LombokPost - Fokus penelitian Achmad Syafiuddin pada pesantren, mulai mendirikan pusat riset sampai mewujudkan hasil studi menjadi produk teknologi air bersih dan pengolah sampah.
Baginya, meriset dan mempublikasikan karya adalah bentuk pertanggungjawaban untuk menyebarkan pengetahuan.
Kolaborasi dengan Institusi Luar Negeri Jadi Aspek Penting.
DARI konsistensinya meneliti, Achmad Syafiuddin telah menulis 124 publikasi ilmiah terindeks Scopus dengan H-Index 30.
Bagi dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) itu, meriset dan mempublikasikan hasil karya adalah bentuk pertanggungjawaban untuk menyebarkan pengetahuan.
Buah kegigihan pria 37 tahun itu, namanya masuk daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia yang dirilis Stanford University bekerja sama dengan Elsevier BV pada September 2025 lalu. Sudah lima tahun terakhir secara beruntun dia berhasil menorehkan prestasi tersebut.
Dari 209 periset asal Indonesia yang masuk daftar tahun ini, dosen di program studi (prodi) Kesehatan Masyarakat itu menempati peringkat 17.
“Sebenarnya tidak pernah punya target jumlah harus meneliti dan terbit berapa jurnal tiap tahun,” ucapnya.
Konsistensinya yang lain ada pada fokus risetnya: pesantren. “Pesantren ini kelompok masyarakat yang kami sebut sebagai traditional community (komunitas tradisional).
Biasanya memiliki keterbatasan seperti dana dan ilmu pengetahuan umum sehingga selalu memiliki tantangan,” ucapnya.
Lahir dan besar di Madura dari ibu seorang penjual jamu, dunia pesantren sangat dekat dengannya. Harapnya, penelitian di lingkungan pesantren juga bakal berdampak pada komunitas tradisional lain.
Manfaatkan Batang Pohon Pisang
Dua penelitian terbarunya berfokus pada penggunaan bagian tanaman sebagai media biofilter untuk air. Salah satunya batang pohon pisang.
“Penggunaan bahan-bahan alamiah menekan biaya untuk pengelolaan air. Di sisi lain, keterbatasan air bersih selalu menjadi isu penting di negara dunia berkembang,” jawab ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unusa itu.
Syafiuddin pun mewujudkan penelitiannya menjadi produk. Teknologi UNUSA-Water yang ia hasilkan telah terpasang di 10 provinsi di Indonesia. Semuanya telah menyediakan air bersih bagi 115.966 jiwa di pesantren dan masyarakat sekitarnya.
Ia juga mendirikan Center for Environmental Health of Pesantren di Unusa, menjadikan lembaga tersebut pusat riset pertama dan satu-satunya di Indonesia yang fokus pada masalah kesehatan lingkungan pesantren. Kerja sama dengan NUS Singapore tengah dijalankan untuk mengembangkan bahan alami bagi pemurnian air.
Tidak hanya perihal air, Syafiuddin juga memperhatikan pengelolaan sampah di pesantren. Dari sana, ia menghasilkan UNUSA-Incinerator untuk mengolah sampah hingga menyisakan seminimal mungkin limbah.
Alat pengolah sampah tersebut tak menghasilkan asap dan berbasis water spraying serta filtrasi. “Sekarang sudah dipasang di tiga provinsi di Indonesia dengan dampak yang dirasakan sekitar 43.200 orang,” katanya.
Kolaborasi dengan Institusi Luar Negeri
Meski fokus pada pesantren, kolaborasi dengan institusi luar negeri tetap menjadi aspek penting bagi Syafiuddin. “Kami dari kampus kecil dan baru di Surabaya juga perlu membuktikan diri,” tuturnya.
Sebagai dosen dan peneliti, ia berupaya membuktikan konsistensinya. Kini ia menjadi Adjunct Professor di Saveetha Institute of Medical and Technical Sciences, India. “Institusi luar negeri bukan hanya lihat lembaga, tetapi juga lihat sosok, jadi harus bisa membuktikan,” ucapnya.
Sejak 2021, ia perlahan membuat kebijakan untuk mendorong tumbuhnya budaya akademik di kampus tempatnya mengajar. Misalnya, dia sendiri yang melatih seluruh dosen Unusa untuk menyiapkan proposal yang baik pada tahun 2021 dan bagaimana membangun jaringan dengan mitra internasional.
Syafiuddin juga pernah membuat kebijakan di LPPM memberikan hibah internasional bagi dosen secara bergantian. Jadi, pengajar di masing-masing prodi berhak menjalankan penelitian di kampus mitra luar negeri.
“Kami tiap tahun konsisten memberikan hibah internasional pada kurang lebih 20–30 dosen Unusa,” tuturnya.
Harapannya, 10 tahun lagi tidak ada dosen Unusa yang tidak memiliki mitra di luar negeri. “Dan, bisa melakukan penelitian bersama,” katanya. (RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida