Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jadi Basis Muslim Thailand, Keluarga Joko Diaspora Asal Lombok Tak Sulit Cari Makanan Halal di Pattani

Nurul Hidayati • Jumat, 13 Maret 2026 | 12:25 WIB

LIBURAN: Keluarga Joko saat menikmati liburan di Pattani, Thailand.
LIBURAN: Keluarga Joko saat menikmati liburan di Pattani, Thailand.

LombokPost - Suasana sore di pesisir Thailand Selatan sekilas tak jauh beda dengan pesisir Ampenan atau Lombok Barat. Matahari tenggelam perlahan, aroma masakan tercium dari dapur-dapur warga, dan deru motor pencari takjil mulai ramai.

Namun bagi Lukito Joko Septiana akrab dipanggil Joko dan istrinya, Nikensari Supriyanto, ada detil yang tetap terasa "asing" meski mereka sudah menetap di sana sejak Desember 2022.

Tahun ini menjadi tahun ketiga bagi pasangan asal Lombok tersebut menjalankan ibadah puasa di Thailand. Sebuah perjalanan religi yang penuh warna, di mana kerinduan pada kampung halaman seringkali hanya bisa diobati lewat panggilan video dan sepiring masakan istri.

​"Tahun lalu kami sempat pulang ke Lombok, tapi harus kembali ke Thailand tiga hari sebelum lebaran. Jadi, momen kemenangan ya dirayakan di sini," kenang Joko.

​Tinggal di Pattani memberikan kemudahan tersendiri bagi mereka sebagai muslim. Mengingat wilayah ini merupakan basis mayoritas muslim di Thailand, mencari makanan halal bukanlah perkara sulit. Toleransi pun terjaga sangat tinggi. Masyarakat lokal sangat menghormati mereka yang berpuasa.

Namun, lidah tak bisa berbohong. Meski kangkung air dan terasi yang oleh warga lokal disebut belace mudah ditemukan dan rasanya identik dengan Lombok, cita rasa masakan Thailand tetap punya karakter berbeda.

​"Makanan di sini cenderung asam dan manis. Belum ada yang punya ciri khas pedas nendang seperti di Lombok," selorohnya.

​Demi mengobati kerinduan pada pelecing kangkung, sate rembiga, atau urap-urap, Niken sang istri harus turun tangan langsung ke dapur. Bahkan, karena sulit mencari tempe yang pas, sang istri sampai memproduksi tempe sendiri di rumah.

Menu-menu khas nusantara seperti sate ayam, tempe mendoan, hingga ote-ote sayur dengan sambal kacang pun menjadi senjata ampuh saat mereka mengundang rekan-rekan warga lokal Thailand untuk berbuka bersama. ​"Pernah juga istri membuatkan 'banteng ngangak' untuk mengobati rasa kangen," tambah Joko.

​Selain soal rasa, tantangan utama tahun ini adalah cuaca. Memasuki bulan Maret hingga Mei, Thailand Selatan sedang berada di puncak panas yang terik. Hal ini membuat mereka lebih banyak menghabiskan aktivitas di dalam ruangan hingga matahari terbenam.

​Soal waktu, meski zona waktunya sama dengan WIB, durasi puasa terasa sedikit lebih panjang. "Waktu berbuka di sini sekitar pukul 18.30 karena matahari memang lebih lambat terbenam," jelasnya.

​Satu hal yang paling dirasa kontras adalah suasana malam takbir. Tak ada gema takbir keliling yang bersahut-sahutan seperti di Lombok. Malam lebaran di Pattani cenderung lebih tenang. Momen paling emosional biasanya pecah saat pagi 1 Syawal tiba.

​"Momen haru itu sudah pasti saat sungkeman. Harusnya bisa bersimpuh di depan orang tua dan kakak-kakak secara langsung, tapi sekarang hanya bisa lewat video call," ungkap Joko lirih.

​Meski raga berada di Thailand, tradisi berbagi kebahagiaan tetap mereka bawa. Saat lebaran nanti, pintu rumah mereka akan terbuka untuk silaturahmi. Bingkisan disiapkan, dan angpau untuk anak-anak kecil pun tak ketinggalan sebuah potongan kecil tradisi Lombok yang mereka rawat di Negeri Gajah Putih. (Nurul Hidayati, Mataram/r3)

Editor : Kimda Farida
#thailand #lebaran #Kerinduan #gajah putih #Lombok