Usaha bisnis jajanan Merungkung yang dijalani Halimah tidak hanya melestarikan kuliner khas Sasak dan menembus pasar luar daerah, tetapi juga berhasil memberdayakan ekonomi ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya.
----
AROMA gurih minyak panas langsung menyergap saat memasuki sebuah rumah produksi di Dusun Alang, Desa Kopang Rembiga, Kopang, Lombok Tengah. Di sudut ruangan, kepulan asap tipis membubung dari wajan besar.
Di sekelilingnya, riuh rendah tawa dan senda gurau sejumlah ibu rumah tangga memecah kesunyian siang itu.
Mereka adalah para tetangga yang diberdayakan Halimah. Ibu satu anak itu sukses menyulap jajanan tradisional menjadi ladang ekonomi produktif.
Di tangan perempuan kreatif ini, merungkung, atau yang lebih karib dikenal masyarakat suku Sasak sebagai jajan tarek, bukan lagi sekadar camilan pelengkap ritual adat.
Jajanan itu kini menjadi komoditas bernilai jual tinggi.
“Kalau dikerjakan sendiri jelas keteteran. Makanya saya ajak ibu-ibu di sekitar rumah sekitar tujuh orang. Hitung-hitung bantu menambah uang belanja dapur mereka,” ujar Halimah sembari tersenyum di sela kesibukannya, pekan lalu.
Jari-jemari para perempuan itu tampak lihai memilin dan membentuk adonan tepung sebelum dilempar ke wajan panas.
Proses memilin jajan tarek membutuhkan ketelatenan tinggi. Namun, pekerjaan itu terasa cepat karena diselingi obrolan hangat dan candaan khas emak-emak kampung.
Baca Juga: Akhir Pekan di Bawah Tenda Lembah Datu, Anak Muda Ikut Mengelola dan Membuka Peluang Ekonomi Baru
“Sekarang jajanan khas ini bisa dikonsumsi kapan saja tidak mesti hari-hari tertentu (ritual adat, Red),” cetusnya.
Untuk menghasilkan jajan merungkung dengan kualitas premium, Halimah sangat selektif memilih bahan baku.
Proses pembuatannya mengandalkan perpaduan bahan sederhana namun berkualitas. Mulai dari tepung beras pilihan, santan kelapa kental, gula murni, sedikit garam, hingga minyak goreng dalam jumlah besar untuk proses penggorengan.
“Seluruh bahan ini diaduk hingga kalis sebelum akhirnya dipilin secara manual menggunakan tangan,” papar Halimah.
Baca Juga: Rakib Petani Segala Anyar, Buktikan Pohon Kopi Bisa Tumbuh Subur di Lahan Tadah Hujan
Namun, menjalankan usaha di tengah situasi ekonomi saat ini diakuinya bukan tanpa hambatan.
Halimah membeberkan, tantangan terbesar yang dihadapinya belakangan ini adalah fluktuasi harga bahan baku utama di pasar yang kian meroket. Terutama minyak goreng, tepung, dan gula.
“Saya menyiasati dengan sedikit menyesuaikan takaran berat di kemasannya agar kualitas rasa tetap terjaga dan dapur produksi bisa terus ngebul,” bebernya.
Usaha yang dirintis Halimah sejak tahun 2017 ini berangkat dari keinginan melestarikan resep turun-temurun keluarganya.
Konsistensi menjaga cita rasa yang renyah dan gurih membuat permintaan pasar terus meningkat. Kini, tak kurang dari 20 kilogram jajan merungkung diproduksi saban hari dari dapur Halimah.
Pemasarannya pun tidak main-main. Dari semula hanya menyasar pasar tradisional lokal, jajan merungkung buatan Halimah kini telah menembus etalase grosiran hingga ritel modern.
Bahkan, kerenyahan camilan khas Gumi Gora ini sudah merambah luar daerah seperti Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga beberapa kota besar di Pulau Jawa.
“Alhamdulillah, bahkan sering ada yang memesan dalam jumlah banyak untuk dijadikan buah tangan bagi jemaah umrah yang berangkat ke Makkah,” imbuhnya.
Untuk urusan harga, Halimah mematok tarif yang ramah kantong. Mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 60 ribu per bungkus, tergantung pada ukuran kemasannya.
Dari ketekunannya merawat resep warisan leluhur sekaligus menggerakkan ekonomi perempuan lingkar desa, Halimah kini sukses meraup omzet manis hingga mencapai Rp 10 juta setiap bulan.
“Harapannya usaha kecil ini bisa terus berkembang agar bisa mengajak lebih banyak ibu-ibu di kampung ini untuk punya penghasilan sendiri. Yang penting jajan tradisional ini tidak punah dan dapur tetangga-tetangga saya juga ikut terbantu,” tutup Halimah.
Editor : Kimda Farida