suasana malam hari di bulan Ramadan kerap diwarnai aktivitas tak terarah, namun Lapangan Karang Genteng justru menjadi pusat perhatian. Ratusan warga berkumpul menyaksikan olah raga baru yang kini semakin digemari. Keringat, Tepuk Tangan, hingga Suara Riuh Menyatu.
-----------------------
ACARA ini bukan sekadar ajang olah raga, tetapi bagian dari upaya menciptakan ruang positif bagi anak muda. Inisiatif ini digagas Haris Maulana, seorang anggota dewan muda dari Partai Golkar.
Ia menginisiasi lomba olah raga yang tergolong baru di ibu kota: pickleball. Meski baru, semua orang hampir bisa memainkannya dengan mudah.
Haris menggunakan komunitas Semeton Haris Maulana (Semanggi) Pickleball untuk menggelar lomba ini. Tujuannya jelas, memberikan alternatif kegiatan yang lebih bermanfaat, mengalihkan fokus anak-anak muda dari balap liar, lomba panco, atau aktivitas ilegal lainnya.
“Kegiatan ini skalanya tingkat kecamatan, memang masih kecil, tapi tujuan utamanya untuk turut berkontribusi mengurangi remaja keluyuran saat malam hari,” ucap Haris, kemarin (19/3).
Selama bulan Ramadan, kebanyakan aktivitas beralih pada malam hari. Terutama anak muda, mereka bermain hingga larut malam yang membuka potensi timbulnya aktivitas negatif.
Karena alasan itu, Haris mencoba mengalihkan energi para remaja ke aktivitas olah raga. “Lomba ini digelar setelah salat tarawih sekitar jam 22.00 Wita,” terangnya.
Lomba sudah dimulai dan kini menjadi magnet tontonan baru bagi masyarakat Karang Genteng. “Acara ini juga menjadi sarana hiburan dan edukasi bagi warga yang belum familier dengan olah raga ini,” ucapnya.
Aura Lapangan Karang Genteng pada malam hari pun berubah hangat dan menyenangkan. Warga berkumpul dan memberikan dukungan pada peserta lomba yang didukung.
Jika sebelumnya lapangan itu terlihat gelap dan kerap menjadi tongkrongan sejumlah remaja dengan aktivitas tak terarah, lomba itu memberikan sentuhan berbeda. Dari anak-anak, remaja, orang dewasa, tokoh masyarakat berkumpul dalam satu energi: sportivitas.
“Meskipun masih tergolong baru di Indonesia, pickleball telah menarik minat banyak kalangan, terutama anak muda,” ucapnya.
Olah raga ini merupakan kombinasi dari tenis meja, bulu tangkis, dan tenis lapangan, dimainkan dengan raket khusus serta bola berlubang yang terbuat dari plastik. Menurut Haris, alasan memilih pickleball sebagai sarana kegiatan Ramadan sangatlah jelas.
“Kita butuh sesuatu yang baru yang bisa menarik perhatian anak-anak muda tanpa menghilangkan esensi Ramadan itu sendiri. Pickleball ini seru, mudah dimainkan, dan bisa menjadi olah raga komunitas yang mempererat kebersamaan,” ujarnya.
Benar saja, dalam turnamen ini terlihat berbagai kalangan ikut serta. Mereka beradu keterampilan dan strategi dalam permainan yang mengandalkan refleks cepat serta kerja sama tim.
Ia menambahkan, pickleball bukan sekadar olah raga, tetapi juga simbol perubahan pola pikir dan gaya hidup anak muda. Dengan hadirnya kegiatan ini, bukti olah raga bisa menjadi solusi berbagai masalah sosial, termasuk kenakalan remaja yang sering terjadi saat Ramadan.
“Anak muda itu butuh wadah untuk menyalurkan energi mereka. Kalau kita biarkan tanpa aktivitas, mereka akan mencari kesenangan sendiri, yang kadang arahnya negatif. Makanya kita harus hadir dengan solusi,” jelasnya.
Ke depan, Haris berencana mengembangkan komunitas Semanggi Pickleball lebih luas, bahkan tidak menutup kemungkinan menggelar turnamen berskala lebih besar di masa mendatang. “Saya ingin olah raga ini semakin dikenal, bukan hanya di Karang Genteng. Jika banyak yang tertarik, kita bisa buat kompetisi lebih besar dan menjadikan pickleball sebagai olahraga komunitas yang membanggakan,” tambahnya.
Meskipun baru dimulai, turnamen ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga Karang Genteng. Dengan atmosfer yang penuh semangat dan kebersamaan, pickleball malam hari telah menjadi hiburan baru yang memberikan manfaat.
Seiring berjalannya waktu, diharapkan kegiatan seperti ini bisa terus berkembang dan menjadi agenda tahunan di bulan Ramadan. Karena pada akhirnya, olah raga bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi bagaimana membangun komunitas yang lebih sehat, positif, dan penuh kebersamaan.
Beberapa warga baru pertama kali melihat pickleball, namun langsung tertarik dan ingin mencoba bermain. “Baru lihat, (sepertinya) seru,” kata Heni, satu dari ratusan penonton yang hadir.
Ia mengapresiasi kegiatan itu mengalihkan fokus sebagian remaja ke hal yang lebih bermanfaat. “Ya daripada bunyikan petasan, balap motor, banyak orang terganggu,” bandingnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)
Editor : Rury Anjas Andita