Betabeq Menjelang MotoGP Mandalika 2026, Tradisi Sasak Membawa Doa, Restu, dan Kebersamaan

Lestari Dewi • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 10:09 WIB
MALAM SAKRAL: Chairman MotoGP Mandalika 2026 Troy Reza Warokka (dua kanan) memberikan potongan nasi tumpeng kepada perwakilan tokoh masyarakat dalam acara tradisi Betabeq jelang MotoGP di Sirkuit Internasional Mandalika, Rabu (16/9).
MALAM SAKRAL: Chairman MotoGP Mandalika 2026 Troy Reza Warokka (dua kanan) memberikan potongan nasi tumpeng kepada perwakilan tokoh masyarakat dalam acara tradisi Betabeq jelang MotoGP di Sirkuit Internasional Mandalika, Rabu (16/9). 

 

Tradisi Betabeq di KEK Mandalika digelar sebagai bentuk permohonan izin, restu, dan doa keselamatan warga Sasak menjelang MotoGP Mandalika 2026. Acara ini menegaskan bahwa megahnya ajang balap internasional di Mandalika tetap berakar kuat pada budaya lokal dan keterlibatan masyarakatnya.

----

ANGIN malam pesisir selatan berembus perlahan melintasi lintasan aspal Sirkuit Internasional Mandalika, Rabu (16/9) malam. Di balik kemegahan panggung balap kelas dunia yang bersiap menyambut MotoGP Mandalika 2026, sebuah keheningan bernuansa sakral merayap pelan.

Malam itu, mesin-mesin balap belum meraung. Sebagai gantinya, gumaman doa dan kehangatan silaturahmi membumbung ke udara. Masyarakat Sasak di lingkar Mandalika berkumpul bersama para petinggi dan penyelenggara, menghidupkan kembali tradisi luhur Betabeq.

Baca Juga: 383 Nakes dan 68 Ambulans Disiapkan untuk MotoGP Mandalika 2026

Di antara aroma wewangian dan jejeran dulang penutup saji yang sarat nilai kebersamaan, tradisi ini menegaskan satu pesan bahwa Mandalika boleh mendunia, namun kakinya tetap menancap kuat pada akar budaya leluhur.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memandang Betabeq bukan sekadar prosesi seremonial jelang balapan. Di dalamnya terkandung etika penghormatan tertinggi kepada tokoh adat, tokoh agama, masyarakat lokal, hingga para leluhur yang menjaga tanah Lombok.

"Sekaligus pesan persaudaraan dan penerimaan terhadap siapa pun yang datang," kata gubernur.

Baca Juga: ITDC Kejar Homologasi Sirkuit Mandalika untuk MotoGP 2026

Bagi Miq Iqbal, sapaan akrabnya, hadirnya tradisi ini memastikan bahwa megahnya KEK Mandalika tidak merenggut hakikat masyarakat lokal. Warga NTB tidak boleh sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.

Keterlibatan 2.500 marshal dari warga sekitar serta ruang luas bagi UMKM lokal menjadi bukti nyata bahwa deru pembangunan berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat.

Chairman MotoGP Mandalika 2026 Troy Reza Warokka mengatakan, tradisi Betabeq mencerminkan karakter unik penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika, di mana standar kejuaraan internasional berpadu harmonis dengan nilai, kehangatan, dan identitas budaya masyarakat NTB.

"Ketika dunia datang ke NTB, kita memiliki kesempatan untuk menunjukkan bukan hanya kualitas penyelenggaraan event, tetapi juga keramahan, kebersamaan, dan kekayaan budaya daerah," tegas Troy.

Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026 Makin Dekat, Extra Flight Disiapkan

Untuk mewujudkan hal tersebut, ITDC mengusung tiga strategi pendekatan utama, yaitu sosialisasi kepada pemangku kepentingan, penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan melalui pendekatan budaya, dan peningkatan kesiapan masyarakat NTB sebagai tuan rumah yang aman dan berkesan.

"Kita ingin setiap tamu dan penonton yang datang merasakan nilai-nilai Sapta Pesona dan membawa pulang kenangan indah dari Lombok," tambah Troy.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
betabeq tradisi MotoGP Mandalika 2026 ITDC Sirkuit Internasional Mandalika