LonbokPost - Ragam pengalaman sebagai wasit diakui Prof Dwi Cahyo Kartiko turut membentuk mental baja dan keberanian hingga bisa sampai ke titik sekarang.
APA yang tidak pernah dialami Dwi Cahyo Kartiko semasa jadi wasit basket? Motor nyaris hilang pernah. Kepala terhantam bola sudah. Diiming-imingi uang sebagai bentuk “ucapan terima kasih” telah juga dialami.
Bahkan, nun di Kuwait, dia juga pernah memimpin laga di tengah situasi konflik kawasan Timur Tengah.
“Arena pertandingan dikelilingi tentara bersenjata laras panjang,” kenangnya kepada Jawa Pos yang menemuinya di kantornya di Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jelang berbuka pada awal Maret (1/3).
Ragam pengalaman di jalan perwasitan itu akhirnya turut membentuk dirinya menjadi seperti sekarang: seorang guru besar sekaligus wakil rektor Unesa. Pria kelahiran Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, 51 tahun silam itu mengemban tugas sebagai wakil rektor IV bidang perencanaan, pengembangan, kerja sama, serta teknologi informasi dan komunikasi.
Bagi Cahyo, menjadi wasit mengajarkannya bahwa ada konsekuensi di balik setiap keputusan. “Wasit bukan sekadar profesi teknis. Ini soal mental baja dan keberanian berdiri sendirian di tengah tekanan,” katanya.
Bermula dari Ajakan Dosen
Semua bermula ketika Prof. Abdul Rachman Syam Tuasikal saat itu dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Unesa sekaligus Ketua Komisi Wasit PP Perbasi memberi tugas praktik menjadi wasit basket. Sebuah tugas yang sangat menantang.
Sebab, teori memang hampir 100 persen dikuasai Cahyo yang saat itu duduk di semester keempat dan para mahasiswa lain. Tapi praktik? Nol besar.
Sebuah turnamen basket antar-SMA jadi padang Kurusetra pertama. Tanpa mentoring. Tanpa pendampingan. Tanpa evaluasi bertahap. “Sampai lapangan, tim sudah lengkap. Harus langsung meniup peluit. Otak kosong,” kenang Cahyo.
Bola pernah menghantam kepalanya di tengah pertandingan pada masa-masa awal itu. Evaluasi dingin pun datang dari salah seorang seniornya. “Mas, kamu tidak layak jadi wasit,” ucapnya menirukan perkataan seniornya waktu itu.
Dari evaluasi itu, Cahyo berbenah. Tanpa ada yang mendampingi, dia dan teman-teman membuat pertandingan sendiri di kampus. Mengatur meja ofisial, mencatat foul, mempraktikkan aturan pasal demi pasal.
Setiap selesai memimpin, semua kesalahan ditulis. Pasal berapa yang keliru. Mengapa keliru. Solusinya apa. “Upah? Tidak ada. Tujuannya satu, jam terbang,” terangnya.
Dari situ, jalan panjang terbuka. Lisensi internasional FIBA diraih pada 2003. Tahun 2007, menyandang wasit terbaik Indonesian Basketball League. Setahun kemudian, penugasan internasional membawa Cahyo ke Kuwait dalam sebuah kompetisi FIBA.
Kawasan Timur Tengah sedang memanas tensinya ketika itu. Arena pertandingan dikelilingi tentara bersenjata laras panjang. “Sebelum tanding, saya dikasih video teman wasit kalau ada wasit yang digebukin saat memimpin pertandingan. Dalam hati, waduh,” ucapnya.
Saat itu, Cahyo memimpin dua laga sekaligus dalam sehari. Rasa waswas tentu ada. Tapi, begitu peluit ditiup, fokus hanya pada permainan. Dan semuanya akhirnya berjalan lancar.
“Integritas dan ketenangan menjadi harga mati,” tuturnya.
Soal integritas, godaan juga pernah menghampirinya selepas sebuah laga final di Jakarta. Cahyo diimingi uang sebagai ungkapan rasa terima kasih. Bahkan, sampai didatangi ke hotel.
Tapi, Cahyo menolak tegas gratifikasi itu. Dia memegang teguh wejangan salah seorang seniornya: jangan pernah menerima apa pun dari tim.
Bukan Hilang, Cuma Dipinjam
Ujian bahkan sudah datang pada masa-masa awal sebagai wasit. Sepulang memimpin pertandingan di sebuah turnamen di salah satu kampus di Surabaya, motornya hilang di parkiran. Cahyo sudah pasrah, tetapi nasib baik masih berpihak kepadanya.
Motornya kembali ke parkiran. “Ternyata ada anak pinjam dari temannya dan salah motor, tapi kuncinya bisa masuk ke motor saya,” ucapnya seraya tergelak.
Honor sebagai wasit juga membantu alumnus Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Unesa (dulu bernama IKIP Surabaya, red) itu melanjutkan kuliah S-2 Ilmu Kesehatan Olahraga di Universitas Airlangga. Dia kemudian mengambil S-3 Ilmu Keolahragaan di Unesa.
Tahun 2006, dia mulai tercatat sebagai dosen berstatus PNS (pegawai negeri sipil), setelah sebelumnya menjadi dosen luar biasa. Ujian doktoral 2015 menjadi titik refleksi: apakah masih akan menjadi wasit atau fokus sebagai pengajar di kampus?
Tanpa ragu, Cahyo memilih pilihan kedua. Pada 2024, dia akhirnya dikukuhkan sebagai profesor. Dunia olahraga tentu saja tetap dia akrabi meski tak lagi menjadi pengadil lapangan.
Dia menjabat Ketua Federasi Olahraga Petanque Indonesia Jawa Timur. Juga menjadi humas Komite Paralimpik Nasional Indonesia Jawa Timur.
Berterima Kasih ke Senior
Malam telah jatuh di Gedung Rektorat Universitas Unesa lantai 7 itu. Jersey tim nasional berwarna merah bertanda tangan mantan pelatih Skuad Garuda Shin Tae-yong tergantung rapi di sudut ruangan.
Sembari mengajak Jawa Pos berbuka puasa, Cahyo menuturkan betapa dia tak menyangka bisa sampai ke titik sekarang. Karena itu, ketika suatu kali berkesempatan bertemu dengan senior yang dulu menganggapnya tak punya kemampuan menjadi wasit, Cahyo tak lupa berterima kasih.
“Karena teguran itu benar-benar jadi pelecut motivasi,” terangnya. (WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya/ttg/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji