Puluhan Medali Diraih dari Berbagai Lomba Sains
LombokPost- Cita-cita Tristan Naufal Ardhani tak biasa. Di usia sekolah dasar, siswa SDN 13 Mataram ini sudah menentukan profesi yang ingin digelutinya kelak. Bukan dokter atau pilot, melainkan bioinformatikawan.
--------------------
BAGI Naufal, cita-cita bukan sekadar jawaban ketika ditanya guru di kelas. Siswa SDN 13 Mataram itu sudah memiliki gambaran tentang profesi yang ingin digelutinya kelak. Bukan dokter. Bukan pula pilot. Naufal justru ingin menjadi bioinformatikawan.
Profesi tersebut berkaitan dengan pemanfaatan ilmu komputer, matematika, dan statistika untuk menganalisis serta mengelola data biologis yang kompleks. Bagi Naufal, ketertarikan pada sains dan teknologi membuat profesi bioinformatikawan terasa menarik untuk dikejar.
Mimpi itu tidak muncul begitu saja. Sejak dini, Naufal aktif mengikuti berbagai olimpiade sains. Sejumlah prestasi berhasil dikoleksinya dalam kompetisi tingkat daerah hingga nasional.
Dibalik sederet prestasi tersebut, ada kebiasaan belajar yang disiplin. Naufal rutin mengikuti pembelajaran nonformal hingga lima kali dalam sepekan.
Baca Juga: PGRI Mataram Soroti Pengawas Rangkap Plt Kepala Sekolah
“Kiatnya sih mungkin cuma rajin belajar, dan saya memang sering mengikuti les atau pembelajaran nonformal itu lima kali seminggu," ujar anak pertama pasangan Bastian SE,MM dan apt Dian Wirastina S,far.
Untuk memperkuat kemampuannya, Naufal mengikuti pembelajaran di tiga tempat. Bimbel Guruku untuk materi umum, English 1 Lombok untuk memperdalam bahasa Inggris, serta Timedoor Academy Mataram untuk belajar coding dan komputer.
Kebiasaan tersebut menjadi modal Naufal mengenal dunia sains digital sejak usia dini. Minatnya terhadap teknologi pun semakin berkembang karena mendapat tantangan belajar di sekolah yang disesuaikan dengan kemampuannya.
Baca Juga: OBA ke-9 NTB Diikuti 116 Siswa, Bahasa Arab Diperkuat di Era AI
Melalui pembelajaran berdiferensiasi, guru memberikan soal dengan tingkat kesulitan dan kompleksitas lebih tinggi. Cara tersebut membuat Naufal terus terpacu mengembangkan kemampuan berpikir dan analisis.
“Kalau di kelas, saya itu sering dikasih soal-soal yang tingkatannya lebih sulit daripada teman-teman saya, dan juga lebih kompleks," jelasnya.
Perjalanan Naufal di dunia olimpiade sains dimulai ketika masih duduk di bangku TK. Saat pandemi Covid-19, ia mengikuti kompetisi secara daring. Kompetisi pertama itu langsung berbuah medali emas.
Baca Juga: Banyak Kasek Masih Plt, Disdik Mataram Jelaskan Kendalanya
“Semenjak pertama kali ikut Olimpiade itu waktu TK. Waktu itu pertama kali ikut online pas zaman Covid, dan langsung meraih medali emas. Setelah itu, saya jadi suka sekali ikut kompetisi," kenangnya.
Sejak saat itu, kompetisi menjadi bagian dari proses belajar Naufal. Berbagai ajang diikuti, baik secara daring maupun luring. Prestasi pun terus bertambah.
Pada 2022, Naufal meraih peringkat pertama Olimpiade IPA level 1. Pada tahun yang sama, ia juga masuk lima terbaik nasional dalam kompetisi online bidang sains.
Baca Juga: Poltekkes Mataram Latih Kader Prolanis KLU
Setahun berikutnya, Naufal meraih juara tiga olimpiade sains tingkat nasional secara online. Kemudian pada 2024, ia meraih medali perunggu Olimpiade Sains HIMSO tingkat nasional di Surabaya dan medali perak Olimpiade Matematika Sains Indonesia (OMSI) bidang sains.
Prestasinya semakin beragam pada 2025. Naufal meraih medali pada final tingkat provinsi Olimpiade Nasional bidang sains level 2. Ia juga meraih medali emas Olimpiade Matematika, Sains, dan Bahasa Inggris Apeiron bidang sains level 2 serta menjadi finalis olimpiade sains tingkat nasional di Surabaya.
Tak hanya bidang sains. Kemampuan bahasa Inggris Naufal juga berkembang. Ia pernah menjadi juara favorit pertama dalam story telling competition dan meraih sejumlah prestasi dalam kompetisi bahasa Inggris.
Naufal juga meraih medali perak bidang sains level C sekaligus menjadi perwakilan NTB di tingkat nasional dalam Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary and Secondary Schools (ASMOPSS) 2025 yang digelar Surya Institute.
Baca Juga: Unram Perkuat Literasi Warga Pesisir Lewat Character Building
Deretan prestasi tidak membuat Naufal menganggap setiap kompetisi harus selalu berakhir dengan kemenangan. Ia juga pernah kalah. Namun, pengalaman tersebut justru dijadikannya sebagai bahan belajar.
Naufal memilih memperhatikan peserta yang berhasil menjadi juara. Dari sana, ia mencoba memahami cara belajar dan strategi yang membuat peserta lain mampu meraih hasil terbaik.
“Kalau misalnya ada beberapa olimpiade atau kompetisi yang saya kalah, itu biasanya saya belajar dari yang menang. Kira-kira mereka cara belajarnya gimana, terus cara meraih itu semua kayak gimana," ungkapnya.
Baca Juga: Kasus Korupsi Rektor Unsoed Dinilai Jadi Momentum Audit Menyeluruh PTN
Sikap tersebut membuat olimpiade sains bagi Naufal bukan sekadar ajang mengejar medali. Kompetisi menjadi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus belajar dari pengalaman.
Dukungan keluarga dan sekolah turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Naufal. Saat lolos mengikuti olimpiade sains di Surabaya, sekolah memberikan uang pembinaan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan. Dukungan itu membuat Naufal semakin leluasa mengembangkan minatnya pada sains, matematika, bahasa Inggris, coding, dan teknologi.
Kini, cita-cita Naufal semakin spesifik. Ia ingin menjadi bioinformatikawan sekaligus peneliti di bidang biologi yang memanfaatkan teknologi komputer.
Baca Juga: BGN Siapkan Aktivasi 2.700 Dapur MBG Baru hingga September 2026, Prioritaskan Wilayah 3T
"Saya ingin menjadi seorang peneliti di bidang biologi yang menggabungkan ilmu sains biologi dengan ilmu komputer," kata Naufal.
Menurutnya, bioinformatikawan merupakan profesi yang menggabungkan ilmu biologi dan komputer. Bidang tersebut dapat digunakan untuk membantu penelitian, termasuk mempelajari struktur DNA dan mendeteksi virus baru.
Karena itu, kebiasaan belajar, pengalaman mengikuti olimpiade sains, serta ketertarikannya terhadap coding terus diasah. Semua pengalaman tersebut menjadi bekal Naufal untuk mengejar cita-cita sebagai bioinformatikawan.
Baca Juga: Update soal 3 Pemain Pinjam Meminjam AC Milan
Dengan dukungan keluarga dan sekolah, Naufal SDN 13 Mataram terus mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademiknya. Deretan prestasi sejak TK menjadi pijakan awal bagi siswa tersebut untuk mengejar mimpi di dunia sains dan teknologi.
Dari bangku sekolah dasar, Naufal kini telah memiliki tujuan yang jelas. Terus belajar, memperkuat kemampuan sains dan teknologi, serta suatu hari menjadi bioinformatikawan yang berkiprah di bidang penelitian biologi.(Ali Rojai)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post