Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Para Diaspora NTB saat Puasa Ramadan di Tanah Rantau, Kare India Belum Mampu Obati Rindu Zul pada Masakan Pedas Khas Lombok

Nurul Hidayati • Kamis, 26 Februari 2026 | 11:50 WIB

 

 

MAHASISWA LOMBOK: Ahmad Zuli Amrullah (kanan) bersama rekannya usai bukber di  Masjid Sapporo, Jepang, Minggu (22/2).
MAHASISWA LOMBOK: Ahmad Zuli Amrullah (kanan) bersama rekannya usai bukber di  Masjid Sapporo, Jepang, Minggu (22/2).

LombokPost - Ramadan di Balik "Gunung" Salju Sapporo Membuat Zul Rindu Pedas Taliwang di Tengah Heningnya Negeri Sakura.

Tak ada riuh pedagang takjil yang menjajakan kolak di pinggir jalan.

Tak ada pula suara tadarus yang bersahutan dari pengeras suara musala. Sejak awal 2023 menapakkan kaki di Sapporo untuk menimba ilmu, Ramadan bagi Diaspora asal Lombok di Sapporo, Jepang Ahmad Zuli Amrullah adalah tentang keheningan.

Di Sapporo Jepang, bulan suci berjalan seperti hari-hari biasa. Penandanya bukan suara azan, melainkan notifikasi aplikasi di ponsel atau sebaran jadwal imsakiyah di grup WhatsApp masjid.

Tahun ini, Ramadan menyapa Sapporo di tengah musim dingin (winter).

Jangan bayangkan trotoar yang dipenuhi deretan gerobak makanan seperti di Jalan Udayana, Mataram. Di sini, pinggir jalan justru dipenuhi "gunung-gunung" salju yang tinggi menjulang.

Puasa Singkat, Tantangan Dehidrasi

Berpuasa di musim dingin punya dinamika tersendiri. Waktu puasa kami jauh lebih pendek dibanding di Indonesia, hanya sekitar 10 hingga 11 jam karena matahari terbenam lebih cepat. Menariknya, rasa haus hampir tidak terasa karena suhu udara yang ekstrem di bawah nol derajat (minus).

Namun, di situlah letak jebakannya. "Karena jarang merasa haus, kami sering lupa mengonsumsi air yang cukup, yang berujung pada risiko kekurangan cairan tubuh," kata Zuli.

Interaksi dengan warga lokal pun datar-datar saja soal religi. Orang Jepang umumnya sangat menjaga privasi dan jarang bertanya soal agama. Kecuali bagi mereka yang pernah tinggal di luar negeri, biasanya barulah muncul rasa penasaran: "Kenapa tidak makan? Apa itu puasa?"

Ayam Taliwang "Ala-Ala" dan Rindu Bahasa Sasak

Bicara soal selera lidah, kerinduan pada masakan Lombok adalah perjuangan tersendiri.

Di Sapporo, sulit menemukan rasa pedas yang "nampol" layaknya cabai Lombok. Kare India atau Pakistan memang banyak, tapi rasanya tetap beda di lidah.

"Kami hampir tidak pernah membuat pelecing kangkung karena kangkung adalah barang langka di pasar sini," imbuhnya.

Sebagai pengobat rindu, ia sering membuat ayam bakar "ala-ala" ayam taliwang. Meski bumbunya tidak lengkap atau kadang hanya mengandalkan bumbu instan, aromanya cukup untuk membawa ingatan pulang ke rumah.

Untuk takjil, roti sering kali jadi andalan. Namun, jika sempat ke masjid sebelum iftar, biasanya ada takjil dari berbagai negara yang disediakan jamaah secara bergantian. Oh ya, jangan harap ada tradisi bangunin sahur keliling (koko'an). Di Jepang, membuat kegaduhan di atas jam 10 malam bisa berurusan dengan polisi. "Sahabat sejati kami untuk bangun sahur hanyalah alarm ponsel," tambahnya.

BUKBER DI JEPANG: Muslim yang berada di sekitar Sapporo, Jepang melakukan rutinitas tahunan untuk buka bersama puasa di  Masjid Sapporo, Jepang, Minggu (22/2).
BUKBER DI JEPANG: Muslim yang berada di sekitar Sapporo, Jepang melakukan rutinitas tahunan untuk buka bersama puasa di  Masjid Sapporo, Jepang, Minggu (22/2).

Pindah Apartemen Demi Tarawih

Di Sapporo, hanya ada satu masjid. Tahun lalu, ia tinggal cukup jauh, butuh waktu 30 menit dengan kereta bawah tanah hanya untuk ke masjid, sehingga tarawih sering terlewat. "Namun tahun ini, saya memutuskan pindah apartemen di dekat masjid agar bisa lebih intens beribadah," ceritanya.

Meski jumlah warga Indonesia di sini meningkat pesat naik sekitar 2.000 orang dibanding tahun lalu, ia baru bertemu dua orang asal Lombok. Satu dari Praya dan satu dari Selong. "Kami pun hanya bertemu saat salat Jumat," jelasnya.

Rasanya, rindu sekali bisa ngobrol menggunakan bahasa Sasak secara langsung. Untuk mengaji dan melepas rindu dengan keluarga, teknologi video call menjadi jembatan penyelamat jarak.

Belajar Islam dari Perbuatan

Meski suasananya sepi, ada pelajaran berharga di Jepang. "Di sini, saya belajar Islam secara perbuatan melalui karakter orang Jepang. Adab mereka mulai dari cara bertutur kata hingga kejujuran untuk tidak mengambil yang bukan haknya sangat mencerminkan nilai-nilai islami, meski mereka sendiri tidak beragama seperti kita," tuturnya.

Jika boleh berandai-andai, Zuli ingin membawa tradisi takbiran pakai obor ke sini. Di Jepang ada tradisi Matsuri yang identik dengan kembang api atau lilin. Mungkin suatu saat budaya itu bisa diakulturasi, sehingga Ramadan dan Idul Fitri di Sapporo bisa semeriah di Lombok.

”Untuk keluarga dan saudara-saudariku di Lombok, selamat menjalankan ibadah puasa. "Semoga lancar hingga hari kemenangan tiba. Tiang (saya) di sini baik-baik saja," pungkas Zul. (Nurul Hidayati, Mataram/r3)

Editor : Kimda Farida
#ramadan #Sapporo #jepang #Puasa #Lombok