LombokPost - Kesaksian sopir ekspedisi, sejak memasuki Jawa Timur melalui tol, tak ada solar yang bisa didapatkan di semua rest area. Ada pengelola rest area yang menyiasati dengan memasang tanda “solar habis” untuk menghindari penumpukan kendaraan besar yang bisa merugikan para tenant.
SEMBARI mengantre, mata Rachmat Adinyoto terus mengarah ke penunjuk bahan bakar di dashboard truknya. Jarumnya memang belum menyentuh garis merah. Tapi, kecemasannya sudah lebih dulu sampai di sana.
Memulai perjalanan dari Banyumas, Jawa Tengah, menuju Surabaya, Jawa Timur, sopir ekspedisi pengangkut gula tebu itu sempat mengisi solar di SPBU Jatilawang, Banyumas. Tangki kembali dipenuhi saat melintas di rest area KM 429A ruas Tol Semarang-Solo.
Baca Juga: Kabar Baik Warga KLU! SPBU Pemenang Beroperasi Kembali di Bawah Pertamina
Ia mengira bekal itu cukup membawanya hingga tujuan. Ternyata tidak. Memasuki wilayah Jawa Timur melalui Tol Trans-Jawa, satu per satu papan bertuliskan “Solar Sedang dalam Pengiriman” atau “Stok Habis” menyambutnya di SPBU di setiap rest area.
“Waduh, ndredeg aku, Mbak,” katanya kepada Jawa Pos yang menemuinya saat mengantre solar di SPBU Tambak Osowilangun, Surabaya, Kamis (25/6), sambil tertawa kecil mengingat momen itu.
“Mulai masuk Ngawi sampai Kertosono, lanjut Mojokerto, banyak SPBU yang antreannya mengular. Ada juga yang kosong,” tambahnya.
Baca Juga: Eksekusi Tiga SPBU KLU Menuai Protes
Bisa jadi, solar memang benar-benar habis atau masih dalam pengiriman. Tapi, bisa jadi pula itu strategi pengelola tol untuk menghindari kepadatan di rest area.
Seorang petugas SPBU di Rest Area 754 Tol Surabaya-Sidoarjo, misalnya, sengaja menunjukkan tulisan
“Bio Solar Kosong” kepada truk yang masuk, meskipun sebenarnya pasokan solar masih tersedia, Jumat (26/6). Itu terpaksa dilakukan untuk mengurai dan mencegah penumpukan antrean kendaraan besar di dalam area rest area tersebut.
Baca Juga: Imbas 3 SPBU di Lombok Utara Tutup, Warga Mulai Kesulitan Cari BBM Eceran!
“Sebab, jika truk telanjur membeludak, mobil kecil tidak akan bisa masuk dan berakibat pada sepinya pengunjung di tenant-tenant rest area,” kata petugas yang meminta namanya dirahasiakan itu kepada Jawa Pos.
Hindari Penumpukan
Pertimbangan lain, penumpukan atau kemacetan di jalan tol bisa lebih membahayakan ketimbang di jalan arteri. Untuk itu, petugas PJR II Ditlantas Polda Jatim memberikan imbauan solar habis di pinggir jalan sebelum Rest Area KM 754A dan KM 753B Tol Sidoarjo-Kejapanan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah antrean truk yang mengisi BBM di dua rest area tersebut. Kanit PJR 2 Ditlantas Polda Jatim AKP Mulyani mengatakan, petugas dibagi ke dua rest area tersebut untuk mengatur dan memberikan imbauan.
“Ada laporan kemacetan panjang, sehingga kami lakukan pengecekan dan ternyata antrean solar,” katanya.
Mulyani mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan pengelola jalan tol dan Jasa Marga. “Pengelola rest area diminta segera memberikan informasi kepada petugas apabila solar habis ke depannya,” katanya.
Bagi sopir seperti Rachmat, informasi apa saja terkait solar di hari-hari ini sangat membantu. Misalnya, ketika dia tak kunjung menemukan solar sampai Gerbang Tol Tandes, Surabaya.
Harapan itu akhirnya datang ketika dia mendapat informasi ada solar di SPBU Tambak Osowilangun, Surabaya. Meski, dia masih harus mengantre selama tiga jam.
“Buat kami itu malah termasuk cepat. Di grup WhatsApp sopir, ada teman yang sampai semalaman antre di SPBU dekat (Pelabuhan) Tanjung Perak (Surabaya). Banyak juga yang akhirnya ditolak karena solar habis,” ujarnya.
Berbeda dengan Rachmat yang melintas lewat jalan tol, Mudhofir, sopir ekspedisi yang berangkat dari Karawang, Jawa Barat, memilih jalur bawah setelah lebih dulu mengantarkan barang ke Jogjakarta. Setelah itu, baru ke Surabaya.
Selama perjalanan itu, stok solar masih tergolong aman. Masalah baru ia temui ketika memasuki Surabaya pada Rabu (24/6) malam.
“Saya lihat antreannya panjang sekali,” katanya. “Saya sebenarnya mau ikut antre malam itu di SPBU dekat Terminal Osowilangun, tapi sudah terlalu malam,” tambahnya.
Mudhofir akhirnya memutuskan menitipkan truknya di Terminal Osowilangun. Esok paginya, sekitar pukul 05.00 WIB, ia kembali ke SPBU area Pergudangan Margomulyo untuk mengantre.
Solar baru berhasil ia dapatkan lima setengah jam kemudian. “Katanya stok sudah aman, tapi kok sulit dicari,” ujarnya. (TAZQIA A. ZALZABILLAH, Surabaya-AHMAD REZA, Sidoarjo/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online