Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Upas Bromo Jadi Buruan, Bediding Tretes Magnet Penarik Wisatawan: Dua Destinasi Wisata Jawa Timur pada Titik Dingin yang Menusuk Tulang

Redaksi • Kamis, 16 Juli 2026 | 12:12 WIB
DAYA TARIK: Sejumlah wisatawan berfoto dengan embun banyu pas atau upas di kaldera Gunung Bromo. (JAWA POS)
DAYA TARIK: Sejumlah wisatawan berfoto dengan embun banyu pas atau upas di kaldera Gunung Bromo. (JAWA POS)

LombokPost - Bagi warga Tengger, suhu terendah Bromo yang sempat mencapai 5,6 derajat Celsius tak ubahnya sahabat lama yang rutin berkunjung. Di Tretes, kafe dan penginapan justru ramai.

“KANVAS” putih terhampar di lautan pasir kaki Gunung Bromo, Jawa Timur. Butiran embun yang semalam menempel di pucuk-pucuk ilalang, rerumputan, dan pasir perlahan mengeras.

Masyarakat Tengger menyebutnya banyu pas atau upas. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kawasan Gunung Bromo mencatat suhu minimum 5,6 derajat Celsius dalam periode pengamatan 9 Juli 2026 pukul 07.01 hingga 10 Juli 2026 pukul 7.00.

Baca Juga: Monita Tahalea Kembali ke Jazz Gunung 2025, Fokus Persiapan Fisik Hadapi Cuaca Dingin di Bromo

Angka itu menjadikan Bromo sebagai wilayah dengan suhu terendah di Jawa Timur pada periode tersebut. Namun, bagi warga Desa Ngadisari, desa tertinggi di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, hawa yang menusuk tulang itu tak ubahnya sahabat lama yang datang setiap pertengahan tahun.

Karena itu, kebun tetap didatangi, ladang tetap diolah, dan kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. “Sejak zaman nenek moyang memang begini. Kalau Juli ya pasti dingin, jadi kami sudah biasa,” kata Budi Setyo Waluyo, salah seorang warga Ngadisari, kepada Radar Bromo Grup Jawa Pos.

Sahabat lama itu juga disambut dengan sama gembiranya di kawasan Tretes di lereng Gunung Arjuno-Welirang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Suhu yang sangat dingin justru menjadi magnet penarik wisatawan.

Baca Juga: Gambar Fantastis Gunung Bromo Meraih Penghargaan Fotografer Terbaik Asia Tenggara di The Pano Awards

Deretan kafe dan penginapan justru semakin ramai. Sabtu (11/7) pekan lalu, misalnya, di penghujung musim libur sekolah, menjelang petang, embun sudah membasahi kaca-kaca warung kopi dan beranda vila. Aroma kopi hitam, jagung bakar, dan wedang jahe bercampur dengan udara pegunungan yang menusuk kulit.

“Rasanya beda dibanding di Surabaya. Minum kopi jadi lebih nikmat kalau udaranya begini,” ujar Rina, wisatawan asal Surabaya, kepada Radar Bromo Grup Jawa Pos.

Pada Senin (13/7) lalu, Stasiun Geofisika Pasuruan mencatat, suhu minimum Tretes menyentuh 13,6 derajat Celsius. Hal itu menempatkannya sebagai wilayah terdingin kedua di Jawa Timur, hanya kalah dari Bromo.

Baca Juga: Terbakar, Bukit Teletubies Gunung Bromo Ditutup Sementara untuk Wisatawan

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, destinasi wisata dan petualangan andalan Jawa Timur, tersebar di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Tretes yang berada di tengah-tengah dua kota terbesar di provinsi paling timur di Pulau Jawa, Surabaya dan Malang, sudah menjadi tujuan wisata sejak zaman penjajahan Belanda.

Pengaruh Angin Muson Timur

Menurut BMKG, suhu sangat dingin belakangan merupakan bagian dari fenomena bediding. Langit yang nyaris tanpa awan membuat panas bumi lepas begitu cepat ke atmosfer pada malam hari.

Di sisi lain, angin muson timur yang bertiup dari daratan Australia membawa massa udara kering dan dingin ke Pulau Jawa. Perpaduan keduanya membuat malam-malam di Bromo dan Tretes terasa begitu menusuk tulang.

Di Bromo, bediding disikapi dengan kearifan lokal. Di antaranya ditunjukkan melalui cara warga memilih menanam bawang prei.

Tanaman tersebut dinilai lebih tahan terhadap suhu rendah dibanding kentang. “Kentang jarang karena kalau terkena embun beku sering mati dan hasilnya tidak maksimal,” jelas Budi.

Dingin juga menghadirkan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang terasa hangat. Jika dahulu warga mengandalkan kayu bakar untuk mengusir hawa beku, kini sebagian besar rumah telah menggunakan kompor gas maupun kompor listrik. Meski demikian, dapur tetap menjadi ruang paling akrab ketika udara mulai menusuk.

Di sanalah keluarga berkumpul, kopi diseduh, dan tamu yang datang biasanya dipersilakan mendekat agar tubuhnya kembali hangat. “Kami tetap menjalankan adat istiadat leluhur kami. Warga sudah tahu tanaman apa yang cocok,” kata Kepala Desa Ngadisari Sunaryono.

Sementara bagi wisatawan, dinginnya Bromo justru menjadi undangan yang sulit ditolak.  “Ada pelanggan yang datang lagi tahun ini karena tahun kemarin tidak sempat melihat upas. Alhamdulillah sekarang bisa melihat langsung,” kata Umam, salah seorang pengemudi jip wisata.

Siasat Keseharian

Bagi warga yang menetap di kawasan Tretes, dingin adalah keseharian yang perlu disiasati. Riko Hardiansyah, misalnya, harus memanaskan air sebelum anak-anaknya mandi dan sekolah.

“Kalau pagi airnya dingin sekali. Tapi, kami senang karena banyak wisatawan datang. Warung-warung juga jadi lebih ramai,” katanya.

Menjelang malam, kabut kembali turun menutupi perbukitan. Lampu-lampu vila menyala satu per satu. Uap dari kopi masih mengepul di tangan para pengunjung. Tretes di 13,6 derajat Celsius, bagi warga, itu rutinitas. Bagi wisatawan, itu alasan untuk datang. (INNEKE AGUSTIN, Kabupaten Probolinggo-MUHAMAD BUSTHOMI, Kabupaten Pasuruan/gus/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
bediding tretes wisatawan penginapan jawa timur bromo