Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Peristiwa Dugaan Pembakaran Tiga Santri di Lombok Tengah, Korban Berjuang Sembuh dan Berharap Bisa Sekolah Lagi di Tengah Trauma Kobaran

Lestari Dewi • Jumat, 5 Juni 2026 | 08:03 WIB

 

INGIN KEMBALI SEKOLAH: Didampingi bibinya (kanan) tangis SA pecah saat mengingat kejadian dugaan pembakaran yang dilakukan oknum kakak kelasnya, Kamis (4/6). (Dewi/Lombok Post)
INGIN KEMBALI SEKOLAH: Didampingi bibinya (kanan) tangis SA pecah saat mengingat kejadian dugaan pembakaran yang dilakukan oknum kakak kelasnya, Kamis (4/6). (Dewi/Lombok Post)

 

Diduga karena dendam, oknum santri senior di Lombok Tengah membakar tiga juniornya di dalam kamar hingga mengakibatkan satu korban tewas dan lainnya luka berat. 

----

Pagi itu, jarum jam baru saja menunjuk pukul 10.00 Wita. Sinar matahari di Batukliang Utara, Lombok Tengah (Loteng), mulai terasa menyengat. Di sebuah berugak kayu di depan rumahnya, seorang remaja belasan tahun duduk termenung.

Remaja itu mencoba menghirup udara segar pedesaan. Hal sederhana yang sempat hilang darinya selama berbulan-bulan. Kain panjang motif bunga menutupi bagian tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan.

Baca Juga: Kisah Pilu Murnah, Jari Terputus Hingga Terbelenggu Aturan KTP, Pemkab Loteng Urai Benang Kusut Jaminan Sosial Murnah

Ia merupakan salah satu korban dugaan pembakaran di lingkungan pondok pesantren pada Sabtu, November 2025 lalu. Peristiwa itu mengubah banyak hal dalam hidupnya. Termasuk membuatnya belum bisa kembali bersekolah karena masih menjalani perawatan.

Korban menuturkan, peristiwa itu bermula dari masalah antarsantri. Salah satu santri diduga marah setelah perbuatannya dilaporkan kepada pimpinan pondok pesantren. Setelah itu, korban dan beberapa rekannya mendapat ancaman.

“Dia dimarah sama Abah, terus bilang ke teman-teman saya akan dibakar,” kenang SA dengan suara lirih.

SA mengatakan, sebelumnya tidak pernah ada percekcokan maupun praktik perundungan antara mereka. Namun, ancaman itu kemudian berujung pada peristiwa yang membuat tiga santri menjadi korban.

Menurut SA, ia dan beberapa rekannya sempat dipanggil masuk ke sebuah ruangan bekas kamar ustaz. “Kami masuk ke ruangan itu berlima, bersama dia yang membakar,” tuturnya.

Baca Juga: Mengintip Uniknya Kawan KopiTiam Mandalika

Di dalam ruangan itu, korban melihat santri lain membawa bahan bakar minyak (BBM). Tidak lama kemudian, api menyala dan kepanikan terjadi. Korban bersama dua rekannya tidak bisa segera keluar dari ruangan.

“Ketika dibakar kami tidak bisa keluar, bertiga. Pintu kamar benar-benar tidak bisa dibuka,” cetusnya.

Akibat kejadian itu, tiga santri menjadi korban. Dua korban mengalami luka bakar serius dan menjalani perawatan. Satu korban lainnya meninggal dunia dua bulan setelah kejadian.

Baca Juga: Sensasi Ngopi Harga Rp 5 Ribuan yang Ramai Diburu Pelajar hingga Pegawai, Rela Berpanas-panasan demi Segelas Kopi 'Raisa' di Jantung Kota Praya

Air mata korban tak terbendung ketika mengingat kembali peristiwa itu. Ia kini belum kembali bersekolah karena masih menjalani proses pemulihan. “Saya ingin kembali bersekolah,” kata korban.

Keluarga korban yang mendampingi saat wawancara juga tak kuasa menahan air mata. Mereka mengaku awalnya tidak mengetahui dugaan pembakaran itu. Saat peristiwa terjadi, keluarga mendapat kabar bahwa kebakaran dipicu ketidaksengajaan para santri yang sedang bermain api.

“Kami baru tahu cerita sebenarnya setelah tiga hari SA (disebut nama terang oleh keluarga, Red) pingsan di rumah sakit. Begitu sadar, dia menangis dan cerita kalau mereka sengaja dikunci dan dibakar oleh kakak kelasnya karena dendam,” ungkap Bibi korban dengan suara bergetar.

Baca Juga: Ini 5 Drama China Populer Wu Lei yang Bikin Kaum Hawa Lupa Jalan Pulang!

Sejak saat itu, keluarga fokus menyelamatkan korban. Berbagai upaya pengobatan dilakukan. Biaya medis yang terus bertambah membuat keluarga harus mencari jalan keluar. Mereka bahkan berutang dan menjual ternak peliharaan untuk menebus obat-obatan.

Fokus pada penyembuhan membuat keluarga baru melaporkan dugaan pembakaran itu ke polisi setelah kondisi korban berangsur membaik.

“Keluarga fokus ke penyembuhan dulu, makanya baru sekarang orang tuanya melaporkan ke polisi dugaan pembakaran ini,” jelas keluarga korban, terisak.

Kini, kondisi fisik korban mulai membaik. Ia sudah bisa keluar ke pekarangan rumah, meski masih membutuhkan bantuan keluarga untuk berjalan. Namun, luka psikologisnya belum sepenuhnya pulih.

Setiap kali ada teman sebaya atau tetangga yang datang berkunjung, korban kerap menutupi diri dengan kain panjangnya. Keluarga menyebut, korban merasa malu dengan kondisi tubuhnya.

“Katanya malu dilihat orang,” kata keluarga korban.

Baca Juga: Pemkab Loteng dan ITDC Perkuat Sinergi Pelayanan Air Bersih di KEK Mandalika

Di akhir perbincangan pada pagi yang kian merambat siang itu, keluarga korban menegaskan satu harapan. Mereka ingin proses hukum berjalan adil bagi korban dan dua rekannya.

“Informasi yang kami peroleh pelaku memang sudah dikeluarkan dari pondok tersebut. Kami ingin keadilan,” pungkasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Lombok Tengah #pembakaran #pondok pesantren #Trauma #santri