LombokPost - Pengelolaan sampah Masjid Baitul Makmur, Kabupaten Bekasi, banyak ditiru dan kini punya 90 masjid-musala binaan. Gerakan tersebut melahirkan pula Taman Ecoedupark, tempat anak-anak belajar hidroponik, para remaja memanen ikan, dan para orang tua bicara kompos.
DI hadapan Masjid Baitul Makmur, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, stigma bahwa sampah adalah masalah seketika runtuh.
Di tangan para jamaah dan pengelola masjid tersebut, sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini berubah menjadi sedekah.
“Sedekah tidak harus dengan uang atau harta,” ujar Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Makmur Muhammad Suhapli kepada Radar Bekasi yang menemuinya Selasa (18/11) pekan lalu. “Bahkan dengan sampah sekalipun kita bisa bersedekah,” sambungnya.
Tak jauh dari pelataran masjid yang berada di Perumahan Telaga Sakinah, Desa Telagamurni, itu berdiri kotak amal tak biasa. Kotak yang bersih, rapi, dan didesain menarik untuk menampung botol plastik, kardus, kertas, hingga barang bekas bernilai ekonomi.
Setiap hari, jamaah datang membawa kantong kecil berisi sampah terpilah. Ada yang membawa plastik dapur, kardus belanja, bahkan sesekali barang elektronik tua. Semua diletakkan dengan kesadaran bahwa dari sampah itu dapat mengalir manfaat.
Menurut Suhapli, ide sedekah sampah muncul dari keprihatinan terhadap Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) yang kian overload. “Kami ini pegiat lingkungan, penggiat bank sampah. Kami prihatin melihat TPA yang sudah penuh. Mindset masyarakat harus berubah dan perubahan itu bisa dimulai dari masjid,” ujarnya.
Pada awalnya, para pengurus hanya menempatkan beberapa kotak sampah sedekah di halaman masjid dan mengumumkannya kepada jamaah. Tak disangka, antusiasme warga meledak.
Tahap awal, sampah-sampah bernilai ekonomis dari kantor pun dibawa ke masjid. Gerakan ini selaras dengan visi eco-masjid yang diusung Baitul Makmur sebagai masjid ramah lingkungan yang bijak mengelola sampah, air, dan energi.
Dan, visi itu tak berhenti sebagai slogan. Baitul Makmur mengelola semuanya. Dari air wudu sampai sampah rumah tangga. Upaya itu pula yang membuat masjid ini pernah menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup atas kontribusinya dalam pelestarian lingkungan.
Bagian Perilaku Beragama. Gerakan sedekah sampah di Baitul Makmur juga menjadi implementasi Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Suhapli menyebut bahwa program GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) bertujuan menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari perilaku beragama.
Gerakan yang berawal pada 2019 itu kini berkembang pesat. Tak hanya plastik, kini masjid membuka pula sedekah minyak jelantah dan pakaian layak pakai.
Minyak jelantah dijual ke perusahaan yang mengekspornya ke Jerman untuk diolah menjadi biodiesel, dengan harga mencapai Rp 6.500 per liter. Sementara pakaian layak pakai dijual kepada warga dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 10.000.
Pendapatan dari seluruh program cukup besar. Pada masa awal, masjid bisa mengumpulkan hingga Rp 25–30 juta per bulan dari sedekah sampah. Uang tersebut digunakan untuk membiayai pengajian sebanyak 350 anak.
“Tahun-tahun awal kami kewalahan,” kata Suhapli.
Masjid penuh dengan tumpukan sampah bernilai ekonomi. Banyak warga bahkan membawa televisi, komputer, hingga kendaraan tua. Namun, seiring program ini kian dikenal luas, banyak masjid dan RT/RW lain mulai meniru gerakan yang mereka lakukan.
Kini setidaknya 90 masjid dan musala menjadi binaan Baitul Makmur. Suhapli menyebut bahwa pendapatan sedekah sampah kini tinggal menjadi Rp 5–6 juta per bulan, sebab banyak masyarakat kini sudah menyetorkan sampah ke masjid-masjid di lingkungan masing-masing.
“Bagi saya ini bukan menurun, tapi berarti gerakan ini menyebar dan memang itu tujuannya,” tambah pria yang menjabat sebagai Ketua Forum Bank Sampah Kabupaten Bekasi itu.
Selain sedekah sampah, masjid juga menciptakan inovasi ramah air. Keran wudu disetel kecil agar tidak boros. Pada awalnya, banyak jamaah protes. Namun, setelah dijelaskan makna ibadah di balik penghematan, mereka memahami.
Air bekas wudu pun dialirkan ke toren, lalu dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan kompos. Masjid membangun sumur biopori, menanam pepohonan rimbun, dan membuat danau kecil untuk menjaga debit air tanah. “Waktu kemarau kemarin, kami tidak mengalami kekeringan,” ujar Suhapli.
Dari upaya pelestarian itulah lahir Taman Ecoedupark, ruang belajar terbuka seluas 2.250 meter persegi. Anak-anak belajar hidroponik, remaja memanen ikan, orang tua berbincang soal kompos. Pengunjung dari sekolah-sekolah datang untuk belajar tanpa dipungut biaya.
“Kalau ada yang memberi infak, kami terima. Tapi, pada dasarnya ini tempat belajar bersama,” kata Suhapli. (Karsim Pratama, Kabupaten Bekasi/ttg/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji