Baginya, mental baja seorang entrepreneur ditempa dari berbagai kegagalan. Dia mendirikan toko ponsel dan aksesoris karena awalnya merasa prihatin dengan harga aksesoris HP yang terlalu mahal.
Tommy Sugiarto sudah mencoba berbagai jenis usaha sejak 2012. Ketika itu ia masih kuliah di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur. Sejumlah usaha dilakoninya.
Mulai dari kuliner, jual beli baju, sepatu, jam tangan bekas hingga berbisnis batu akik. "Semuanya tutup dan gagal," kata Tommy Sugiarto kepada Lombok Post, Jumat (24/10).
Namun pengalaman pahit itu tidak membuatnya menyerah. Ia terus berusaha mencari peruntungan. Pada 2012, ia membuka usaha tahu crispy kecil-kecilan dengan gerobak di depan Taman Budaya Mataram.
Tapi tidak bertahan lama, usaha itu tutup. Diganti dengan jualan jagung. Usaha ini lumayan lama bertahan sampai dua tahun. Yaitu 2013 sampai 2014. "Tapi lama-lama orang bosan juga. Akhirnya saya tutup," tuturnya.
Di Malang, ia juga pernah berjualan tahu crispy, jualan baju, sepatu hingga jam tangan. Sasaran pasarnya kebanyakan para mahasiswa. Tapi tidak bertahan lama, usaha demi usaha itu juga berakhir tidak menggembirakan.
"Saya hitung sudah 15 kali saya gagal di dunia usaha. Memang nyoba-nyoba sambil melatih mental jualan," katanya lalu tertawa.
Menurutnya, mencoba berbisnis saat masih kuliah adalah waktu yang tepat. Sebab saat kuliah masih menjadi tanggungan orang tua.
Uang bulanan yang diberikan dari orangtuanya disisihkan sebagian untuk berbisnis kecil-kecilan.
"Kalau sukses tinggal dilanjutkan. Tapi kalau gagal ya coba lagi yang lain sambil melihat peluang," cetusnya.
Nah, barulah ia merasakan mendapatkan momentum yang tepat pada 2017. Saat itu ia baru selesai kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Tren aksesoris HP sedang booming.
Sementara di Mataram maupun di kabupaten/kota di NTB belum banyak toko yang khusus menjual aksesoris.
Adapun yang jual harganya sangat mahal. Bayangkan untuk mengganti pelindung layar HP berupa tempered glass saja harganya sampai Rp 120 ribu.
Padahal di kota-kota di Jawa harganya hanya Rp 20 sampai Rp 30 ribu. Harga kabel charger juga bisa sampai Rp 100 ribu lebih. Padahal modal pembeliannya tidak sampai Rp 20 ribu.
"Saat itu saya merasa miris melihat harga-harga ini. Karena terlalu mahal," tutur Tommy.
Dari situlah ia berfikir untuk mulai membuka toko jual beli aksesoris HP pada 2017. Ia pertama kali membuka usahanya di Jalan Gajah Mada, Jempong. "Waktu itu belum jual HP. Baru aksesoris saja," imbuh ayah satu anak itu.
Bangunan satu lantai itu adalah milik orangtuanya. Awalnya berukuran 4x8 meter. Di situ dulu Tommy berjualan batu akik. Karena pernah dibobol maling dan kurang diminati konsumen akhirnya tutup.
"Sehingga saya mulai buka toko aksesoris HP di Jempong. Jadi itu toko Atlantis yang pertama," tutur Tommy.
Dengan harga aksesoris HP yang terjangkau, ternyata usaha itu laku keras. Karena tren penjualan yang menanjak, ia terus mendatangkan produk-produk baru.
Hingga tempat penyimpanan barang tidak cukup hanya dengan ukuran 4x8 meter. Akhirnya bangunan diperlebar pada 2019. Saat ini luas bangunan toko menjadi 20x8 meter.
Konsumen yang datang tidak hanya mencari aksesoris. Banyak juga yang ingin membeli HP. Sehingga pada 2019 ia memutuskan untuk sekalian menjual HP.
Ia pun mulai melakukan ekspansi bisnis dengan membuka toko kedua di Midang, Gunungsari, Lombok Barat.
Berikutnya, pada 2024 lalu, Tommy kembali membuka cabang baru di di Jalan Panjitilar, Kekalik. Kali ini toko dua lantai itu lebih besar dengan luas 700 meter persegi (m2). Toko HP dan aksesoris itu dilengkapi dengan dengan fasilitas berupa playground bagi anak-anak.
"Di toko ketiga ini kami berinovasi soal layanan. Karena banyak konsumen yang belanja sambil bawa anak. Sehingga anak-anaknya juga kita kasih fasilitas bermain agar tidak merepotkan orangtuanya," papar suami Athira Paramawidita itu.
Setelah delapan tahun berjalan lini usaha Atlantis terus berkembang. Dalam
Tommy bertekad untuk terus melakukan ekspansi bisnis. Dalam waktu dekat, pihaknya membangun cabang lagi di Praya, Lombok Tengah. Di sana, pihaknya sudah membeli lahan 20 area di Jalan Panglima Sudirman, Kota Praya.
"Saya targetkan maksimal dalam dua tahun akan kita buka cabang di Praya," tuturnya.
Ia juga membidik cabang baru di Selong, Lombok Timur. Saat ini pihaknya melakukan survei lahan untuk lokasi pembangunan toko baru.
"Karena ini untuk pengembangan usaha jadi lahan dan bangunan harus aset sendiri. Tidak sewa ke pihak lain," tegasnya.
Salah satu yang paling ditekankan dalam bisnis adalah kedisiplinan. Tommy pun menetapkan secara ketat sistem penilaian secara ketat berupa grade point average (GPA) atau semacam indeks prestasi kumulatif.
Raport penilaian itu diberikan setiap bulan ke para karyawan. "Inilah yang membuat karyawan jadi sangat untuk bekerja. Ini bukan tekanan tapi motivasi untuk bekerja," ujarnya.
Dia juga membangun kedisiplinan ke seluruh tim. Setiap hari, ia rela ngantor hanya untuk memberikan briefing pagi ke para karyawan. Seluruh karyawan dari tiga cabang berkumpul di toko Kekalik, Jalan Panji Tilar.
"Ini semacam bedah buku untuk motivasi mental dan spiritual kader. Sehingga saat mulai bekerja jadi semangat lagi," ujarnya.
Baca Juga: Pembebasan Lahan Kantor Wali Kota Mataram, Toko Atlantis Masuk Tahap Apraisal
Berkat kegigihan seluruh tim, omzet Atlantis kini terus menanjak. Omzet bulanan bisa mencapai miliaran rupiah.
Dalam sebulan, perusahaan mampu menjual antara 3500 sampai 4000 unit HP sebulan. Seiring usaha yang terus menanjak, jumlah karyawan pun sudah sampai 90-an orang.
Selain tim yang solid, ia juga disiplin menyisihkan setiap keuntungan bulanan untuk kebutuhan promosi perusahaan.
Menurutnya, belanja iklan sangat penting untuk kemajuan perusahaan. "Anggap saja ini sebagai investasi perusahaan ke depan," pungkas pria kelahiran 8 April 1992 itu.
Editor : Kimda Farida