Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Roasting Menyambut Penahbisan Zainal Arifin Mochtar sebagai Guru Besar UGM, Denny Indrayana “Memprediksi” Uceng Bersaing dengan Jan Ethes di 2034

Lombok Post Online • Selasa, 27 Januari 2026 | 12:52 WIB
SANG PROFESOR: Zainal Arifin Mochtar mendengarkan roasting terhadap dirinya di Sleman (14/1). - Features (boks) (Jawa Pos)
SANG PROFESOR: Zainal Arifin Mochtar mendengarkan roasting terhadap dirinya di Sleman (14/1). - Features (boks) (Jawa Pos)

LombokPost - Kawan-kawannya dari lintas bidang bergantian me-roasting Zainal Arifin Mochtar sebagai sosok yang layak diteror, intel Solo, dan calon presiden.

Ada pula yang memintanya memilih tanpa boleh berargumen: Bahlil atau Pigai, Ganjar atau Anies, hingga Prabowo atau Jokowi.

MENURUT Eko Prasetyo, teror telepon kepada Zainal Arifin Mochtar beberapa waktu lalu itu sebenarnya bukan karena pernyataan atau aktivitasnya. Tapi, semata karena telah membuat banyak orang cemburu.

“Sudah tampan, saleh, guru besar lagi. Ya, gimana mau nggak diteror,” kata Pendiri Social Movement Institute (SMI) itu saat jadi salah seorang tukang roasting dalam acara “Roasting Zainal, Bukan Guru Besar Biasa” pada Rabu (14/1).

Gelaran di Kancane Coffee & Tea Bar, Ngaglik, Sleman, DI Jogjakarta itu merupakan cara kawan-kawan dekat Uceng sapaan akrab Zainal Arifin Mochtar merayakan penahbisan fans AC Milan tersebut sebagai guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Roasting merupakan salah satu teknik dlam stand up comedy di mana pe-roasting akan “memblejeti” subjek yang di-roasting.

Pengukuhan Uceng sebagai guru besar berlangsung Kamis (15/1). Pakar hukum tata negara itu membawakan pidato berjudul “Konservatisme yang Menguat dan Independensi Lembaga Negara yang Melemah: Mencari Relasi dan Mendedah Jalan Perbaikan.”

Tapi, sebelum menyampaikan orasi kritis itu, dia sudah lebih dulu “dikritik.” Eko mempertanyakan kapabilitasnya sebagai guru besar di kampus yang untuk mengeluarkan ijazah saja dipertanyakan.

Meski demikian, dia menyebut bahwa Uceng adalah sosok dengan jaringan yang luar biasa. Mulai dari kapolri, menteri, hingga Jokowi.

"Jadi, kalau terjadi kerusakan demokrasi, dia pasti berperan," katanya, disambut tawa oleh para penonton.

Puthut EA, sastrawan sekaligus bos Mojok, memilih me-roasting dengan mengajukan sederet pertanyaan dengan pilihan ganda. Uceng harus memilih, tanpa boleh menyertakan argumen.

Masalahnya, pertanyaan-pertanyaannya “ngeri-ngeri sedap”: memilih jadi menteri atau DPR, Ganjar atau Anies, Prabowo atau Jokowi, hingga Bahlil atau Pigai.

“Pertanyaan-pertanyaan ini berhasil membongkar segala-galanya mengenai niat tersembunyi Mas Uceng,” kata Puthut, yang juga disambut gelak tawa penonton.

Tukang roasting lainnya, Denny Indrayana, menyebut Uceng sebagai manusia absurd. Sebab, selain membintangi film “Dirty Vote”, dia juga aktivis, dosen, sekaligus pelari. Ibaratnya, kata Denny, Uceng bisa jadi umat NU, Muhammadiyah, sampai Syiah.

Karena keserbabisaan itu, mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia itu menyimpulkan kalau Uceng adalah intel. "Menurut keyakinan saya, dia ini telo. Intel Solo," katanya.

Denny bahkan menyebut, Uceng berpeluang dalam gelaran Pilpres 2034 bersama dengan Jan Ethes. Asumsi itu turut dikuatkan oleh Dandhy Dwi Laksono. Dia menyebut, jabatan menteri terlalu kecil bagi Uceng.

"Semua sama dia itu dihitung cermat, tidak ada keberuntungan. Banyak masalah muncul dari UGM, tentu diharapkan ada solusi juga dari UGM," katanya.

Selama proses roasting ini, Uceng hanya bisa terima nasib: duduk, diam, sesekali tertawa. Baru pada sesi terakhir dia diberikan waktu untuk membela diri.

"Terima kasih, tapi jangan kira terima kasih ini akan mengikis kebengisan saya," kata Uceng.

Malang baginya, belum selesai kalimat itu, semua penonton langsung bubar. Lha wong hujan mengguyur dan acara digelar di ruang terbuka.

Meski demikian, ditemui selesai acara, Uceng mengaku senang. Dia menyebut, penyampaian kritik lewat roasting justru menarik.

Baginya, kegiatan tersebut juga merupakan kritik tersendiri bagi kondisi bangsa. “Pada intinya kuping negara itu tidak boleh terlalu tipis, kritik itu bagian penting dari demokrasi," katanya.

Kalau soal yang nyalon-nyalon itu, Pak Guru Besar? “Jangan tanyakan saya, tanya yang buat isu hahaha," katanya. (Delima Purnamasari, Sleman/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#penonton #ugm #Orasi #Kritis #demokrasi