Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lima Hari Hamdani Bertahan dalam Boks Truk Kontainer Menerabas Banjir dari Aceh ke Sumut  

Lombok Post Online • Jumat, 12 Desember 2025 | 18:05 WIB

 

PENUH PERJUANGAN: Hamdani di dalam boks truk kontainer yang membawanya ke Medan.
PENUH PERJUANGAN: Hamdani di dalam boks truk kontainer yang membawanya ke Medan.
 

LombokPost - Berdesakan bersama puluhan penumpang lain di dalam kontainer truk pengangkut paket, Hamdani berjibaku melawan kepengapan dan keletihan, stok makanan dan minuman yang habis, serta jalanan yang dikepung air dan pohon tumbang.

SATU garis sinyal di ponsel itu sudah cukup menjadi suntikan semangat bagi Hamdani.

Setelah tujuh hari dan enam malam di perjalanan yang sangat berat menembus banjir yang menerjang Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh, dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pembangunan Panca Budi, Medan, itu akhirnya bisa berkabar ke keluarga.

“1 Desember pukul 23.00 WIB, kaki ini akhirnya berhasil menapak kering di tanah Medan setelah sebelumnya bergumul dengan air lumpur siang-malam,” ujarnya kepada Sumut Pos Grup Jawa Pos yang menemuinya di Medan, Senin (9/12) pekan lalu.

Semua yang dilalui Hamdani selama perjalanan traumatik itu sungguh tak terbayangkan saat pada Selasa (25/11) dua pekan lalu saat hendak naik bus dari pool di Jalan Gagak Hitam Ringroad Medan. Meski keraguan sempat terbersit karena ibu kota Sumut itu sudah diguyur gerimis dan seorang kawan mengingatkan agar berhati-hati karena cuaca ekstrem.

Beberapa tahun belakangan, Hamdani memang rutin melintasi rute Medan–Banda Aceh untuk mengikuti perkuliahan di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Dia tengah mempersiapkan disertasi untuk syarat meraih gelar doktor. Keberangkatannya malam itu juga dalam rangka mengikuti seminar di program studinya yang dijadwalkan keesokan harinya.

Hamdani bersama seorang rekannya yang juga dosen di kampus yang sama malam itu. Sebelum bus melaju, ia sempat membeli bolu kukus yang dimaksudkan untuk oleh-oleh ke Banda Aceh. Dan, bolu itulah yang turut membantu mengganjal laparnya bersama penumpang lain kala terjebak berhari-hari di dalam kontainer truk.

Pohon-Pohon Bertumbangan

Di beberapa titik sebelum memasuki Kota Langsa, Aceh, pohon-pohon bertumbangan menutup badan jalan. Namun, bus masih bisa melaluinya.

Sampai kemudian pada Rabu (26/12) pagi sekitar pukul 09.00, air mulai tinggi ketika bus sudah memasuki Kota Langsa. Di sinilah mereka mulai terjebak. “Posisi lagi di Langsa, sudah 17 jam terjebak banjir,” ujarnya saat mengirim WhatsApp ke keluarga.

Itulah pesan terakhir yang bisa dia kirim sebelum kemudian hilang kontak selama berhari-hari. Karena debit air terus naik, bus bertahan di Terminal Kota Langsa. Besok paginya, Hamdani dan sejumlah penumpang lain memutuskan mencari bus lain yang balik ke arah Medan.

“Kebetulan ada truk boks kontainer pengangkut paket barang online melintas menuju Medan. Kami pun menumpang di dalam boks kontainer itu. Di dalamnya sudah ada sejumlah penumpang,” ujarnya.

Memasuki Aceh Tamiang yang dikepung air setinggi tiga–empat meter, Hamdani mendapati semuanya porak-poranda. Rumah-rumah dan kendaraan hanyut. Jenazah tergeletak. Gelap, listrik mati. Sinyal pun hilang.

Ada sekitar 30 orang di dalam kontainer. Sopir dan penumpang berjibaku agar truk bisa menerobos banjir. Ada yang bertugas mengecek genangan air, ada yang menyingkirkan dahan-dahan pepohonan dan tiang-tiang telepon yang tumbang.

“Jika tidak aman, kami bertahan kadang sampai bermalam, begitulah seterusnya. Bersyukur sopirnya lihai dan berani. Sesekali kami memekik keras saat truk oleng ke kiri–kanan,” kenangnya.

Masak dengan Air Keruh

Ancaman lain datang: stok makanan dan minuman habis. Beruntung, di satu tempat di Tualang Cut, masih di Aceh Tamiang, mereka mendapati kedai yang buka dan masih menyimpan beras tersisa.

Mereka hanya bisa membeli 5 kilogram. Kebetulan ada warga berbaik hati meminjamkan peralatan. “Kami ambil air dari musala, tapi airnya keruh, bercampur lumpur. Kami coba saring pakai kain jilbab, tetap kuning. Apa boleh buat, kami pakai saja untuk masak dan minum,” ujarnya.

Bolu yang dia beli sebelum berangkat turut membantu mengganjal perut. Minum juga sekadarnya. “Kadang ketemu SPBU kami tampung air yang untuk isi radiator. Kadang untuk membasahi tenggorokan terpaksa minum air campur lumpur,” katanya.

Karena tak kuasa menahan letih dan jenuh, di sekitar lokasi gardu induk PLN Tualang Cut, beberapa penumpang memilih keluar dari truk. Sebanyak 10 orang turun, lima di antaranya wanita atau ibu-ibu. Ada yang sambil menggendong anak balita, ada pula seorang ibu yang usianya sekitar 60 tahun.

Mereka mencoba mencari alternatif lain untuk bisa melanjutkan perjalanan. “Kepada saya mereka berpesan, siapa pun yang terakhir turun dari truk ini, tolong titip tas kami ini ke keluarga kami. Siapa tahu kami tidak bisa kembali,” kenang Hamdani dengan mata basah.

Beruntung, di dalam rombongan ada dua pemuda, Salman dan Imam, yang kemudian oleh rombongan dipanggil duo Cianjur. Mereka dua sahabat yang sudah menempuh perjalanan panjang satu bulan dari Bandung, Jawa Barat, menuju Banda Aceh untuk berziarah ke makam Syiah Kuala dengan menumpang berbagai truk.

Keduanya, kata Hamdani, berperan aktif sebagai kernet truk. Menembus derasnya arus banjir demi memastikan truk aman untuk melaju. Dan selama perjalanan, duo Cianjur itu duduk di atap.

Hamdani bersyukur semua yang ada di truk akhirnya bisa menggapai Medan meski dengan tertatih-tatih. Dia juga lega setelah mendengar rombongan ibu-ibu yang turun di tengah jalan di Aceh Tamiang tadi selamat melalui jalur laut dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang, ke Pangkalan Susu, Langkat, Sumut.

“Pengalaman yang traumatik, tapi kami mendapat pelajaran tentang ikhtiar, tentang makna perjuangan, tawakal, sabar, dan syukur. Juga, tentang kemanusiaan, empati, dan kebersamaan,” katanya. (ASIH ASTUTI, Medan/ttg/JPG/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#air #paket #sumatera utara #Pohon Tumbang #Medan