Berbekal ilmu gizi dalam pengelolaan pakan, usaha yang dirintis Muahri sejak 2020 tak hanya meningkatkan ekonomi keluarga tetapi juga menjadi aksi nyata dalam menekan angka stunting melalui penyediaan protein berkualitas.
----
DI balik padatnya aktivitas sebagai tenaga kesehatan (nakes) dan ahli gizi di Puskesmas Sengkol, Muahri menemukan ritme kehidupan yang produktif di pekarangan rumahnya.
Tak jauh dari Kantor Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, bangunan sederhana berukuran 6 kali 11 meter menjadi saksi ketekunan pria ini dalam merintis usaha sampingan yang kini berbuah manis.
Baca Juga: Komisi II DPRD Lombok Tengah Cek Kondisi Hortipark dan SIHT
Memasuki area kandang miliknya, riuh suara 500 ekor ayam petelur menyambut hangat. Butir telur berwarna cokelat bersih tampak memenuhi rak-rak penampungan, siap untuk dipanen. Siapa sangka, pemandangan produktif ini berawal dari sebuah kegagalan pada 2020.
“Awalnya saya mencoba beternak ayam pedaging, namun hasilnya tidak sesuai harapan dan sempat gagal. Dari sana saya belajar dan memutuskan beralih ke ayam petelur,” kenang Muahri saat ditemui di sela kesibukannya, Rabu (15/4).
Sebagai seorang ahli gizi, Muahri tidak sekadar memberi makan. Ia menerapkan disiplin keilmuannya dalam merawat ternak. Ia sangat memperhatikan komposisi pakan agar ayam-ayamnya menghasilkan telur dengan kualitas gizi terbaik. Baginya, kualitas telur ditentukan dari apa yang dikonsumsi oleh unggas tersebut.
Baca Juga: Bupati Minta Nakes Bersabar, Soal Honor Nakes Rp 200 Ribu per Bulan
Usaha ini menjadi manifestasi dukungan terhadap program pemerintah dalam menekan angka stunting. Muahri memulai dari keluarganya sendiri, keempat buah hatinya mendapatkan asupan protein hewani yang berkualitas setiap hari langsung dari halaman rumah.
“Selain untuk konsumsi keluarga sebagai sumber protein, telur-telur ini juga saya jual ke warga sekitar hingga menyuplai kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG),” tambahnya.
Meski memikul tanggung jawab sebagai nakes, Muahri tetap mampu mengatur waktu. Ia memanfaatkan waktu pagi sebelum berangkat dan sore selepas pulang kerja untuk mengurus kandang.
“Masih bisa bagi waktu, sehari dua kali saya kerjakan sendiri untuk memelihara ayam petelur ini,” ucapnya.
Baca Juga: Rakib Petani Segala Anyar, Buktikan Pohon Kopi Bisa Tumbuh Subur di Lahan Tadah Hujan
Hasilnya kini mulai terasa. Omzet yang diraup dari usaha ayam petelur mencapai Rp10 juta per bulan, termasuk biaya operasional pakan.
“Alhamdulillah, dalam sehari bisa kumpulkan 450 butir telur ayam. Untungnya ada lebih setelah dikurangi biaya pakan Rp 400 ribu per hari,” kata Muahri.
Editor : Akbar Sirinawa