DULU, permainan billiar dibayangi dengan stigma negatif sebagai tempat berisik, penuh asap rokok, ajang perjudian, dan tempat penjualan minuman beralkohol. Namun belakangan ini, permainan bola sodok ini mulai mencuri perhatian berbagai kalangan. Biliar dipandang sebagai olahraga yang bermanfaat bagi kesehatan mental dan fisik.
-----------------------
Biliar kini menjadi pilihan bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan, pekerja kantoran, dan pelajar. Citra negatif yang melekat padanya kini berangsung hilang, digantikan dengan pandangan bahwa biliar adalah aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan.
Banyak masyarakat yang memanfaatkan permainan ini sebagai sarana untuk melepas penat, ajang pertemanan, dan pengembangan diri. Bahkan kini olahraga yang masuk dalam kategori konsentrasi cukup populer di masyarakat. Pergeseran ini tidak terlepas dari upaya berbagai rumah billiard di Kota Mataram dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan aman.
Seperti WW Billiard di Jalan Guru Bangkol, Pagesangan yang menjadikan arena ini bebas dari alkohol, perjudian, dan tempat bolos. Bahkan, tempat ini mengadakan turnamen untuk mencari atlet-atlet pada olahraga satu ini. “Kemarin kita adakan Ramadan Cup,” kata Owner WW Billiard Gde Nitya Premananda.
Di ruangan dengan ukuran 15x40 meter persegi itu berjajar 17 meja biliar. Meski pengunjung waktu itu cukup padat suasana tetap adem. Karena dilengkapi AC yang membuat pengunjung nyaman. Nampak pengunjung perempuan begitu tenang menyodok bola di atas meja hijau.
Ia ingin permainan billiard ini masuk menjadi ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah untuk menghilangkan stigma negatif. Karena di Pulau Jawa permainan biliar ini sudah mulai menerapkan bebas asap rokok. “Citra yang lain sudah hilang, asap rokok yang sulit. Sekolah di Jawa juga sudah ada ekskul billiardnya,” ucap Nanda.
Ia siap menampung sekolah yang akan membuka ekskul biliar. Bahkan, pihaknya akan memberikan diskon kepada sekolah jika WW Billiard dijadikan sebagai tempat latihan. “Ada tempat biliar yang membuat aturan tidak boleh merokok, biasanya ada di ruangan VIP. Kalau sudah seperti ini konsepnya benar-benar friendly,” ujar pria 30 tahun ini.
Untuk terus memfamiliarkan permainan biliard ini, WW Billiard mengadakan turnamen. Dalam setahun ia mengadakan turnamen empat kali. Bahkan ia juga memanfaatkan berbagai momen untuk mengadakan turnamen. Seperti Ramadan Cup menjadi turnamen tahunan yang diadakan karena permintaan cukup banyak. “Dalam waktu dekat ini kami juga akan mengadakan turnamen tingkat pelajar,” terang Nanda.
Disamping itu, ia juga ingin mengajak semua rumah biliar di Kota Mataram mendatangkan pemain dunia seperti Efren Reyes. Karena dengan seperti ini akan membumikan permainan bola sodok ini. Efren Reyes bisa mengunjungi rumah-rumah biliar di Kota Mataram. Bisa mengunjungi WW Billiard, besok lagi ke rumah billiard lainnya. “Dari sisi bisnis kita bisa menjual tiket dengan bisa berswafoto dan main bersama pemain dunia ini,” ucap Nanda.
WW Billiard tidak hanya mengadakan turnamen secara pribadi. Namun ia juga mempersilakan para pelatih atau pecinta biliar untuk mengadakan kejuaraan di WW Billiard. “Belum lama ini dari pihak bank mengadakan turnamen di sini (WW Billiard),” tuturnya.
Pengunjung yang datang ke WW Billiard dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, pegawai kantoran, dan pengusaha. Biasanya para pengunjung datang usai melakukan aktivitas atau kerja. “Kalau ada anak yang pakai seragam sekolah ndak kita kasih main. Kita minta pulang dulu untuk ganti baju. Saya ndak mau gara-gara uang Rp 20 ribu kita didatangi Pol PP,” tandasnya. (jay/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post