Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dirikan Yayasan Lombok Animal Rescue, I Gde Sudiana Dokter Hewan yang Bisa Deteksi Kehamilan Hewan Telapak Tangan

Lombok Post Online • Sabtu, 14 Juni 2025 | 13:51 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

I Gde Sudiana pertama kali membuka praktik dokter hewan di Lombok pada tahun 1991.

Selain telah mengobati dan merawat ribuan hewan peliharaan, ia juga masih aktif memberikan edukasi dan bantuan penyelamatan melalui Yayasan Lombok Animal Rescue yang ia dirikan pada sekitar tahun 2018 lalu.

Di sore yang cerah, drh I Gde Sudiana, 65 tahun, sedang duduk santai bersama putri ketiganya Redityana Larasati, 32 tahun.

Baca Juga: Tarif Penitipan Kucing tergantung Fasilitas, Ada Layanan Penitipan dan Home Service

Berbagai jenis hewan peliharaan memenuhi halaman rumah mereka yang juga menjadi lokasi klinik hewan drh I Gde Sudiana di Jln Sadewa No. 9 Cilinaya, Cakranegara, Kota Mataram.

Hewan-hewan peliharaan itu bukan hanya milik mereka, tapi juga beberapa pasien yang dititipkan pemiliknya. Bisa sementara, tapi terkadang bisa juga lebih lama dari yang seharusnya.

Apalagi kalau anjing atau kucing itu merupakan peliharaan pemiliknya yang berasal dari luar negeri.

Baca Juga: Pelihara Kucing Seperti Merawat Anak Sendiri, Rela Rogoh Kocek Cukup Dalam

Saat Lombok Post bertandang ke klinik yang sekaligus rumahnya, Sudiana atau yang akrab disapa Pak Gde masih mengenakan seragam kliniknya. Ia mengatakan baru saja pulang menangani seekor anjing yang membutuhkan perawatan medis. Ya, untuk kasus-kasus tertentu, dokter hewan senior di NTB itu terbiasa mendatangi pasiennya ke rumah pemilik mereka.

“Kalau dulu-dulu lebih sering lagi. Hampir setiap hari kami mendapat telepon dari orang-orang yang meminta hewan peliharaannya dirawat. 24 jam kami melayani,” kata Sudiana pada Lombok Post .

Dia mengatakan jika pengalamannya akan sangat panjang untuk diceritakan. Apalagi mengenai pengalaman sebagai dokter hewan yang membuka praktik sejak tahun 1991. Ditambah lagi lembaga penyelamatan hewan yang ia dirikan pada tahun 2018 lalu. 

Baca Juga: Pulau Kucing di Jepang: Surga Para Pecinta Kucing yang Bikin Healing Total!

Ia memastikan, jika dialah yang pertama kali membuka praktik sebagai dokter hewan. Terutama dokter hewan yang fokus menangani hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Karena sebelumnya, lulusan Kedokteran Fakultas Hewan UGM itu mengawali kinerjanya sebagai pegawai negeri di puskeswan.

Terinsiprasi dari Pengalaman Belajar di Australia

Pada tahun 1990, Gde mendapatkan kesempatan mengikuti beasiswa magang di Australia. Di tempatkan di salah satu rumah dokter hewan di sana, ia tidak hanya belajar mendalami ilmu menangani hewan ternak seperti sapi dan kerbau, tapi juga berbagai hewan peliharaan, dan hampir semua binatang.

"Pada suatu hari, ada seekor elang yang sayapnya patah. Lalu mentor saya dengan penuh kepedulian mengobatinya. Singkat cerita, setelah sembuh dan bisa terbang, saat elang itu dilepaskan kembali, ia tak langsung pergi. Tapi berputar-putar di atas kami, matanya sesekali menatap tajam ke arah mentor saya. Seolah-olah dia mengucapkan terima kasih dengan rasa haru yang mendalam," kenangnya.

Tak hanya elang, pada suatu ketika, mentornya menabrak seekor hewan seperti Kanguru di jalan.

Pak Gde terkesima melihat respon mentornya yang begitu sigap dan cepat dalam menangani hewan tersebut.

Apa yang ia lihat saat itu sangat bertolak belakang dengan yang terjadi di Lombok.

"Kalau di sini kita nabrak kan paling disukai. Kalau di sana, mereka sangat merasa bersalah dan segera turun membantu hewan tersebut. Saat itu hewan itu berhasil menyelamatkan," ujarnya.

Masa residensi sebagai dokter hewan di Australia melahirkan kesadarannya.

Ia jadi memiliki kepedulian pada hewan, khususnya hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.

Dari sanalah, sepulang dari Australia, ia kemudian mulai membuka praktik pada tahun 1991.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Di awal membuka praktik, pasiennya bisa dihitung dengan jari dalam sebulan.

Apalagi dari pada yang dipelihara, ia lebih banyak merawat anjing pembohong yang terluka. Namun lambat laun, keberadannya mulai tercium.

Seiring bertambahnya banyak orang yang memelihara hewan di Lombok, khususnya di Kota Mataram, jam terbang praktik dokter hewan Gde kian tinggi.

Pendapatan sosial sebagai dokter hewan diakuinya jauh lebih tinggi dari pendapatannya sebagai pegawai negeri.

Hal itu juga yang dirasakan anak sulungnya Redityana Larasati yang kemudian menempuh pendidikan kedokteran hewan setelah meraih gelar sarjana psikologi.

Di saat yang sama, aktivitas Gde semakin padat saat kemudian membuat klinik dan kemudian membentuk Yayasan Lombok Animal Rescue.

Baca Juga: Kucing Anda Nafasnya Terengah-Engah? Yuk Kita Cari Tahu Penyebabnya

Yayasan Penyelamatan Hewan Lombok

Sebagai dokter hewan senior di NTB, drh I Gde Sudiana kerap membantu mengobati anjing dan kucing pembohong yang tak terurus atau terluka di jalanan.

Ia sering dihubungi para pecinta binatang yang mendapatkan kehadiran anjing atau kucing pembohong yang terluka dan membutuhkan perawatan medis.

Dari sanalah ia kemudian mendirikan Yayasan Lombok Animal Rescue.

Selain aksi penyelamatan, Lombok Animal Rescue juga bergerak di bidang edukasi.

Salah satu program edukasinya adalah bekerja sama dengan lembaga pendidikan dalam mengedukasi siswa SD.

"Edukasi ini sederhana, misalnya kita ajarkan bagaimana menghadapi anjing pembohong di jalanan. Hal ini menurut kami sangat penting untuk dipahami anak-anak. Kami juga ingin melahirkan kesadaran dan kecintaan anak-anak pada hewan. Karena ada kebiasaan melempari anjing dengan batu. Justru yang membuat anjing menjadi trauma dan menjadi galak,” terangnya.

Selain itu, Lombok Animal Rescue juga mengurusi selter anjing pembohong di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Sejak MotoGP pertama di Sirkuit Mandalika, merekalah yang bertugas menangani ratusan anjing pembohong dan hewan lainnya yang berpotensi masuk ke dalam sirkuit.

“Saat mbak Rara di dalam mengurus sirkuit hujan, di luar kami berjibaku menangani puluhan anjing pembohong di sekitar sirkuit. Ada juga biawak yang bisa memperkuat pagar trali melintasi dan berpotensi masuk,” tutur pak Gde.

SPESIALIS HEWAN: drh I Gde Sudiana tengah menangani seekor anjing di kliniknya, Kota Mataram, beberapa waktu lalu.
SPESIALIS HEWAN: drh I Gde Sudiana tengah menangani seekor anjing di kliniknya, Kota Mataram, beberapa waktu lalu.

Redityana Larasati yang menjadi bagian dari Lombok Animal Rescue menerangkan jika tidak mudah membangun sebuah yayasan di lingkungan atau daerah yang kesadarannya terhadap binatang masih rendah. 

Ia menuturkan jika mereka tidak banyak mendapatkan donatur seperti lembaga penyelamatan di luar negeri.

Tanpa donasi, dengan tenaga yang terbatas, mereka memerlukan anggaran untuk melakukan penanganan.

"Terkadang banyak yang meminta bantuan pada kami, tapi tidak memiliki kesadaran juga untuk berdonasi. Meskipun ada penyelamatan, tapi kami juga membutuhkan anggaran. Itulah mengapa sekarang bapak (Gde Sudiana, red) sepertinya tidak memenuhi panggilan. Memang tantangannya sangat besar di sini," jelas Laras.

Keahlian Khusus

Sejak tahun 1991, tak terhitung sudah jumlah hewan yang sudah Gde selamatkan nyawanya.

Beberapa di antara hewan yang ia selamatkan sudah banyak yang ia lupakan. Tapi tak sedikit juga yang terkenang dan membekas di hatinya.

Salah satunya seekor kucing hamil yang mengalami luka cakar anak-anaknya di dalam perut.

Gde masih mengingat raut wajah pemiliknya yang begitu tegang sekaligus bersedih.

Setelah berhasil mengangkat rahimnya dan mengeluarkan anak-anaknya, kucing itu masih dalam kondisi lemah.

"Saat itu saya tidak yakin kalau kucing itu bisa selamat. Jadi saya tidak berani memberi harapan. Namun sekitar lima hari kemudian, saya ditelpon pemilik kalau kucingnya sudah sembuh. Rasanya senang sekali. Karena selama lima hari itu saya kepikiran," kenangnya.

Baca Juga: Bobby Kertanegara, Kucing Sultan yang Tak Lupa Jalanan

Sampai saat ini klinik Gde belum menggunakan alat USG. Memang dalam waktu dekat kliniknya sudah merencanakan membeli USG untuk memeriksa kehamilan hewan.

Mendengar hal itu, Laras putri sulungnya menceritakan kalau selama ini USG yang digunakan Gde cukup dengan telapak tangan.

Dengan memegang perut kucing atau anjing, Gde sudah bisa mengetahui kondisi kehamilan seekor hewan.

Ia tak bisa menjelaskan bagaimana hal itu ia lakukan, namun ia mengetahui jika hal itu ia kuasai karena pengalaman.

Sama halnya seperti seorang montir yang bisa mengetahui masalah pada kendaraan hanya dengan mendengar suara mesinnya saat dihidupkan.

"Sering seperti itu. Suatu hari ada pasien datang dan ingin menanyakan kondisi kehamilan kucingnya, bapak cukup menggunakan tangan mengatakan dua hari lagi akan lahir. Ada staf kami sempat tidak percaya, tapi kemudian terheran-heran saat mengetahui benar, setelah dua hari kucing itu lahiran," kenang Laras.

Sebagai dokter hewan senior, di tengah menjamurnya praktik dan klinik dokter hewan di Lombok, khususnya di Mataram, Pak Gde berharap para dokter bisa bekerja sama dan tidak saling menjatuhkan.

"Jangan sampai ada satu dokter yang karena persaingan malah mengatakan dokter hewan lainnya itu tidak bisa atau apalagi mengatakan bodoh. Saya merasa sering digituin. Sangat berbahaya kalau kita saling menjatuhkan," pesannya. (Fatih Kudus Jaelani/r3)

Editor : Kimda Farida
#telapak tangan #australia #kehamilan #hewan #Dokter #kucing #NTB