Dari Obrolan Kopi ke Jerman, Dr Dewi Bawa Riset Hak Anak ke Kassel

Jay • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 16:27 WIB
LINTAS BUDAYA: Dr Dewi Satria Elmiana, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unram (kiri) meraih Georg Forster Research Fellowship dari Alexander von Humboldt Foundation, Jerman.
LINTAS BUDAYA: Dr Dewi Satria Elmiana, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unram (kiri) meraih Georg Forster Research Fellowship dari Alexander von Humboldt Foundation, Jerman.

 

Raih Fellowship Jerman, Menghubungkan Pendidikan dan Hak Anak Lintas Budaya

 

Dr Dewi Satria Elmiana, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unram raih fellowship Jerman untuk riset hak anak. Dari Lombok, ia mengembangkan bahan ajar lintas budaya di Kassel.

 

----------------------

Secangkir kopi, percakapan ringan, lalu berujung pada sebuah proposal penelitian. Begitulah awal perjalanan Dr Dewi Satria Elmiana hingga akhirnya meraih Georg Forster Research Fellowship dari Alexander von Humboldt Foundation, Jerman.

Tidak ada rencana besar yang disiapkan sejak awal. Hanya percakapan tentang pendidikan, penelitian, dan kemungkinan kolaborasi lintas negara. Namun, dari percakapan itulah gagasan riset hak anak berkembang.

Kini, akademisi Universitas Mataram (Unram) itu bersiap membawa penelitian tentang pendidikan dan hak anak ke Universität Kassel, Jerman.

Baca Juga: SMKN 1 Jonggat Gandeng Unesa, Perkuat Kompetensi Guru dan Pendidikan Vokasi

Dr Dewi merupakan Wakil Ketua Kantor Urusan Internasional Unram sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Melalui Georg Forster Research Fellowship kategori Experienced Researcher, ia akan menjalankan penelitian di Institute of Education atau Institut für Erziehungswissenschaft, Universität Kassel, September 2026 hingga Agustus 2027.

Penelitiannya berjudul “Cross-Cultural Development of Teaching Materials on Children’s Rights and Basic Needs”. Fokusnya mengembangkan bahan ajar yang mempertemukan perspektif pendidikan Indonesia dan Jerman dalam isu hak anak dan kebutuhan dasar.

Cerita fellowship itu bermula ketika tiga profesor dari Universität Kassel berkunjung ke Unram pada tahun sebelumnya. Dr Dewi turut mendampingi. Dalam suasana yang jauh dari kesan formal, pembicaraan mengalir ke berbagai persoalan pendidikan dan kemungkinan kolaborasi akademik.

Baca Juga: Hasil Tes IQ SMPN 17 Mataram Ungkap Potensi Siswa, Guru Siapkan Pendampingan

Salah seorang profesor tertarik dengan gagasan penelitian Dr Dewi. Percakapan santai sambil minum kopi itu kemudian berlanjut melalui sejumlah pertemuan daring. Dari sana, gagasan perlahan menjadi proposal penelitian yang diajukan melalui skema Georg Forster Research Fellowship.

“Terkadang, hal-hal yang paling bermakna bermula dari percakapan yang tak pernah kita duga,” ungkap Dr Dewi.

Penelitian itu tidak bertujuan membawa satu model pendidikan dari Jerman untuk diterapkan begitu saja di Indonesia. Dr Dewi mencoba melihat bagaimana isu hak anak dan kebutuhan dasar dapat diterjemahkan menjadi bahan ajar yang dekat dengan kehidupan anak, terutama usia dini hingga sekolah dasar awal.

Baca Juga: Dana Rehab Tahap II SMAN 4 Mataram Belum Cair, Finishing Kelas Baru Tertahan

Usia sekitar enam tahun menjadi salah satu perhatian utama. Pada fase itu, anak mulai membangun pemahaman tentang tubuh, kebutuhan, batas diri, serta hak-haknya. Materi yang dikembangkan akan menyentuh kesadaran tubuh, kebutuhan dasar, hak anak, hingga pencegahan kekerasan dan penyalahgunaan terhadap anak.

Konteks budaya menjadi perhatian penting. Materi pendidikan tidak cukup hanya benar secara pedagogis, tetapi juga perlu dekat dengan lingkungan sosial dan budaya anak. Perspektif pendidikan Jerman akan dipertemukan dengan konteks Indonesia, khususnya Lombok, untuk menemukan pendekatan pembelajaran yang lebih relevan.

Mahasiswa calon guru juga akan dilibatkan dalam pengembangan bahan ajar dan pembelajaran kolaboratif.

Proses itu sekaligus menjadi ruang belajar bagi calon pendidik untuk memahami penerapan pendidikan berbasis hak anak secara kontekstual.

Baca Juga: Komunitas Komunikasi Hulu-Hilir: Kopi Lombok, Mencicipi Keragaman Kopi Lombok dalam Satu Meja

Kebaruan penelitian berada pada integrasi perspektif lintas budaya dalam pengembangan bahan ajar mengenai hak anak dan kebutuhan dasar.

Bahan ajar yang dihasilkan diharapkan tidak hanya tepat secara pedagogis, tetapi juga sensitif terhadap latar sosial dan budaya tempat anak belajar.

Sejumlah luaran telah disiapkan.

Di antaranya Sumber Belajar Terbuka atau Open Educational Resources (OER), publikasi ilmiah, forum atau seminar internasional, serta model kolaboratif pengembangan bahan ajar yang dapat diadaptasi dalam konteks pendidikan Indonesia maupun Jerman.

Riset itu juga berkaitan dengan SDG 4: Quality Education. Melalui bahan ajar yang sesuai tahap perkembangan anak dan responsif terhadap konteks sosial budaya, penelitian diarahkan untuk memperkuat kualitas pengalaman belajar sejak usia dini.

Baca Juga: Umrah Istimewa di Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Bersama Muhsinin Tour and Travel (2)

Selama fellowship, Dr Dewi akan berada di lingkungan akademik Universität Kassel dan berinteraksi dengan akademisi serta mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Ia juga mendapat akses terhadap sumber daya penelitian, fasilitas akademik, diskusi ilmiah, serta jejaring yang berpotensi membuka kolaborasi baru.

Namun, perjalanan ke Kassel bukan berarti meninggalkan Lombok. Pengetahuan yang diperoleh selama fellowship diharapkan kembali ke Unram.

“Setelah fellowship ini selesai, saya ingin membawa pulang bukan hanya hasil penelitian, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan praktik baik yang dapat dibagikan kepada mahasiswa dan rekan-rekan di Unram,” katanya.

Baca Juga: Umrah Istimewa di Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Bersama Muhsinin Tour and Travel (3-Habis)

Bagi Unram, fellowship yang diraih Dr Dewi berpotensi menjadi bagian dari penguatan budaya riset dan internasionalisasi akademik. Terutama dalam membuka lebih banyak ruang penelitian kolaboratif yang mempertemukan perspektif global dengan kebutuhan pendidikan di Lombok dan Indonesia.

Pada akhirnya, perjalanan Dr Dewi menuju Jerman berangkat dari sesuatu yang sederhana. Sebuah percakapan. Dari percakapan itu lahir gagasan.

Dari gagasan lahir proposal. Dari proposal terbuka jalan menuju penelitian lintas negara. Dan dari Kassel nanti, pengetahuan itu diharapkan kembali ke Lombok.

“Sometimes, you don’t plan the chapter. You simply have the courage to turn the page,” tutup Dr Dewi.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Dr Dewi Satria Elmiana fellowship Jerman Georg Forster Research Fellowship Unram Universitas Mataram