Ijuk aren dan sabut kelapa yang dirajut rapi masyarakat setempat menjadi kunci utama kesuksesan reklamasi tambang AMMAN. Lereng bukit yang awalnya terlihat tandus, bekas tumpukan material tambang kini kembali hijau.
ABDUL FARUK—SUMBAWA BARAT
Lombok Post masih penasaran, bagaimana ijuk yang dihasilkan pekerja dan pengusaha lokal ini digunakan untuk kepentingan reklamasi. Menjawab rasa penasaran itu, saya mencoba mendatangi area reklamasi AMMAN. Karena berada di area utama pertambangan, pengawasan terhadap pengunjung yang masuk ternyata super ketat.
Beruntung, saya dibantu Mas Ramadit, salah satu staf Corporate Communication (Corcom) AMMAN. Bagi media di NTB, sosok pria energik ini sangat familiar. Sebab, sehari-hari ia bertugas menjembatani komunikasi antara media dengan perusahaan.
Setelah semua urusan administrasi sebagai visitor tuntas, Lombok Post pun berkesempatan melihat dari dekat area reklamasi. Awalnya saya sedikit tak percaya, area hijau yang tunjukkan hari itu adalah bukit yang dulu pernah ditambang.
Dari jauh, jejak terasering raksasa yang dulunya bertelanjang tanah dan batuan keras, kini dilapisi vegetasi yang kian lebat. Setiap tingkatan lereng ditata rapi, membentuk garis presisi membukit, sebuah bukti kerja keras mengembalikan napas hutan di tanah yang telah memberi kekayaan mineral.
‘’Ijuk yang dihasilkan pengusaha lokal itu menjadi ijuk blanket. Ini yang dipasang di area lereng reklamasi. Fungsinya melindungi permukaan tanah dari gerusan air hujan sebelum tanaman tumbuh kuat,’’ jelas Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communication AMMAN yang sejak tadi sudah menunggu di lokasi.
Baca Juga: Menenun Hijau di Tanah Bekas Tambang Amman: Jalinan Ijuk, Komitmen dan Keringat Pekerja (2)
Perempuan cantik berdarah Tionghoa yang akrab disapa Vina ini menjelaskan, mengembalikan keasrian hutan di lereng terjal bekas tambang bukan perkara mudah. Tantangan erosi dan tanah yang labil menjadi momok manakutkan bagi setiap bibit pohon yang ditanam.
‘’Ada solusi cerdas dari kearifan material lokal, yaitu ijuk,’’ katanya dengan nada ramah.
Dulunya, bukit hijau itu dilapisi hamparan ijuk yang dibentangkan menutupi permukaan lereng. Serat hitam alami itu berfungsi sebagai penopang vital, menahan gempuran air hujan, mencegah erosi tanah, sekaligus menjaga kelembapan agar benih dan tanaman muda dapat mengakar kuat.
Di atas bentangan ijuk inilah, kehidupan baru dimulai. ‘’Keberhasilan reklamasi ini tidak hanya dicapai melalui alat berat atau tehnologi canggih semata. Tapi juga lewat tangan terampil masyarakat sekitar,’’ katanya lagi.
Dari keterangan Vina, cara AMMAN menangani reklamasi tambang tidak hanya fokus pada hasil akhir. Penanganan reklamasi dimulai dengan melibatkan masyarakat lokal setempat, mulai dari penyediaan ijuk blanket hingga bibit pohon.
‘’Ini komitmen perusahaan sejak awal. Reklamasi tambang AMMAN, menyatukan lingkungan dan ekonomi,’’ jelasnya singkat.
Untuk bibit, AMMAN memberdayakan petani pembibitan di Desa Tongo dan Desa Sekongkang, Kecamatan Sekongkang. Tanaman endemik, yang hidup di sekitar area tambang. Dari pemberdayaan ini, petani bisa mempekerjakan warga lokal. Mereka membibitkan berbagai varietas tanaman, termasuk merbau, suren sentul, kemiri, aren dan rotan.
‘’Pembibitan di wilayah Tongo, ada sekitar 26 varietas yang berhasil dibudiayakan di nursery (tempat pembibitan,red) yang dikelolah petani setempat,’’ jelasnya lagi.
AMMAN juga menggandeng Elizabet Najib, petani pembibitan tradisional yang sudah cukup lama bergelut, mengelola pembibitan dari Desa Sekongkang.
Bersama dua kelompok persemaian masyarakat setempat, AMMAN berkomitmen untuk terus berkontribusi positif terhadap lingkungan. Termasuk dalam hal reklamasi, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang dari sisi ekonomi.
‘’Reklamasi tambang menggunakan produk dan bibit lokal,’’ katanya mengurai.
Baca Juga: Menenun Hijau di Tanah Bekas Tambang Amman: Jalinan Ijuk, Komitmen dan Keringat Pekerja (1)
Pelibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama program AMMAN. Vina menegaskan, perusahaan juga memberikan pendampingan teknis dan penguatan kapasitas agar program ini memberikan manfaat. ‘’Masyarakat terlibat langsung sebagai pemasok material pendukung reklamasi, seperti ijuk dan coconet (sabuk kelapa,red), termasuk bibit pohon,’’ ujarnya seraya menunjuk lahan reklamasi dari bibit pohon lokal yang kini tumbuh subur di kawasan Batu Hijau.
Berapa bibit pohon yang dibeli AMMAN dari masyarakat selama reklamasi? Mantan presenter Metro TV ini mengaku, hingga akhir tahun 2024, lebih dari 575.197 bibit pohon dari Community Nursery telah ditanam di area reklamasi AMMAN. Pada tahun 2025, dua community nursery di Tongo dan Sekongkang mampu memasok 82 persen kebutuhan bibit reklamasi.
Kapasitas produksi hingga 300.000 bibit per tahun. ‘’Sebagian besar kebutuhan bibit reklamasi AMMAN kini dipenuhi oleh persemaian masyarakat lokal. Bibit pohon di Tongo dan Sekongkang. Sabuk atau ijuk blanket dari Jereweh dan Maluk. Sebagian lagi dari Kecamatan Taliwang,’’ paparnya.
Vina semakin bersemangat menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan AMMAN hingga saat ini. Sebagai mantan presenter TV, penjelasan-penjelasan yang diberikannya cukup mudah dimengerti. Meskipun ada beberapa istilah asing dalam proses reklamasi yang baru didengar, Vina buru-buru meralat, menggunakan kalimat sederhana.
‘’AMMAN mengutamakan penggunaan spesies lokal (Native Species,red) Sumbawa Barat untuk mengembalikan karekteristik ekosistem alami,’’ kata Vina lagi.
Hampir seluruh vegetasi yang digunakan dalam proses reklamasi ini mengambil spesies atau tanaman lokal setempat.
Cukup beralasan, sebab jika mengambil spesies tanam dari luar, selain membutuhkan waktu dan biaya tambahan, spesies luar akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekitar tambang yang panas dan berbatu.
Beberapa jenis tanaman umum yang digunakan di antaranya ipil atau merbau, binong, rotan, aren serta berbagai jenis tanaman lokal lainnya.
‘’Keseluruhan, AMMAN telah mengembangkan lebih dari 99 jenis tanaman asli untuk mendukung kegiatan reklamasi di Batu Hijau,’’ urainya.
Sesuai aturan, AMMAN diwajibkan melakukan reklamasi terhadap semua kawasan yang dibuka untuk operasional pertambangan batuan tembaga dan emas yang mereka kelola.
Vina mengurai satu persatu kewajiban reklamasi yang telah dilaksanakan perusahaan hingga saat ini. ‘’Kami melaksanakan reklamasi secara bertahap dan beriringan dengan kegiatan operasoinal tambang,’’ jelasnya.
Baca Juga: Nilai Tambang Mengalir Lebih Jauh, Jejak AMMAN dalam Menggerakkan Ekonomi NTB
Hingga akhir tahun 2024, total area yang telah dibuka untuk operasional tambang Batu Hijau mencapai 3.584,64 hektare. Angka ini dipastikan akan terus bertambah, seiring masih beroperasinya perusahaan hingga beberapa tahun ke depan.
‘’Ini kita kelola dan rehabilitasi secara bertahap sesuai rencana reklamasi yang ditelah disetujui pemerintah,’’ katanya menguraikan.
Komitmen AMMAN merealisasikan kewajiban reklamasi pertambangan pun naik signifikan dari tahun ke tahun. Hingga Mei 2026, AMMAN telah melaksanakan reklamasi sekitar 881 hektare.
Pada tahun 2025 lalu, perusahaan juga mencatat capaian reklamasi tahunan terbesar sepanjang sejarah operasional Batu Hijau yaitu 92,67 hektare. ‘’Luas reklamasi ke depan akan terus bertambah, seiring kemajuan operasi tambang dan pelaksanaan rencana reklamasi yang telah mendapat persetujuan pemerintah,’’ jelasnya lebih jauh.
Tak heran, dari keberhasilannya ini, AMMAN menjadi perusahaan pertambangan yang konsisten meraih penghargaan nasional maupun dunia di bidang lingkungan dan reklamasi.
Beberapa penghargaan itu antara lain Subroto Award tahun 2023, diberikan atas inovasi penyediaan dan pengelolaan fasilitas pembibitan lewat program inovasi persemaian masyarakat untuk mendukung reklamasi dari Kementerian ESDM.
Good Mining Practice (GMP) Award, penghargaan berkala dengan meraih trofi tertinggi Aditama untuk aspek pengelolaan lingkungan hidup, konservasi serta tehnis pertambangan yang baik serta Proper Hijau yang mereka raih berulang kali, termasuk pengukuhan dari Kementerian Lingkungan Hidup atas pengelolaan lingkungan yang melampaui standar.
Adapun inovasi dari program reklamasi yang mengantarkan AMMAN meraih penghargaan ini termasuk persemaian masyarakat. Inovasi ini melibatkan masyarakat lokal seperti di Desa Tongo dan Sekongkang dalam menyediakan ratusan ribu bibit tanaman endemik untuk penghijauan kembali area bekas tambang.
‘’Termasuk teknologi pemantauan. Memanfaatkan pemetaan modern seperti indeks vegetasi NDVI dan camera trap guna mengukur tingkat keberhasilan pemulihan ekosistem serta memantau flora dan fauna di area reklamasi,’’ katanya mantap. (*)
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan