Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Masa Pengenalan Sekolah nan Sunyi di SD Ponorogo dan SMP Jember: SDN Nailan Tanpa Murid Baru Lagi, SMPN 4 Tempurejo Bergantung Situasi Perkebunan

Redaksi • Rabu, 15 Juli 2026 | 14:14 WIB
MINIM MURID BARU: Sisyono, guru SMPN 4 Tempurejo, Jember, bersama dua murid baru di kelas VII: Ferdiantoro (kiri) dan Fikri Agus Ramadhani. (JAWA POS)
MINIM MURID BARU: Sisyono, guru SMPN 4 Tempurejo, Jember, bersama dua murid baru di kelas VII: Ferdiantoro (kiri) dan Fikri Agus Ramadhani. (JAWA POS)

LombokPost - Hanya ada 13 siswa di keseluruhan kelas SDN Nailan dan 14 di SMPN 4 Tempurejo, Jember. Persaingan dengan sekolah lain, rendahnya angka kelahiran, dan jumlah pegawai perkebunan menjadi faktor-faktor penyebab.

TAK ada orang tua yang terlihat mengantar sang anak ke SDN Nailan, Ponorogo, Jawa Timur di hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Selasa (14/7). Ruang kelas I dan II pun melompong.

Ini merupakan pemandangan serupa seperti pada MPLS tahun lalu. Sekolah di wilayah Kecamatan Slahung itu tak mendapat satu siswa baru pun.

Baca Juga: SMPN 10 Mataram Gelar Akad Penyerahan Siswa, Awali MPLS dengan Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah

Kepala Desa Nailan Nurhadi mengatakan, saat ini hanya tersisa 13 siswa. Masing-masing tujuh siswa kelas VI, dua di kelas V, satu di kelas IV, dan tiga di kelas III.

Sementara kelas I dan II tanpa murid. "Tahun ini juga tidak ada pendaftar siswa baru. Tinggal kelas III-VI saja," terangnya kepada Radar Ponorogo Grup Jawa Pos pada Selasa (14/7).

MPLS tanpa atau dengan minim murid itu terjadi di berbagai wilayah Jawa Timur. Tak cuma di SD. Di SMPN 4 Tempurejo, Jember, kelas VII hanya diisi dua siswa baru. Mengutip Radar Jember Grup Jawa Pos, total hanya ada 14 pelajar di sekolah tersebut.

Baca Juga: MPLS tanpa Bullying Jadi Komitmen Mataram, Mohan Roliskana Ajak Ayah Antar Anak Sekolah

Kondisi tersebut dipengaruhi banyak faktor. Untuk SDN Nailan, menurut Nurhadi, sekolah tersebut harus bersaing dengan sejumlah sekolah lain di sekitarnya yang lebih diminati masyarakat.

"Di sekitar sini ada MIN, sekolah dasar Gontor, Ar Risalah, kemudian ada juga sekolah di Desa Gundik dan Singkil. Pilihan masyarakat memang cukup banyak," bebernya.

Faktor lain, angka kelahiran di Desa Nailan juga relatif rendah. Dari sekitar 1.400 penduduk, jumlah anak yang memasuki usia sekolah dasar setiap tahun hanya sekitar enam hingga tujuh anak.

Baca Juga: Budi Daya Cabai Masuk MPLS, Gubernur NTB Siapkan Generasi Wirausaha Muda dari Sekolah

Di SMPN 4 Tempurejo yang berada di lingkungan Afdeling Terate, Kebun PTP Nusantara I Rayon 5, jumlah murid otomatis bergantung pada seberapa banyak kepala keluarga (KK) yang bekerja di perkebunan.

"Sekolah di sini ya karena orang tua kerja di sini," kata Fikri Agus Ramadhani, satu dari dua murid baru di SMPN 4 Tempurejo.

Upaya Mempertahankan

Pemerintah Desa Nailan melakukan berbagai upaya mempertahankan keberadaan SDN Nailan. Sosialisasi dilakukan hingga ke kelompok bermain (playgroup) dan taman kanak-kanak (TK), bahkan mengundang orang tua untuk berdiskusi.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. "Saat kami berdialog dengan wali murid, kebanyakan memang ingin anaknya masuk MIN atau sekolah berbasis agama," katanya.

Adapun di SMPN 4 Tempurejo yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Kota Jember, meski hanya ada dua murid pada tahun ini, mereka setidaknya terhibur dengan masuknya aliran listrik dari PLN dan jaringan WiFi. "Setidaknya siswa sudah bisa menggunakan komputer dan memanfaatkan HP (handphone atau ponsel) yang dimiliki," kata Kepala SMPN 4 Tempurejo Wibowo kepada Radar Jember Grup Jawa Pos yang menyaksikan langsung MPLS hari pertama pada Senin (13/7).

Ke-14 siswa SMPN 4 Tempurejo diasuh seorang kepala sekolah dan empat guru lainnya. "Kalau sudah tidak bekerja lagi di perkebunan, otomatis orang tua tidak lagi menempati rumah karyawan kebun. Apalagi, sekarang kondisi kebun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Wibowo.

Dari semula sekitar 40 kepala keluarga menghuni perkebunan tersebut, sekarang jumlahnya berkurang. Pohon-pohon karet tetap ada, tetapi yang dominan sekarang tanaman tebu.

"Alhamdulillah, MPLS tetap semangat dilakukan. Kami tetap bersyukur dengan segala kondisi yang ada," kata Wibowo. (SUGENG DWI. N, Ponorogo-JUMAI, Jember/kid/ttg)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
mpls jember SDN siswa SMPN