Kronologis Keracunan Menu MBG di SDN Beber: Selain Siswa, Guru Ikut Juga jadi Korban

Lestari Dewi • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 07:18 WIB
MASIH TRAUMA: Sejumlah guru SDN Beber, Desa Beber Batukliang, Lombok Tengah menceritakan kronologis dugaan keracunan menu MBG yang menimpa ratusan siswa pada pekan lalu.
MASIH TRAUMA: Sejumlah guru SDN Beber, Desa Beber Batukliang, Lombok Tengah menceritakan kronologis dugaan keracunan menu MBG yang menimpa ratusan siswa pada pekan lalu.

 

Gejala keracunan muncul sekitar pukul 10.00 Wita di SDN Beber, sejam setelah menu MBG dibagikan. Setelah sibuk mengawal evakuasi ratusan siswa ke puskesmas, pertahanan Azian Liliana, dia dan empat guru SDN Beber lainnya ikut runtuh akibat turut menyantap menu MBG yang sama.

----

PAGI di SDN Beber, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, mulanya berjalan normal. Sekitar pukul 09.00 Wita, ratusan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) dibagikan kepada para murid. Waktu tempuh belajar yang singkat di hari Jumat (11/9), membuat pihak SPPG memberikan menu kebab.

“Secara kasat mata, saya cek kondisi makanan pada pagi itu memang kondisinya baik,” kenang Azian Liliana, salah satu guru di SDN Beber, Senin (14/9).

Baca Juga: Satgas MBG Loteng Kumpulkan SPPG, Pengawasan Ketat dari Hulu ke Hilir Harga Mati!

Para murid menyantap jatahnya dengan lahap sebelum kembali masuk ke ruang kelas sejam kemudian. Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 Wita, persis saat Azian baru saja memulangkan siswa kelas 1, ketenangan sekolah mendadak pecah ketika murid-murid kelas 2 mulai mengeluhkan rasa sakit yang tak tertahankan di bagian perut.

Suasana berubah menjadi kepanikan massal. Awalnya hanya satu dua anak yang merintih kesakitan dan dibopong ke ruang kepala sekolah. Namun, dalam hitungan menit, gelombang anak-anak yang mengerang pusing, mual, hingga muntah terus berdatangan.

“Jarak beberapa menit, ada lagi siswa yang dibawa ke ruang kepala sekolah. Semakin lama semakin banyak,” tutur Azian.

Baca Juga: Guru SDN Beber Tolak MBG, Dituding Jadi Penyebab Keracunan Siswa

Ruang kepala sekolah yang sempit tak lagi sanggup menampung tubuh kecil anak-anak yang bertumbangan. “Ramai sekali, semua panik sampai-sampai staf desa juga ikut datang,” ucapnya.

Kepanikan kian meluas ke luar gerbang sekolah. Informasi mengenai puluhan anak yang bertumbangan beredar cepat secara real-time di media sosial melalui siaran langsung yang diunggah warga sekitar. Siaran live ini sengaja dilakukan warga karena bingung dan tak punya akses untuk menghubungi para wali murid yang jumlahnya mencapai ratusan.

Kabar buruk itu pun menyebar. Tak berselang lama, para orang tua siswa berdatangan ke sekolah dengan wajah pucat dan napas terengah-engah. Isak tangis, teriakan memanggil nama anak memenuhi halaman SDN Beber. “Siapa pun pasti akan panik ketika melihat anak-anak kesakitan,” sambung Is, guru lainnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Terulang Lagi! Pemkab Lakukan Evaluasi Total Program MBG di Loteng

Para ibu saling berdesakan mencari keberadaan buah hati mereka di tengah riuhnya sirene ambulans dan hilir mudik warga yang mengevakuasi korban. Lorong sekolah mendadak riuh oleh tangis histeris para siswa dan jerit ketakutan para orang tua.

Mengingat jumlah korban yang membengkak, para guru bersama warga bergerak cepat melakukan evakuasi darurat. Sebagian siswa dilarikan ke Puskesmas Aik Darek. Karena daya tampung tak memadai dan gejala kian meluas, sebagian murid lainnya dilarikan ke Puskesmas Pringgarata menggunakan ambulans.

Azian bersama seorang rekan guru dan pengurus komite sekolah mendampingi para murid di dalam ambulans. Memastikan agar anak-anak segera mendapat penanganan di puskesmas terdekat.

Baca Juga: Lempar Handuk, Pemilik SPPG Tuding Keterlambatan Sekolah dan Anak Tak Sarapan Picu Keracunan MBG

Dukungan penuh diberikan para tenaga pendidik sepanjang hari. Azian baru bisa bernapas lega saat sore menjelang, setelah memastikan seluruh anak didiknya mendapat penanganan medis dan diperbolehkan pulang.

Ia juga sempat kembali ke rumah untuk membersihkan diri, sebelum akhirnya bergegas menuju Puskesmas Pringgarata guna memantau sisa murid yang masih dirawat. Namun, di sanalah benteng pertahanan tubuhnya runtuh.

Setibanya di puskesmas, rasa mual mendadak mengocok perut Azian. Kepala pusing berputar, disusul rasa sakit perut hebat dan muntah-muntah. Gejala serupa yang melumpuhkan ratusan siswanya sejak pagi kini menyerang dirinya sendiri. Tak hanya Azian, empat guru lainnya yang ikut mengonsumsi menu MBG hari itu juga bertumbangan mengalami keracunan.

“Berlima guru yang ikut jadi korban keracunan,” katanya.

Baca Juga: MotoGP dan KEK Mandalika Dongkrak Investasi Loteng, Lima Tahun Tembus Rp 17,12 Triliun

Dari total 270 paket MBG yang disalurkan untuk 252 murid dan para guru, petaka itu menyisakan trauma mendalam. Pascainsiden itu, sebagian ruang kelas di SDN Beber masih menyisakan kursi-kursi kosong. Rasa takut masih membayangi para siswa, membuat mereka menolak menyentuh menu MBG dan memilih membawa bekal sendiri dari rumah.

“Masih trauma sampai sekarang,” tukasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
ratusan murid Lombok Tengah Guru keracunan mbg kronologis