Cuaca ekstrem yang melanda Lombok Tengah pada Selasa (7/4) sore memicu banjir dan tanah longsor yang berdampak pada ratusan kepala keluarga. Salah satu kerusakan terparah menimpa kediaman Misbah Rodhian di Dusun Mertak Waru, Desa Barabali, Batukliang, Lombok Tengah di mana material longsor menjebol tembok rumah hingga rusak berat.
----
LANGIT di atas Dusun Mertak Waru terik menyengat. Namun, suasana di balik gerbang hitam sebuah rumah di kawasan perbukitan itu terasa getir. Pagi menjelang siang, riuh suara warga memecah kesunyian.
Mereka tidak sedang berpesta, melainkan berjibaku dengan sekop, cangkul, dan alat bor untuk mengevakuasi material batu serta tanah yang masih menimbun rumah milik Misbah.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Banjir Rendam Jonggat dan Kabol, Longsor di Batukliang Lombok Tengah
Rumah yang berdiri di medan cukup tinggi itu kini tak lagi utuh. Sebagian bangunan di bagian belakang yang menampung dapur dan kamar mandi hancur berantakan.
Tanah longsor dari tebing di belakang rumah menjebol dua lapis tembok kokoh. Material atap ikut terbawa dan menimbun peralatan dapur hingga tak berbentuk.
Misbah Rodhian, pemilik rumah, hanya bisa menatap nanar sisa bangunan yang runtuh. Ia masih ingat saat peristiwa itu terjadi pada sore hari, sekitar pukul 16.00 Wita, ketika hujan lebat mengguyur.
Baca Juga: Pemkab Lombok Tengah Usulkan 63 Formasi CPNS ke Pemerintah Pusat
“Waktu itu saya sedang di dalam, sibuk membersihkan air yang bocor dan mau memperbaiki atap sedikit. Tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras, Brugggh!” kenang Misbah saat ditemui di lokasi, Kamis (9/4).
Seketika, ia berlari keluar. Pemandangan di depannya mengerikan. Dapur dan kamar mandi sudah rata dengan tanah.
Tanpa pikir panjang, Misbah berteriak meminta seluruh anggota keluarganya segera keluar rumah. Ia khawatir terjadi longsor susulan sehingga tidak berani membiarkan siapa pun berada di dalam rumah.
Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil yang dialami tidak sedikit. Puluhan juta rupiah melayang dalam hitungan detik.
Bagi Misbah, rumah itu bukan sekadar tempat berteduh. Bangunan tersebut merupakan hasil jerih payah selama sepuluh tahun bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia.
Baca Juga: Tekanan Fiskal Bayangi Program Prioritas Lombok Tengah Masmirah
Kini, setelah kembali ke tanah kelahiran dan menjadi petani, harapannya untuk memiliki masa tua yang tenang di rumah itu seolah terkoyak.
“Harapannya tentu ada bantuan untuk perbaikan rumah. Ini hasil saya merantau sepuluh tahun di Malaysia,” tuturnya lirih.
Upaya tanggap darurat mulai dilakukan. Pemerintah desa setempat telah melaporkan musibah ini ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah melalui Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Bantuan logistik berupa bahan pangan dan kebutuhan dasar sudah diterima keluarga Misbah.
“Sudah diberikan berupa bantuan logistik sembako, untuk perbaikan sudah di assessment,” kata Plt Kepala Desa Barabali Salbi.
Baca Juga: Inovasi Kejaksaan Negeri Lombok Tengah, Jaksa Sahabat Disabilitas dan Jaksa Sahabat Kampus
Di sela warga yang terus bergotong royong mengangkut material batu, Babinsa Desa Barabali Sertu Santoni mengimbau masyarakat agar selalu waspada saat hujan lebat.
Mulai dari potensi tanah longsor, pohon tumbang, banjir, hingga angin puting beliung. Mengingat cuaca ekstrem masih terjadi belakangan ini.
“Masyarakat selalu berhati-hati dan bila terjadi sesuatu untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kabupaten,” singkatnya.
Editor : Akbar Sirinawa