
L. Faqih Saiful Hadie
Aktivis dakwah, Penulis, Pemerhati Sosial, Seni dan Budaya NTB
Matahari sore merayap perlahan di balik pohon asam di belakang pondok, meninggalkan berkas cahaya keemasan yang menimpa tiang sekepat tempat saya biasa sowan kepada Tuan Guru Ishak, guru saya yang membina pondok ini. Sebagai alumni pondok, status saya sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi di salah satu Universitas Negeri terkemuka di daerah ini tidak pernah menjauhkan saya dari pondok ini. Saban minggu, di antara tumpukan tugas kuliah saya selalu menyempatkan diri kembali ke pondok untuk sowan mengikuti majelis sorogan langsung di hadapan beliau.
Beliau duduk bersila santai dengan sarung yang warnanya mulai pudar dan kopiah putih yang biasa beliau kenakan agak miring. Beliau baru saja selesai membacakan Syarah Ibn 'Aqil bab Marfu'atul Asma', tetapi pikiran saya justru tersangkut pada masalah yang jauh keluar dari konteks. Setelah santri-santri lain beringsut meninggalkan majelis itu, saya menyulut keberanian untuk meyampaikan kebingungan yang sudah lama mengendap di kepala.
"Abah, " saya membuka percakapan sambil membetulkan letak kacamata saya. "Saya punya pertanyaan yang agak krusial, bahkan mungkin sedikit provokatif. Mengapa umat Islam, yang memeluk agama paling luhur, teratas, dan ya'lu wala yu'la 'alaih (unggul dan tidak ada yang mengungguli) ini, justru secara peradaban hari ini tampaknya tertinggal jauh di belakang Bangsa Barat?"
Tuan Guru Ishak tidak langsung menjawab. Beliau meraih puntung rokoknya yang hampir padam, menghisap tembakau lokal itu dan menghembuskan asapnya perlahan, tampak beliau sangat menikmatinya. Beliau menatap saya dengan sorot mata agak jenaka. "Nanda, baru baca bukunya Samuel Huntington sama Arnold Toynbee sebentar saja, kepalamu sudah kelihatan berasap begitu. Pertanyaanmu itu latah, tampak sekali kalau Nanda ini tipikal mahasiswa semester akhir yang mabuk pemikiran Barat tapi lupa caranya tahlilan, hehehe..."
"Bukan begitu, Abah," sergah saya membela diri. "Ini fakta empiris. Tengoklah indikator kemajuan global seperti indeks pembangunan manusia, paten teknologi, eksplorasi antariksa, hingga dominasi sains modern, mayoritas dikuasai oleh mereka yang di luar Islam. Kita sering kali hanya jadi konsumen peradaban, bukan produsen. Di mana letak keluhuran itu jika dalam panggung sejarah modern kita justru seperti penonton di bangku belakang?"
Tuan Guru Ishak terkekeh pelan, mengusap janggutnya yang telah sebagian besar memutih. "Penonton bangku belakang, katamu? Coba kita bedah logika berpikirmu dulu. Kalau engkau mengukur 'kemajuan' hanya dari seberapa cepat manusia menciptakan alat destruktif, atau seberapa masif mengeksploitasi alam tanpa mempedulikan etika khilafah, maka diagnosamu pasti keliru. Kita ini tidak ketinggalan, Nanda. Kita ini hanya lebih berhati-hati."
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




