Dulu hanya sekadar hiburan masa kecil.
Kini, Tamiya kembali menggelinding kencang, bukan di tangan bocah, tapi para pria dewasa yang larut dalam nostalgia dan adu teknik di lintasan mini.
UMAR WIRAHADI, Mataram
Suara deru mesin mini 4WD bersahut-sahutan di Lesehan Green Asri, Sayang-Sayang, Kota Mataram, Senin (19/5).
Mobil-mobil mungil itu melesat di lintasan, melompati rintangan, dan berbelok tajam.
Beberapa terhempas keluar trek, menimbulkan suara "klontang" saat bodi mobil membentur lantai.
Trek berkelok zigzag, tanjakan, turunan, hingga lintasan lompat menjadi tantangan para peserta.
Setiap racer yang mobilnya mampu melibas lintasan hingga garis akhir, tak kuasa menahan sorak.
“Yes, menang,” teriak Tio, peserta asal Jakarta, dengan wajah sumringah.
Mobil milik Tio, jenis Tamiya Mini 4WD Pro Series, mencatat waktu 14,23 detik di lap pertama.
Kecepatan itu membuatnya lolos ke babak selanjutnya.
Di lap kedua, mobilnya kembali sukses melewati lintasan tanpa tergelincir.
Tio dinyatakan sebagai pemenang karena menjadi yang tercepat dan tetap stabil di lintasan.
“Ini luar biasa. Tadi saya setting mobil dengan memperhatikan kekuatan roda dan dinamo. Hasilnya sangat memuaskan,” ujar Tio sembari tersenyum.
Kompetisi ini digelar Lombok Tamiya Community dan diikuti puluhan penghobi Tamiya dari berbagai daerah.
Tak hanya dari Mataram dan kabupaten/kota lain di NTB, sejumlah peserta datang dari Jakarta, Yogyakarta, dan Denpasar.
Para peserta datang dengan membawa Tamiya terbaik mereka, tersimpan rapi dalam kotak Standard Tamiya Box.
Ketua Lombok Tamiya Community Mohammad Fitrayadi mengatakan, tren Tamiya sedang naik daun di Mataram.
Hingga kini, komunitas yang ia pimpin telah memiliki 110 anggota.
“Bahkan ada yang usia 50-an ikut gabung,” kata Fitra, sapaan akrabnya.
Fitra menjelaskan, para penggemar dewasa seperti terlahir kembali.
Mereka pernah bermain Tamiya saat kecil, khususnya era 1990-an hingga awal 2000-an.
Setelah itu, tren Tamiya sempat meredup, meski tidak benar-benar hilang.
Kini, mobil balap mini asal Jepang itu kembali booming.
Komunitas pun tumbuh subur bak jamur di musim hujan.
“Sekarang di grup WhatsApp sudah 110 orang. Jumlahnya terus bertambah,” ujarnya.
Kembalinya tren Tamiya juga mendapat dukungan dari Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Organisasi tersebut kerap memfasilitasi kompetisi-kompetisi Tamiya, bahkan di tingkat nasional.
Daya tarik utama lomba Tamiya terletak pada pengaturan teknis mobil.
Para peserta puas jika mampu melewati rintangan seperti table top, interchange, sloop, hingga double top.
Setiap jenis lintasan memiliki tingkat kesulitan tersendiri.
Banyak mobil terlempar keluar jalur.
“Kunci permainan ini adalah kestabilan dan kecepatan. Percuma cepat tapi tidak stabil,” tutur Kusnandar Saputra, pengurus Lombok Tamiya Community.
Menurut Kusnandar, kecepatan mobil mini 4WD dipengaruhi banyak hal.
Mulai dari dinamo, rasio gear, ban, hingga distribusi bobot.
Dinamo menentukan putaran mesin, gear ratio mengatur transmisi tenaga, sementara ban dan bobot menentukan kestabilan saat melaju.
“Makanya, kunci keberhasilan Tamiya terletak pada setingan dinamo, gear ratio, dan ban,” pungkasnya. (*/r7)
Editor : Kimda Farida