Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Retak Tulang Dada Akibat Tendangan Brutal di Laga Liga 4 Jatim, Musim Firman Nugraha Berakhir

Lombok Post Online • Rabu, 7 Januari 2026 | 12:55 WIB
MENEPI SEBULAN: Firman Nugraha (kanan) saat membela Perseta 1970 melawan Putra Jaya Pasuruan di Stadion Gelora Bangkalan (5/1).
MENEPI SEBULAN: Firman Nugraha (kanan) saat membela Perseta 1970 melawan Putra Jaya Pasuruan di Stadion Gelora Bangkalan (5/1).

LombokPost - Pemain Putra Jaya Pasuruan Muhammad Hilmi Gimnastiar memang sudah meminta maaf, tapi penggawa Perseta 1970 Firman Nugraha mengaku belum puas dan merasa seharusnya ada ganti rugi. Kepada Komdis PSSI Jatim, Hilmi mengaku terprovokasi.

Namun, Firman menyebut tidak ada kontak langsung atau adu mulut di antara mereka sepanjang laga.

TENDANGAN brutal pemain Putra Jaya Pasuruan Muhammad Hilmi Gimnastiar ke dada Firman Nugraha “resmi” mengakhiri kiprahnya musim ini. Sebab, dari hasil MRI (magnetic resonance imaging), pemain Perseta 1970 itu mengalami retak di tulang dada sebelah kiri.
Retaknya kurang lebih berukuran satu helai rambut.

“Masih nyeri rasanya,” kata Firman saat dihubungi Jawa Pos Selasa (6/1).
Insiden itu terjadi pada menit ke-72 dalam laga Liga 4 Piala Gubernur Jatim di Stadion Gelora Bangkalan Senin (5/1) sore lalu. Seperti terlihat di video PSSI Jatim, Hilmi langsung melompat dan kaki kanannya menerjang dada saat mengejar bola ke arah Firman.

Hilmi dikartu merah oleh wasit. Sedangkan Firman sempat pingsan di lapangan, kemudian sadar. Saking kerasnya tendangan itu, ada bekas pul sepatu Hilmi di dada Firman.

Saat tiba di hotel, Firman mengaku sesak napas dan kesulitan menelan sehingga dibawa ke RSUD Bangkalan.
Firman pun kini harus beristirahat kurang lebih sebulan.

Artinya, dia tidak bisa bertanding lagi bersama Perseta 1970 dalam lanjutan Babak 32 Besar Liga 4 Piala Gubernur Jatim.

Meskipun Hilmi sudah meminta maaf secara langsung setelah pertandingan, dipecat dari klubnya, dan dijatuhi sanksi berat oleh Komdis PSSI Jatim, Firman belum puas. “Saya tidak puas karena dia (Hilmi) minta maafnya hanya begitu, sedangkan saya ada keretakan di dada dan harus istirahat satu bulan,” terangnya.

Pemain berusia 33 tahun itu merasa permintaan maaf saja tidak cukup. Harus ada ganti rugi secara materi yang diberikan Hilmi kepadanya. Firman secara tegas menyebut nominal Rp 10 juta. “Ya segitu, karena saya sudah tidak bisa bermain lagi,” ujarnya.

Firman saat ini masih mencari kontak Hilmi. Dia ingin berkomunikasi langsung dan meminta pertanggungjawaban kepada yang bersangkutan.


Atas kebrutalan yang dilakukannya, Putra Jaya Pasuruan memang langsung memecat Hilmi.

Baca Juga: Igor Thiago Menggila! Selangkah Lagi Pecahkan Rekor Brasil di Liga Inggris

“Karena tindakannya tidak sesuai dengan asas sepak bola yang fair play dan menyalahi koridor aturan sepak bola dengan melakukan tindakan kasar kepada lawan,” terang Ketua Harian Putra Jaya Pasuruan Gaung Andaka Ranggi.

Namun, Sekretaris Perseta 1970 Wiwik Sulistiani merasa pemecatan saja tidak cukup. Sebab, pemainnya mengalami cedera serius.

“Harus ada hukuman dan sanksi dari PSSI. Pemain dan klubnya harus dapat sanksi,” katanya.

Cederai Sportivitas

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Jatim akhirnya resmi menghukum Hilmi dengan denda Rp 2,5 juta dan larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup.

Ketua Komdis PSSI Jatim Samiadji Makin Rahmat menuturkan, Hilmi terbukti melanggar Kode Disiplin PSSI, tepatnya Pasal 49.

“Plus ada sanksi tambahan berdasarkan Pasal 78 karena tindakan Saudara Hilmi mengakibatkan luka permanen atas Saudara Firman,” ujarnya.

Makin menambahkan, pihaknya sudah berbicara langsung dengan Hilmi dan bertanya apa penyebab dia melepaskan tendangan brutal ke Firman.

“Yang bersangkutan menjelaskan, dia terprovokasi oleh Saudara Firman,” ungkapnya.

Namun, tambah Makin, meski terprovokasi, tindakan yang dilakukan Hilmi tetap keterlaluan dan mencederai asas sportivitas dalam sepak bola.

“Hukuman berat yang kami berikan juga sebagai efek jera dan pengingat,” katanya.
Makin juga mempersilakan Hilmi mengajukan banding. Pihaknya membuka kesempatan banding karena melihat yang bersangkutan tidak memiliki mata pencaharian lain di luar sepak bola.

Tak Ada Adu Mulut

Firman membantah tudingan provokasi. Dia menyebut, sepanjang laga yang dimenangi Perseta 7-2 itu tidak pernah ada kontak langsung dengan Hilmi di lapangan.

Keduanya juga tidak terlibat adu mulut.

“Tidak ada masalah apa pun. Saya juga tidak pernah ada niat mencederai dia. Mungkin karena tensi pertandingan tinggi,” paparnya.

Karena itu, pemain berposisi bek yang musim lalu bergabung dengan Perspa Pacitan tersebut heran mengapa Hilmi sampai hati melakukan tendangan brutal kepadanya.

“Itu berarti dia tidak respek terhadap sesama pemain,” ucap pria asal Kediri tersebut. (FARID S. MAULANA, Surabaya/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#Laga #sepak bola #jatim #liga #RSUD