Puluhan pemuda Desa Pajangan tampak sibuk mengecat lempengan anyaman ketak dengan warna bendera negara peserta Piala Dunia 2026. Momentum nobar dimanfaatkan pemerintah desa untuk mempromosikan kerajinan ketak dan mengangkat Desa Pajangan sebagai destinasi wisata berbasis ekonomi kreatif.
----
MENJELANG siang, halaman kantor Desa Pajangan, Kecamatan Kopang, tampak lebih sibuk dari biasanya. Di bawah terik matahari, sejumlah pemuda berjongkok dan duduk berkelompok. Di hadapan mereka, tersusun puluhan lempengan rotan berbentuk bundar.
Baca Juga: BURUAN! Tiket MotoGP Mandalika 2026 Mulai Dijual, Diskon Early Bird Tembus 50 Persen
Sebagian sudah berlapis warna merah-putih. Sebagian lain berwarna hijau, kuning, biru, hingga hitam. Kuas-kuas kecil bergerak lincah mengikuti pola. Sesekali, canda dan tawa terdengar di antara para pemuda.
Lembaran rotan itu bukan sekadar hiasan. Dalam beberapa hari ke depan, karya mereka akan menjadi miniatur bendera negara peserta Piala Dunia 2026.
Di sudut lain halaman desa, beberapa warga membantu merapikan lokasi nonton bareng (nobar) Piala Dunia. Persiapan berlangsung secara gotong royong. Euforia pesta sepak bola terbesar di dunia mulai terasa, jauh sebelum pertandingan dimulai.
Bagi Desa Pajangan, nobar bukan hanya soal sepak bola. Di balik layar raksasa dan sorak-sorai warga, tersimpan misi lebih besar. Desa ingin memperkenalkan identitasnya kepada khalayak lebih luas.
Kepala Desa Pajangan Samiun mengatakan, ornamen bendera itu berasal dari kerajinan ketak. Produk unggulan desa itu selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Kita ingin memanfaatkan momentum Piala Dunia ini untuk mengangkat produk lokal. Ketak ini adalah kearifan lokal yang harus terus diperkenalkan,” ujarnya, Selasa (16/6).
Ketak selama ini dikenal sebagai bahan baku anyaman produk rumah tangga dan dekorasi. Kini, lembaran anyaman itu dicat menyerupai bendera negara peserta Piala Dunia. Hasilnya menghadirkan suasana berbeda di lokasi nobar.
Baca Juga: Pemkab Loteng dan ITDC Perkuat Sinergi Pelayanan Air Bersih di KEK Mandalika
Menurut Samiun, produk anyaman ketak asal Pajangan sudah menembus pasar internasional. Sejumlah perajin lokal rutin mengirim produk mereka ke berbagai negara, termasuk Jerman.
Karena itu, Piala Dunia dianggap sebagai panggung promosi. Terlebih di era media sosial. Setiap sudut desa yang menarik bisa menjadi etalase pemasaran. Jangkauannya bahkan bisa sampai pasar global.
“Paling tidak melalui kegiatan seperti ini produk kita bisa semakin dikenal,” katanya.
Baca Juga: Dua Santri Luka Bakar di Lombok Tengah Dapat Bantuan Ayam Petelur dari Pemkab
Selain mendorong promosi UMKM, nobar juga menjadi ruang berkumpul generasi muda desa. Pemerintah desa memusatkan aktivitas warga di lingkungan kantor desa. Tujuannya agar euforia Piala Dunia tetap positif dan terkontrol.
“Supaya anak-anak muda kita tidak berkeliaran ke luar desa. Kita fasilitasi mereka untuk nonton bersama di sini,” ujar Samiun.
Upaya membangun desa wisata juga terus diperkuat melalui kolaborasi. Pemerintah desa menggandeng sejumlah pihak. Mulai Airbnb untuk pelatihan digital marketing, Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, hingga berbagai lembaga pendamping lain.
Baca Juga: Semangat Emak-Emak Ikut Pelatihan Anyaman Rotan Ketak di Lombok Tengah
Harapannya sederhana. Desa Pajangan tidak hanya dikenal karena kemeriahan nobar Piala Dunia. Desa ini juga ingin mengubah euforia sepak bola menjadi peluang ekonomi bagi masyarakatnya.
Editor : Kimda Farida