Selembar papan plastik mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Ferry, 34 tahun, benda itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar bahan untuk membuat meja, kursi, atau tempat galon.
Di tangannya, papan yang berasal dari limbah plastik itu menjadi media untuk belajar.
--------------------
Belajar menggunakan keterampilan. Belajar bekerja. Sekaligus belajar menyiapkan kehidupan baru ketika suatu hari pintu Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terbuka untuknya.
Baru sekitar sepekan mengikuti kegiatan pembinaan, Ferry sudah mencoba membuat sejumlah produk. Mulai meja, tempat galon, hingga gantungan kunci.
“Saya ikut supaya lebih produktif. Nanti kalau sudah di luar, biar bisa bekerja dan tidak melakukan kesalahan yang dulu lagi,” ujar Ferry.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, di baliknya ada harapan seorang warga binaan yang ingin pulang ke masyarakat dengan membawa sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya masa lalu.
Melainkan keterampilan.
Sebuah Kesempatan dari Limbah
Program pembinaan keterampilan tersebut merupakan kolaborasi Rutan Kelas IIB Bantul bersama PT Pertamina Patra Niaga melalui program GO-SARI.
Sekitar 30 warga binaan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka belajar mengolah papan plastik hasil daur ulang menjadi berbagai produk eco-furniture.
Bahan yang digunakan pun memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan Ferry dan warga binaan lainnya.
Di Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, masyarakat lebih dahulu mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga melalui TPS 3R GO-SARI.
Selembar papan plastik mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Ferry, 34 tahun, benda itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar bahan untuk membuat meja, kursi, atau tempat galon.
Di tangannya, papan yang berasal dari limbah plastik itu menjadi media untuk belajar.
Belajar menggunakan keterampilan. Belajar bekerja. Sekaligus belajar menyiapkan kehidupan baru ketika suatu hari pintu Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terbuka untuknya.
Baru sekitar sepekan mengikuti kegiatan pembinaan, Ferry sudah mencoba membuat sejumlah produk. Mulai meja, tempat galon, hingga gantungan kunci.
“Saya ikut supaya lebih produktif. Nanti kalau sudah di luar, biar bisa bekerja dan tidak melakukan kesalahan yang dulu lagi,” ujar Ferry.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, di baliknya ada harapan seorang warga binaan yang ingin pulang ke masyarakat dengan membawa sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya masa lalu.
Melainkan keterampilan.
Sebuah Kesempatan dari Limbah
Program pembinaan keterampilan tersebut merupakan kolaborasi Rutan Kelas IIB Bantul bersama PT Pertamina Patra Niaga melalui program GO-SARI.
Sekitar 30 warga binaan mengikuti kegiatan tersebut. Mereka belajar mengolah papan plastik hasil daur ulang menjadi berbagai produk eco-furniture.
Bahan yang digunakan pun memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan Ferry dan warga binaan lainnya.
Di Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, masyarakat lebih dahulu mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga melalui TPS 3R GO-SARI.
“Karena baru berjalan dua bulan, kita masih belum begitu banyak. Kesulitan kita sekarang memang di pemasaran,” ujar Agus.
Produk karya warga binaan telah diperkenalkan melalui Bantul Kreatif Expo.
Harapannya, semakin luas pasar yang terbuka, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan para warga binaan.
Bukan Sekadar Membuat Barang
Kegiatan pembuatan eco-furniture berlangsung Senin hingga Sabtu pada jam kerja.
Bagi warga binaan, rutinitas tersebut memberi kesempatan untuk tetap produktif.
Mereka tidak hanya belajar membuat barang, tetapi juga belajar disiplin, bekerja bersama, menyelesaikan pekerjaan, dan menghasilkan sesuatu yang bisa digunakan orang lain.
Agus mengatakan antusiasme warga binaan cukup tinggi.
“Selain mereka punya kegiatan, mereka juga mendapatkan ilmu. Mereka sangat antusias. Mudah-mudahan nanti ada beberapa kegiatan lain yang bisa dilaksanakan di sini,” katanya.
Bagi Ferry, keterampilan itu memiliki arti yang lebih personal.
Ia berharap suatu hari nanti kemampuan yang diperolehnya dapat digunakan untuk mencari pekerjaan dan menjalani kehidupan secara mandiri.
“Saya berharap bisa mandiri, bisa bekerja seperti orang biasa. Punya skill dan bisa diterima juga di masyarakat,” katanya.
Harapan tersebut menjadi inti dari pembinaan.
Sebab, ketika masa tahanan selesai, tantangan sesungguhnya justru dimulai: kembali ke tengah masyarakat, mencari pekerjaan, membangun kepercayaan, dan menata kehidupan dari awal.
Dari Guwosari, Sampah Mendapat Kehidupan Kedua
Kisah Ferry ternyata tidak berdiri sendiri.
Di Desa Guwosari, perjalanan sampah dimulai dari rumah-rumah warga.
Pengelolaan melalui TPS 3R GO-SARI berkembang setelah pemerintah daerah menutup TPA Piyungan. Kondisi itu mendorong masyarakat mencari cara agar sampah dapat ditangani sejak dari sumbernya.
Model pengelolaan GO-SARI mendapat dukungan PT Pertamina Patra Niaga sejak 2022.
Setiap hari, sekitar 3 hingga 3,5 ton sampah rumah tangga dipilah di TPS 3R tersebut.
Sampah organik diolah menjadi kompos dan digunakan untuk budidaya maggot black soldier fly (BSF). Larva maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak.
Sementara sampah anorganik masuk ke rantai pemilahan dan daur ulang.
Salah satunya plastik jenis HDPE yang diproses menjadi papan plastik untuk kemudian digunakan sebagai bahan eco-furniture.
GO-SARI kini melayani sekitar 1.500 rumah tangga dan membuka pekerjaan bagi 27 warga setempat.
Aktivitas pengolahan sampah tersebut menghasilkan pendapatan sekitar Rp98 juta per bulan.
Program itu bahkan berkembang hingga peternakan sekitar 458 ayam petelur yang menghasilkan sekitar 27 kilogram telur per hari.
Untuk memudahkan masyarakat memilah sampah, GO-SARI menggunakan istilah lokal “bosok, rosok, popok, dan bodongkok”.
Istilah sederhana tersebut membantu warga mengenali dan memilah sampah sebelum masuk ke proses pengolahan.
Dari sana, sampah memiliki banyak kemungkinan.
Ada yang menjadi kompos.
Ada yang menjadi pakan ternak.
Ada yang kembali menjadi bahan produksi.
Dan ada yang akhirnya berubah menjadi meja atau kursi di tangan warga binaan.
Satu Rantai, Banyak Kehidupan
Jika ditarik lebih jauh, selembar papan plastik yang dibuat Ferry memiliki perjalanan yang panjang.
Berawal dari sampah rumah tangga.
Dipilah oleh masyarakat.
Diproses di TPS 3R.
Diubah menjadi papan plastik.
Kemudian dibawa ke Rutan Bantul.
Dan akhirnya menjadi sebuah produk yang memiliki fungsi.
Di sepanjang perjalanan itu, ada banyak orang yang mendapatkan manfaat.
Lingkungan menjadi lebih terjaga.
Masyarakat memperoleh peluang ekonomi.
Warga binaan mendapatkan keterampilan.
Dan sebuah limbah memperoleh kehidupan kedua.
Di situlah nilai ekonomi sirkular terasa bukan sekadar konsep.
Ia hadir dalam bentuk yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menata Masa Depan dari Balik Jeruji
Di Galeri Rubatcrea, meja, kursi, rak, dan berbagai kerajinan terlihat seperti produk biasa.
Namun bagi warga binaan yang membuatnya, setiap barang menyimpan cerita.
Ada waktu yang dihabiskan untuk belajar.
Ada kesalahan yang diperbaiki.
Ada keterampilan yang diasah.
Dan ada harapan yang perlahan dibangun.
Ferry baru mengikuti kegiatan tersebut sekitar sepekan.
Tetapi ia sudah memiliki bayangan tentang apa yang ingin dilakukan setelah keluar nanti.
Ia ingin bekerja.
Ia ingin mandiri.
Dan ia ingin diterima kembali di tengah masyarakat.
“Saya berharap bisa mandiri, bisa bekerja seperti orang biasa,” katanya.
Mungkin papan plastik yang berada di hadapannya hanyalah limbah yang telah berubah bentuk.
Namun bagi Ferry, papan itu seperti simbol kesempatan kedua.
Jika limbah saja bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai, manusia pun memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali berguna.
Di balik jeruji, Ferry dan warga binaan lainnya sedang belajar membuat meja dan kursi.
Tetapi sesungguhnya, mereka juga sedang belajar membuat sesuatu yang jauh lebih penting:
jalan pulang menuju kehidupan yang lebih baik. (baiq farida)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan