LombokPost - Gaji pertamanya hanya Rp 150 ribu. Tapi, dia tak pernah mengeluh. Pengabdian selama 17 tahun itu kini berbuah manis. Dia akhirnya menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
LETUSAN konfeti menyambut Abdurrahman di garis finis di SDN 3 Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Minggu (28/12). Dur --sapaan Abdurrahman -- disambut dengan sangat meriah. Begitu tiba di sekolahnya sekitar pukul 17.37 WIB, Dur yang masih bermandi peluh dipeluk oleh sejumlah warga. Termasuk kepala sekolah tempatnya mengabdi, Puguh Hartono.
Sejumlah siswa, paguyuban wali murid, hingga warga di lingkungan sekolah berebut menyalami pria 45 tahun itu. Dur disambut bagaikan Eliud Kipchoge, pelari asal Kenya, saat memenangkan Berlin Marathon 2022.
Sore itu Dur baru saja menuntaskan nazarnya. Dia memang bernazar akan lari sejauh 52 km setelah menerima SK PPPK Paro Waktu dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Dur menempuh rute dari GOR Tawang Alun, Kecamatan Giri, sampai ke rumah dinas (rumdin) SDN 3 Sepanjang, Kecamatan Glenmore. Aksinya itu dengan cepat viral di media sosial. Banyak yang bersimpati.
Selalu Bekerja tanpa Pamrih
Menyebut Dur sebagai seorang panutan tentu tidak berlebihan. Sejak awal berprofesi sebagai penjaga sekolah, Dur mengaku meniatkan pekerjaannya sebagai ibadah. Karena itu, dia selalu bekerja dengan tulus. Padahal, gaji pertamanya pada 2008 hanya Rp 150 ribu sebulan. ''Kalau ditanya cukup atau tidak, tentu tidak cukup," kata Dur. Sebab, Dur muda harus membiayai kakak perempuannya, seorang janda dengan satu anak.
Bayarannya kala itu bahkan lebih kecil dibanding pekerjaan pertamanya sebagai buruh potong ayam di Bali. "Sebelum di sini, saya kerja di Bali. Tepatnya di Pasar Badung, pulang ke Banyuwangi tahun 2007 lalu," terangnya.
Dur memang pekerja keras. Di usia 17 tahun pada 1997, ia sudah merantau ke Bali. Bukan hanya untuk bekerja, Dur melanjutkan sekolah. "Setelas lulus SMP, saya berangkat ke Bali. Saya lanjut sekolah di SMKN 1 Denpasar. Sekolah sambil bekerja," cetusnya.
Dur lahir dari keluarga kurang mampu di Dusun Sepanjang Kulon, Desa Sepanjang. Untuk bisa bersekolah, ia harus mencari biaya dan uang saku sendiri. Kondisi itu membentuk Dur menjadi orang yang terbiasa hidup sederhana. "Sejak awal diajak masuk sini (sebagai penjaga sekolah) saya langsung mau. Niat awal saya mengabdi untuk negara. Berapapun gajinya saya terima," tandasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus pintar-pintar mencari tambahan pemasukan. Setelah bersih-bersih sekolah, ia biasa bekerja sebagai teknisi listrik. "Sempat juga jadi buruh cari rumput untuk kambing milik orang," kenangnya.
Beruntung, pemasukannya lambat laun meningkat. Ditambah insentif dari Pemkab Banyuwangi kepada tenaga honorer, Dur mengaku bisa bernapas lebih panjang. "Gaji dari sekolah sekarang sekitar Rp 500 ribu, kalau ditambah insentif dari pemkab, mungkin hampir Rp 2 juta. Uang itu saya bagi dengan mbak," ungkapnya.
Setelah berstatus sebagai PPPK Paro Waktu, gaji pria kelahiran 14 Maret 1980 tersebut akan naik. Meski begitu, dia mengaku sedikitpun tidak memikirkan soal penambahan gaji. Baginya, SK itu jadi bukti kinerjanya diakui negara. "Untuk gaji, saya tidak pikirkan, diakui seperti ini saya sudah sangat bangga. Kalaupun ada penambahan gaji, tentu semakin bersyukur," katanya.
Rasa syukur dan bangganya itu pula yang menjadi pendorong utama untuk menuntaskan nazar berlari sejauh 52 km. "Di dalam pikiran saya, harus sampai, harus sampai, saya pasti bisa," katanya.
Hobi Lari Sejak Kecil
Dur memang dekat dengan dunia atletik. Sejak bersekolah di SDN 2 Sepanjang, ia kerap mewakili sekolah di perlombaan atletik. "Dulu sering terpilih mewakili sekolah di Porseni. Saat SMA juga sering ikut lomba. Hobi lari bertahan sampai sekarang ini," katanya. Dur lantas menunjukkan medali larinya yang disimpan di ruang tamu.
Berbeda dengan pelari kebanyakan, ia tidak fokus pada alat-alat canggih. Dur tidak punya smartwatch yang bisa merekam berapa pace, detak jantung, SpO2, kualitas tidur, hingga GPS akurat. "Saya punya jam yang talinya sudah putus. Cuma bisa dibuat lihat berapa lama saya lari dan berapa jauhnya saja. Kalau yang canggih harganya mahal, lebih baik dipakai untuk memenuhi kebutuhan harian," katanya.
Padahal, berlari sejauh itu tentu bukan hal mudah. Selain terik matahari, tantangan terbesar Dur adalah kontur jalan yang menanjak. Terutama di Desa Gambor, Kecamatan Singojuruh. "Kalau napas saya kuat. Tapi mulai Gambor hingga ke sini (Glenmore) banyak sekali tanjakannya. Ditambah panas matahari dan pakaian saya lengan panjang, jadi overheat," katanya.
Dur mengaku tidak bisa menghitung berapa kali ia berhenti untuk beristirahat. Yang pasti, sejak sampai di wilayah Kecamatan Genteng, kedua kakinya sering kram. "Mulai dari Genteng itu sudah sering kram. Harus berhenti, karena kalau dipaksa, justru nanti tidak bisa dibuat lari lagi," katanya.
Untungnya, Dur punya banyak teman satu komunitas. Meskipun tidak woro-woro akan berlari sejauh itu, rekannya di Komunitas Glenmore Runners mengetahui aksi nekat Dur. "Teman-teman ngawal saya, sampai SPBU Desa Setail saya istirahat lumayan lama, di sana kaki saya dipijat karena sudah berat," terangnya.
Saat sampai di perbatasan Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, dan Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Dur kewalahan. Karena tidak mempersiapkan kotak P3K, ia meminta rekannya membelikan tisu magic. "Tisu magic biasa dipakai untuk kompres kaki yang sakit. Sifatnya kan membuat mati rasa sementara. Setelah pakai itu langsung bisa dibuat lari lagi," tandasnya.
Meski mengaku sudah bernazar sejak lama, Dur menyebut persiapannya kurang. Bahkan, ia mengaku tidak sarapan sebelum berangkat ke seremoni penyerahan SK PPPK tersebut. Ia baru makan saat sampai di rumah.
Di usia yang menginjak 45 tahun, Dur memang selaiknya Atlas. Daya tahan tubuhnya sama seperti tokoh mitologi Yunani yang dihukum Zeus memikul bola langit itu. Betapa tidak, setelah menuntaskan berlari sejauh 52 km, sehari kemudian (29/12) ia kembali berlari sejauh 7 km. "Semalam kaki memang lumayan pegal. Untuk buang air kecil kesulitan. Tapi paginya sudah bisa buat lari lagi," pungkasnya. (SALIS ALI MUHYIDIN, Banyuwangi/oni/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida