Di tengah sempitnya peluang kerja formal, banyak sarjana memilih meninggalkan desa demi pekerjaan di kota. Namun, tidak bagi Maysarah. Perempuan muda itu justru menemukan masa depannya dari kilau mutiara dan keberanian membaca peluang pasar digital.
----
UDARA di dalam Gedung PKK Lombok Tengah terasa pekat siang itu. Ribuan ibu-ibu penggerak PKK dari berbagai pelosok desa memadati ruangan. Suasana riuh rendah tak terhindarkan. Pendingin ruangan bekerja maksimal. Namun suhu tetap terasa panas karena padatnya massa yang hadir dalam agenda daerah itu.
Suasana kontras terlihat di pelataran luar gedung. Meja-meja berukuran sedang berjajar rapi. Aroma gurih keripik hasil olahan UMKM lokal beradu dengan kilau etalase perhiasan. Di salah satu sudut yang paling ramai dikunjungi, Maysarah sibuk melayani pelanggan yang terpikat koleksi butiran mutiara miliknya.
Baca Juga: Pemkab Loteng “Bersih-bersih” Indomaret dan Alfamart, Diminta Tutup Mandiri Paling Lambat 16 Mei
Di atas meja stan miliknya, berjajar kotak-kotak kecil nan cantik yang tertata rapi. Di dalam kotak bermacam warna itu, butiran mutiara tampak berkilau, menarik perhatian setiap orang yang melintas.
Dua hingga tiga tamu datang bergantian. Mereka membungkukkan badan untuk melihat lebih dekat deretan aksesori yang dipamerkan perempuan yang akrab disapa May ini. Jemari mereka sesekali menyentuh halusnya permukaan cincin dan gelang, menimbang aksesori yang paling cocok dibawa pulang.
May merupakan pemilik label May Mutiara Lombok. Di tengah hiruk pikuk acara PKK, produk berupa bros, cincin, dan gelang mutiara air laut maupun air tawar menjadi magnet bagi kaum hawa yang melintas.
Baca Juga: Jaksa Jebloskan Mantan Bupati Lombok Tengah Dua Periode ke Penjara Terkait Kasus Penipuan
Siapa sangka, di balik kemahirannya memadukan butiran mutiara menjadi aksesori mewah, May merupakan sarjana pendidikan guru lulusan 2015. Alih-alih mengejar karier di depan papan tulis, ia memilih jalur pengabdian lain melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3).
“Program ini tujuannya mulia, bagaimana kita sebagai sarjana tidak berbondong-bondong lari ke kota. Padahal di desa, potensi ekonominya luar biasa jika kita mau mengelola,” ujar May sembari menunjukkan bros berbentuk lanskap Sirkuit Mandalika.
Bros Mandalika itu menjadi primadona, terutama menjelang ajang balap dunia seperti MotoGP. Meski toko fisiknya berada di Desa Perampuan, Lombok Barat (Lobar), May memiliki ikatan kuat dengan Gumi Tastura. Bahan baku dan tenaga kerja yang diberdayakan mayoritas berasal dari Lombok Tengah.
Kunci keberhasilan May bukan hanya pada keindahan mutiara miliknya. Ketajaman strategi digital juga menjadi penopang utama. Ia memahami trafik menjadi mata uang baru di era digital. May tak ragu merogoh kocek untuk beriklan di media sosial demi menjangkau pelanggan di seluruh pelosok Indonesia.
“Semakin tinggi kita bayar iklan, semakin banyak trafik orang yang melihat produk kita di dunia maya, misal di TikTok. Dengan setting target seluruh Indonesia, pesanan justru lebih banyak datang dari luar daerah,” ungkapnya.
Meski mengandalkan dunia maya, kehadiran fisik di pameran seperti di Gedung PKK tetap dianggap penting untuk menjaga relasi dan kepercayaan pelanggan lokal. Harga yang ditawarkan pun variatif, mulai Rp 50 ribu untuk mutiara air tawar hingga jutaan rupiah untuk mutiara air laut murni.
Editor : Pujo Nugroho