Kuliner kekinian tidak hanya bikin penasaran, tapi juga menjadi ladang cuan. Semakin viral jajanan itu, semakin penasaran juga orang untuk ingin mencicipinya.
Bahkan mereka rela antre panjang agar tidak kehabisan buruan. Itulah yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) Baiq Fitria Andriani dan Rifal Dwi Putra yang berjualan jajanan viral.
UMAR WIRAHADI, Lombok Tengah
Matahari masih bersinar terik meski sudah condong ke sisi barat, Jumat (22/5).
Meski sinar sang surya masih menyengat, itu bukan halangan bagi puluhan orang yang mayoritas remaja putri dan sebagian ibu-ibu.
Mereka berjibun mengitari meja portable yang menjual aneka jajanan kekinian di Janapria, Lombok Tengah.
Setelah mendapatkan jajanan yang jadi incaran, tanpa banyak tanya mereka langsung merogoh saku dan membayarnya. Sang penjual pun tak henti-hentinya melayani pembeli.
Rohani, 16 tahun, salah seorang pembeli mengambil pie rasa pisang.
Ukurannya hampir sama dari pie biasanya yang banyak dijajakan di pasaran atau pusat oleh-oleh.
"Tadi beli Rp 75 ribu dapat dua," kata Rohani.
Ia mengetahui jajanan itu dari postingan Facebook (FB). Karena ramai diburu orang, pun penasaran untuk ingin mencicipi makanan tersebut.
"Sebenarnya lebih karena penasaran saja sih. Kok ramai, makanya saya beli," ujar siswa kelas XI SMA itu.
Beda lagi Nisa, 20 tahun. Ia memborong jananan kroket dari singkong.
Ia membeli 25 biji kroket. Harganya Rp 100 ribu. Selain itu, gadis berkaca mata itu juga membeli coklat dubai. Harganya Rp 35 ribu per biji.
Baca Juga: 8 Makanan Viral 2024 yang Bikin Heboh! Sudah Coba Thai Milk Bun hingga Cokelat Dubai?
"Penasaran rasanya. Tapi kata orang yang sudah pernah coba katanya enak," ujar Nina lalu tertawa.
Pemilik usaha itu adalah pasutri asal Kelurahan Gerunung, Praya, Lombok Tengah.
Mereka adalah Baiq Fitria Andriani dan Rifal Dwi Putra. Keduanya menangkap peluang usaha itu karena banyak jajanan viral di media sosial.
"Maka saya coba untuk jualan. Saya pilih jajan yang paling viral dengan harapan dicari banyak orang," ujar Andri, sapaan karib Baiq Fitria Andriani.
Baca Juga: Pedagang Jangan Sekadar Ikut Tren! Kunci Bisnis Kuliner adalah Konsistensi Rasa
Biasanya ia mulai jualan pada sore hari. Yaitu pukul 16.00 hingga pukul 18.00.
Meski hanya dua jam, ia mampu meraup omzet cukup besar. Rata-rata mencapai Rp 6 juta sekali jualan.
"Itu kalau dirata-ratakan. Pernah juga sampai Rp 7 dan bahkan Rp 8 juta," tutur Andri.
Menariknya, aktivitas berjualan itu dilakukan dengan berpindah-pindah tempat.
Dari satu desa ke desa lain. Selain di Lombok Tengah, ia juga berjualan sampai ke Lombok Timur dan Lombok Barat.
Berjualan secara mobile itu dilakukan agar konsumen tidak bosan dengan produk kulinernya.
"Ini supaya orang tidak bosan saja. Bikin penasaran. Kalau jualan di satu lokasi terus kan lama-lama orang bosan juga," paparnya lalu tertawa.
Baca Juga: Eks Bandara Selaparang Jadi Pusat Kuliner, Disdag Mataram Dorong Konsep Lapak Seragam dan Rapi
Jualan secara mobile itu sudah digeluti sejak 2022.
Awalnya, Andri, menjalani usaha itu bersama dua adik sepupunya. Awalnya hanya untuk melawan rasa malas karena terus-terusan di rumah.
"Karena memang saya suka jalan-jalan juga. Nah, saya mikir bagaimana caranya jalan-jalan yang menghasilkan uang. Sehingga muncul ide untuk berjualan pakai mobil," sambung ibu satu anak itu.
Karena melihat hasilnya yang lumayan menjanjikan, suaminya, Rifal Dwi Putra, pun ikut jualan jajanan viral.
Kini, wilayah jualannya semakin luas. Jika dulu hanya berkutat di sekitar Lombok Tengah. Maka, kini ia juga merambah ke Lombok Timur dan Lombok Barat.
"Pokoknya semakin viral jajanan itu semakin dicari orang. Maka itu yang paling banyak kami jual hari itu," sambung Rifal. (*/r3)
Editor : Kimda Farida