Kediri "Kota Santri" kembali berdenyut dalam semarak Ramadan, di mana tradisi, agama, dan geliat ekonomi berpadu dalam harmoni yang memikat.
--------------------------------
"AKHI, haya nastar takjil lika, ana ju'an jiddan!" (Ayo beli takjil yang itu, udah laper nih) seru seorang santri kepada temannya, sambil menunjuk ke arah gerobak es buah yang ramai dikerumuni pembeli.
"Hayya bissur’ah! Ana urid asytari alpukat kocok, huwa ladziz jiddan!" (Ayo cepetan, saya mau beli alpukat kocok. Itu enak) jawab temannya, dengan semangat.
Mereka berdua, bersama santri lainnya, berbaur dengan warga lokal, berburu takjil di sepanjang trotoar jalan depan Lapangan Kediri, Lombok Barat.
Senja merangkak turun, warna keemasan matahari berpadu dengan debu jalanan, menciptakan lukisan senja yang khas. Namun, senja kali ini terasa berbeda. Ramadan telah tiba, dan Kediri, yang dijuluki "Kota Santri", berubah menjadi panggung kehidupan yang riuh dan penuh berkah.
Jalanan yang memang tidak pernah lengang, kini makin dipadati kendaraan dan pejalan kaki. Bunyi klakson bersahutan dengan suara blender es dan tawar-menawar antara pedagang dan pembeli.
Di sepanjang trotoar, puluhan pedagang kaki lima (PKL) menjajakan aneka takjil. Aroma kolak, es buah, ayam geprek, cilok, dan gorengan bercampur menjadi satu, menggugah selera siapa pun yang melintas.
Para santri, dengan sarung dan kopiah, berbaur dengan warga lokal. Mereka berburu takjil untuk berbuka puasa, mencari hidangan favorit mereka. Wajah-wajah lelah setelah seharian berpuasa, namun tetap menyimpan senyum ceria. Ramadan memang membawa berkah tersendiri, bahkan di tengah keramaian dan kemacetan.
"Setiap Ramadan, suasana di Kediri selalu seperti ini," kata seorang pedagang sate yang telah berjualan selama bertahun-tahun. "Ramai sekali, apalagi menjelang waktu berbuka. Alhamdulillah, rezeki Ramadan selalu melimpah," sambungnya.
Kemacetan tak terhindarkan. Kendaraan roda dua dan roda empat saling berebut jalan, menciptakan simfoni klakson yang memekakkan telinga. Namun, di tengah kemacetan, ada kehangatan dan kebersamaan. Orang-orang saling berbagi senyum, menawarkan takjil, dan mengingatkan waktu berbuka.
Di tengah keramaian, tampak seorang ibu bernama Nelly, yang berjuang menerobos kerumunan. Nelly, yang rumahnya berjarak sekitar 5 kilometer dari pondok pesantren tempat anaknya belajar, membawa kantong plastik berisi jajanan dan makanan untuk berbuka puasa.
"Anak saya suka sekali terang bulan," kata Nelly, sambil menunjuk ke arah antrean panjang di depan gerobak terang bulan. "Setiap Ramadan, saya pasti datang menjenguknya, membawakan makanan kesukaannya," lanjutnya.
Nelly harus sabar mengantre, karena banyak wali santri lain yang juga ingin membelikan anak-anak mereka jajanan. Trotoar jalan dipadati oleh para ibu dan bapak yang rela berdesakan demi melihat senyum bahagia anak-anak mereka.
"Ramadan adalah bulan penuh berkah," kata seorang bapak tua yang menjual jagung rebus gerobakan, dengan suara lembut. "Mari kita manfaatkan waktu ini untuk beribadah dan berbagi dengan sesama," ajaknya.
Tepat saat azan magrib berkumandang, jalanan yang tadinya ramai mendadak lengang. Para pedagang mulai menggelar tikar di depan lapak mereka. Saling berbagi takjil, mereka berbuka puasa bersama.
Penjual sate, ikan bakar, kelapa muda, dan bahkan juru parkir, semua larut dalam kebersamaan. Suara azan menggema dari toa Masjid Jami’ Baiturrahman Kediri, diikuti lantunan doa-doa syahdu dari radio, memecah keheningan senja yang syahdu.
Setelah berbuka, masyarakat berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan salat Magrib, Isya dan Tarawih. Anak-anak kecil mulai berkeliaran di pinggir jalan, menyalakan petasan dan mercon, menambah semarak suasana malam Ramadan. Suara tawa dan ledakan kecil petasan berpadu, menciptakan melodi khas malam Ramadan di Kediri.
Usai salat tarawih, suasana malam di Kediri semakin hidup. Odong-odong mulai bermunculan di jalanan, lampu-lampu kerlap-kerlipnya menarik perhatian warga. Dengan tarif Rp 15 ribu per orang, odong-odong membawa penumpang berkeliling kota, melewati Tugu Mataram Metro, sebelum kembali ke titik awal.
Tawa dan canda anak-anak terdengar dari dalam odong-odong, menambah kebahagiaan malam Ramadan. Para orang tua pun tak ketinggalan, ikut menikmati suasana malam yang ceria, sambil bercengkerama dengan tetangga dan kerabat.
Di sepanjang jalan, warung-warung dan pedagang kaki lima tetap buka, melayani mereka yang ingin menikmati hidangan malam. Aroma kopi dan sate tercium di udara, menggoda selera. Para warga yang telah selesai tarawih, terlihat berdiskusi ringan sambil menikmati teh hangat di warung pinggir jalan.
Masjid-masjid di Kediri dipenuhi jamaah, suara lantunan ayat suci Alquran menggema di udara, mengiringi malam yang penuh berkah. Kehidupan malam di Kediri terus berdenyut, hingga menjelang waktu sahur tiba.
Camat Kediri Iswarta Mahmuluddin dalam sebuah kesempatan mengungkapkan, bahwa puluhan, bahkan ratusan PKL, memadati Kediri selama bulan Ramadan. "Memang ramai, ini insidentil. Tapi memang ramai dan padat tiap sorenya," kata Iswarta melalui sambungan telepon.
Pusat keramaian, seperti simpang empat Masjid Jami’ Kediri yang menghubungkan Mataram-Praya dan Mataram-Gerung, menjadi magnet bagi para PKL. Mereka menjajakan berbagai macam takjil, dari kolak yang manis hingga gorengan yang gurih.
Keberadaan empat pondok pesantren besar dan beberapa pondok pesantren lainnya di Kediri, dengan ribuan santri yang tinggal di sana, menjadi salah satu faktor utama ramainya PKL. Para santri, bersama warga lokal dan pengunjung dari luar kota, menciptakan permintaan yang tinggi akan makanan dan minuman, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
"Prinsip ekonomi sederhana. Supply and demand, jika permintaan banyak, barang tersedia maka terjadi distribusi yang baik maka terjadi perputaran ekonomi. Alhamdulillah, semakin banyak orang mengais rezeki, di situ saya lihat perputaran ekonomi," jelas Iswarta.
Bagi Iswarta, keberadaan PKL bukan hanya sekadar fenomena musiman, tetapi juga bagian dari roda ekonomi masyarakat yang terus berputar. Ia melihatnya sebagai berkah Ramadan, di mana semakin banyak orang yang mendapatkan rezeki.
Namun, keramaian ini juga menimbulkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal penertiban lalu lintas. Untuk mengatasi hal ini, Polsek Kediri secara bergilir turun ke jalan setiap sore menjelang waktu berbuka untuk menertibkan lalu lintas.
"Setiap sore jelang berbuka turun menertibkan," ucap Iswarta.
Di balik hiruk pikuk jalanan, ada cerita tentang perjuangan, harapan, dan kebersamaan. Para PKL, dengan segala keterbatasan mereka, berusaha mencari rezeki di bulan yang penuh berkah ini. Para santri, dengan senyum ceria mereka, menikmati suasana Ramadan yang khas. Dan para petugas keamanan, dengan sigap mengatur lalu lintas, memastikan keamanan dan ketertiban.
Kediri di bulan Ramadan adalah potret kehidupan yang dinamis. Di sini, tradisi, agama, dan ekonomi berpadu menciptakan harmoni yang indah. Di sini, PKL bukan hanya sekadar pedagang, tetapi juga bagian dari identitas "Kota Santri" di bulan Ramadan. (SANCHIA VANEKA/r3)
Editor : Pujo Nugroho