Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Gde Nitya Premananda Cuan Dari Billiar, Berawal dari Hobi kini Jadi Atlet Profesional di NTB

Redaksi Lombok Post • Senin, 5 Mei 2025 | 06:30 WIB

Gde Nitya Premananda, owner WW Billiard foto di depan plang rumah billiard miliknya di Jalan Guru Bangkol, Pagesangan, Kamis lalu (1/5).
Gde Nitya Premananda, owner WW Billiard foto di depan plang rumah billiard miliknya di Jalan Guru Bangkol, Pagesangan, Kamis lalu (1/5).
NAMA Gde Nitya Premananda tidak asing lagi di sejumlah rumah biliar di Kota Mataram. Ia pemain biliar jalanan yang malang melintang dari rumah biliar kampung hingga ke tengah kota. Bahkan ketika main ia kadang sampai bermalam karena sangat mencintai permainan satu ini.

--------------------

Hobi yang dilakoni Nanda, sapaan karibnya ditentang orang tuanya I Komang Mahendra Gandi-Ni Nyoman Rai Indriyani. Karena waktu itu stigma negatif melekat pada olahraga yang telah mengarumkan namanya pada Porprov 2018 ini.

Memiliki hobi biliar tidak mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Sebagai anak sulung, kedua orang tuanya ingin Nanda menjadi seorang dokter. Karena saat duduk dibangku SMA Nanda dikenal sebagai siswa berprestasi.

Namun apa yang menjadi hobinya ini membuat prestasi akademiknya menurun. Karena tiada hari tanpa main biliar dari satu tempat ke tempat lainnya. “Bahkan sampai nginep di tempat biliar," ujar pria 30 tahun ini.

Lulus SMA, Nanda melanjutkan studi atau kuliah ke Jawa. Alih-alih giat belajar agar bisa bisa wisuda tepat waktu. Namun ia malah tidak pernah masuk kampus hampir satu tahun. Hari-harinya dimanfaatkan main biliard. “Karena ketahuan tidak pernah masuk kuliah saya diminta pulang oleh orang tua dan kuliah di sini (Kota Mataram),” ucapnya.

Awalnya ia tidak ingin melanjutkan kuliah. Ia ingin membuka usaha. Tidak ingin seperti adik-adiknya yang lebih fokus pada sekolah. Namun mau tidak mau ia tidak bisa menolak keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah. Saat kuliah ia membuka usaha sesuai perkembangan zaman. Waktu itu, ia membuka usaha vape store, ikan koi, dan mobil bekas.

"Kalau mobil bekas untungnya besar, tapi lama. Tiga bulan kalau laku,” cetusnya.

Bergaul di lingkungan biliar membuat banyak yang mendorongnya membuka usaha bola sodok. Namun ia tidak langsung mengiyakan. Apalagi kedua orang tuanya tidak mendukung. Perlahan tapi pasti. Ia mencari referensi di Youtube dan internet terkait usaha billiard. “Main billiard saja belajar otodidak, lihat di Youtube,” ucapnya.

Berasal dari keluarga berada, Nanda tidak ujug-ujug diberikan modal oleh orang tuanya dalam membuka usaha biliar. Namun ia dididik bagaimana mengelola keuangan untuk bisa sukses menjadi pengusaha. Saat membuka usaha biliar, ia tidak diberikan uang tunai, melainkan dikasih sertifikat tanah untuk dijaminkan sebagai modal usaha.

"Kalau uang kita dikasih bisa habis langsung, bisa pakai semau-maunya tanpa kontrol,” ujar Nanda.

“Sebaliknya jika kita pinjam uang di bank ada tanggung jawab yang harus kita setor per bulannya," imbuhnya.

Ia menyiapkan Rp 3 miliar untuk membuka usaha biliar. Ia membangun arena biliar dengan konsep agar pengunjung nyaman dan betah. "Dulu ini kebun, pas bangun modal saja yang keluar, ndak ada pemasukan," cetusnya.

Setelah pembangunan gedung rampung,  tahun 2021, tepatnya Desember WW Billiard launching. Awal buka, WW Billiard hanya menyiapkan dua meja karena terkendala modal. "Waktu itu saya juga yang langsung jadi karyawannya. Nyiapin bola dan kasir," ujarnya.

Dalam perjalanan, ia menambah meja. Dari dua meja menjadi tujuh meja. "Tujuh bulan setelah buka baru saya nambah lima meja," ucapnya.

Selang beberapa bulan lagi, ia kembali mendatangkan tiga meja dan saat ini totalnya menjadi 17 meja. "Satu meja harganya sekitar Rp 45 juta sama ongkos kirim,” ucapnya.

Owner WW Billiard Gde Nitya Premananda saat bermain billiard di rumah billiard miliknya di Jalan Guru Bangkol Pagesangan, belum lama ini.
Owner WW Billiard Gde Nitya Premananda saat bermain billiard di rumah billiard miliknya di Jalan Guru Bangkol Pagesangan, belum lama ini.

WW Billiard tidak hanya menyiapkan tempat bermain biliard. Namun juga menjual  berbagai fasilitas permainan bola sodok seperti stik, bola, kapur, dan sarung tangan.

Untuk stik harganya bervariasi, mulai dari harga Rp 2 juta sampai Rp 15 juta. Kapur dibanderol mulai Rp 100 ribu sampai Rp 350 ribu, sarung tangan dari harga Rp 60 ribu sampai Rp 500 ribu.

WW Billiard buka pukul 11.00 Wita sampai pukul 01.00 Wita. Pengunjung yang datang pukul 11.00 Wita sampai pukul 15.00  sewanya Rp 25 ribu per jam. Sedangkan pukul 15.00 Wita hingga pukul 01.00 Wita per jam sewanya Rp 35 ribu. “Ada juga yang Rp 50 ribu per jam,” cetus Nanda.

Pengunjung bisa bermain biliar dengan nyaman. Karena ruangan dilengkapi AC dan berbagai fasilitas lainnya yang membuat pengunjung betah. Bahkan, jika meja full para pengunjung bisa menunggu di kafe sambil memesan berbagai menu makanan dan minuman yang sudah disiapkan. "Kalau lapar tinggal ke kafe," cetusnya.

Setiap pengunjung selesai main, para karyawan akan langsung membersihkan bola, stik, dan meja. Bahkan WW Billiard memiliki empat caddy yang akan menyiapkan bola. "Sekarang ada 17 karyawan di sini, mulai dari kasir hingga caddy," tuturnya.

Ia menargetkan dalam waktu lima tahun akan membuka cabang WW Billiard. Karena hobi yang menjadi usahanya ini cukup menjanjikan. Dalam sebulan ia bisa bisa meraup ratusan juta. "Ini pendapatan kotor ya," ujar Nanda.

Kini ia bisa membuktikan kepada orang tuanya membuka usaha biliar yang menjadi hobinya sejak kecil. Bahkan ia bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. "Intinya dalam usaha kita harus tahu uang keluar dan masuk. Serta pelayanan yang utama," tandasnya. (jay/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#billiar #Biliar #olahraga #Mataram