Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat dari Dekat Pusat Pengolahan Organik Bakti Lingkungan Djarum Foundation Bekerja: Tiap Hari Olah 50 Ton Sampah Organik, Bagi Gratis Kompos&Bibit

Lombok Post Online • Rabu, 25 Maret 2026 | 10:25 WIB

PROSES PENCACAHAN: Karyawan Pusat Pengolahan Organik Bakti Djarum Lingkungan Foundation memasukkan sampah organik ke mesin pencacah sebelum difermentasi menjadi kompos di Kudus.
PROSES PENCACAHAN: Karyawan Pusat Pengolahan Organik Bakti Djarum Lingkungan Foundation memasukkan sampah organik ke mesin pencacah sebelum difermentasi menjadi kompos di Kudus.

LombokPost - Jumlah sampah yang diolah di Pusat Pengolahan Organik Bakti Lingkungan Djarum Foundation mencapai 10 persen volume sampah harian di Kudus.

Lewat Darling Squad, kalangan muda juga diajak menanam pohon di berbagai kawasan bersejarah dan wisata alam.

SETIAP hari, dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, truk-truk milik Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BDLF) mondar-mandir mengambil sampah organik dari hotel, sekolah, rumah sakit, katering, rumah makan, hingga perusahaan.

Truk-truk tersebut kemudian menuju kawasan Djarum Oasis Kretek Factory di Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, Jawa Tengah.

BDLF membangun Pusat Pengolahan Organik (PPO) pada 2018. Di PPO, sampah organik ini didaur ulang untuk kemudian menjadi pupuk organik.

Pada area seluas 11 hektare itu, tiap hari sekitar 50 ton sampah organik dari wilayah Kudus diolah menjadi kompos melalui proses fermentasi selama 6 bulan.

Jumlah sampah yang diolah tiap hari di fasilitas ini mencapai sekitar 10 persen volume sampah harian Kabupaten Kudus.

RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Kudus pada 2018–2023 mencatat volume sampah harian mencapai 552 meter kubik atau 445,9 ton. Sebanyak 60 persen di antaranya merupakan sampah organik.

“Sejauh ini kami memiliki sekitar 400 mitra. Kami memiliki sepuluh truk yang setiap harinya mengambil sampah organik ke berbagai instansi seperti hotel, rumah sakit, katering, sekolah, rumah makan, perusahaan, dan lainnya,” ujar Staf Pusat Pengolahan Organik Bakti Lingkungan Djarum Foundation Timothy Ariel Saputra kepada Jawa Pos di Kudus (19/11/2025).

Kompos yang diproduksi bisa diambil secara gratis oleh masyarakat ber-KTP Kudus. Satu warga dalam waktu 3 bulan sekali bisa mengambil dua karung kompos dan dua bibit tanaman.

Pihak-pihak lain di Kudus bisa mendapatkan jumlah bibit dan kompos dalam jumlah lebih banyak dengan syarat sebelumnya mengajukan proposal.

“Ketika bicara bibit, akan lebih baik jika ada pupuk. Pengolahan sampah organik kami menjadi sinergi yang otomatis mendukung kebutuhan pembibitan dan penghijauan,” jelas Deputy Program Manager BDLF Prinsa Paruna.

Selain dibagikan secara gratis, kompos juga digunakan untuk campuran media tanam dan memupuk bibit-bibit tanaman yang ada di Pusat Pembibitan Tanaman yang berlokasi sama dengan PPO terbesar di Indonesia itu.

Ada lebih dari 400 jenis tanaman yang bisa diambil secara cuma-cuma oleh warga Kudus. Selain dibagikan kepada warga, bibit-bibit juga ditanam untuk menghijaukan banyak area.

Di antara yang banyak dibagikan dan ditanam adalah pohon trembesi. Kenapa trembesi? Merujuk hasil penelitian Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, pohon ini memiliki daya serap gas CO₂ sangat tinggi.

Satu pohon dengan diameter tajuk 15 meter dapat menyerap hingga 28,5 ton gas CO₂ per tahun.

Mengutip www.djarumtreesforlife.org, hingga Juli 2025, sebanyak 203.641 pohon trembesi sudah ditanam di 23.225 km jalan nasional dan jalan tol di Jawa, Sumatera, dan Lombok.

Diperkirakan 203.641 pohon trembesi yang sudah tertanam berpotensi menyerap sekitar 5,28 juta ton karbon per tahun.

Gaung di Kalangan Muda

Melalui program Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan), BDLF juga mengajak generasi Z dan mahasiswa turun langsung menjaga kelestarian alam. Sejak digulirkan pada November 2018, program ini memadukan kampanye digital dengan aksi nyata di lapangan.

Slogan “Aku Siap Sadar Lingkungan, Kalian Juga, Kan?” menjadi ajakan terbuka bagi anak muda untuk terlibat. Kegiatan digelar di berbagai kawasan bersejarah dan wisata alam, di antaranya Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan, Museum R.A. Kartini, Kebun Raya Bogor, Taman Wisata Alam Kawah Ijen, hingga kawasan percandian Muarajambi. Juga di kompleks percandian Candi Prambanan dan Dataran Tinggi Dieng.

Puluhan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumatra telah terlibat. Mereka tergabung dalam komunitas relawan yang dikenal sebagai Darling Squad.

Aksi yang dilakukan meliputi penanaman pohon, plogging (olahraga sambil memungut sampah), hingga gerakan One Action One Tree. Ribuan bibit telah ditanam, mulai dari cemara, kemuning, soka, kapulaga, hingga tanaman lokal yang disesuaikan dengan karakter kawasan.

“Kami berharap, gerakan menanam ini dapat menginspirasi serta melibatkan lebih banyak mahasiswa untuk lebih peduli pada lingkungan dan menjaga warisan sejarah dalam jangka panjang,” kata Director of Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara seperti dikutip dari www.djarumfoundation.org. (Ali Mahrus, Kudus/r3)

Editor : Kimda Farida
#sampah #Pembangunan #lingkungan #djarum foundation #organik