LombokPost - Tingginya minat bermain padel tidak hanya menggerakkan lapangan dan komunitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
Dari kebutuhan raket, sepatu, hingga outfit khusus, permintaan perlengkapan padel ikut meningkat. Bersamaan dengan itu, kehadiran pelatih dan instruktur padel mulai dibutuhkan, menandai tumbuhnya ekosistem bisnis yang mengikuti popularitas olahraga ini.
Untuk memulai, pemain padel hanya perlu menyiapkan Rp 3 juta. Dengan anggaran itu, sudah bisa mendapatkan perlengkapan dasar. "Yang didapat berupa raket, sepatu, dan jersey," kata admin Rooftop Padel Club Vivid Meindasyari.
Harga raket padel sendiri bervariasi tergantung merek dan kualitas. Untuk kategori standar, raket termurah dibanderol sekitar Rp 800 ribu. Salah satunya merek supersonic. “Kalau raket paling murah harganya Rp 800 ribu. Itu sudah bisa dipakai bermain,” ujar Vivid.
Kelebihan raket itu sedikit lentur. Pantulan bolanya juga lebih keras. "Bagus juga yang merek supersonic ini. Banyak orang cari," bebernya.
Selain raket, pemain juga perlu membeli bola padel. Harga bola berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu. Itu pun tergantung dari merek. "Satu slop berisi tiga bola. Bola tersebut tidak disewakan dan bisa langsung dibawa pulang oleh pembeli," bebernya.
Gaya Hidup yang Sehat
Geliat olahraga padel ini dirasakan betul oleh Yaumil Stania Eroflan, pelatih sekaligus pengurus PBPI NTB. "Saya mulai melatih padel sejak pertama kali lapangan padel dibuka di rooftop Mataram Mall. Sekarang, komunitas kita yang bernama Lombok Padel terus berkembang pesat," ujar Yaumil saat ditemui di sela-sela aktivitas melatihnya di Kosta Sport Center Mataram, Jumat (16/1).
Menurut Yaumil, saat ini fasilitas padel di Mataram terkonsentrasi di dua titik, yakni di Rooftop Mataram Mall dan Kosta Sport Center. Kedua lokasi ini selalu dipadati pengunjung, terutama sejak akhir 2025. Fenomena ini unik, karena para peminatnya datang dari berbagai latar belakang olahraga.
Bukan sekadar hobi, Yaumil menegaskan bahwa padel di NTB tengah dipersiapkan menuju panggung profesional. Terbentuknya kepengurusan PBPI NTB menjadi tonggak awal.
Target terdekat adalah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026 yang dijadwalkan Juli.
Ini akan menjadi sejarah baru, di mana padel untuk pertama kalinya akan dipertandingkan sebagai salah satu cabang olahraga (cabor).
"Kami sedang berproses menjaring dan membina atlet-atlet yang potensial untuk bisa bersaing," tegas perempuan yang tinggal di Dasan Agung ini.
Tingginya minat masyarakat juga membuka peluang bagi profesi pelatih. Yaumil membeberkan bahwa dalam sehari, ia bisa melatih 4 hingga 10 orang dengan durasi kerja mencapai 8 sampai 10 jam per hari.
Untuk menjaga kualitas pelatihan, ia membagi timnya di dua lokasi, di mana masing-masing lapangan (Rooftop dan Costa) disiagakan dua orang coach.
Mengenai tarif, Yaumil menyebutkan angka yang cukup terjangkau untuk olahraga yang sering dianggap eksklusif ini. "Kisaran harga coaching itu Rp150 ribu per jam untuk satu orang. Kalau paket grup berempat, itu sekitar Rp 400 ribu. Itu belum termasuk biaya sewa lapangan," jelasnya.
Menariknya, peminat padel di Mataram didominasi oleh rentang usia produktif, yakni 20 hingga 30 tahun, meski banyak juga pemain di atas usia tersebut.
Sejauh ini, komposisi pemain antara laki-laki dan perempuan cenderung seimbang.
Meski saat ini padel masih kental dengan nuansa lifestyle atau gaya hidup, Yaumil memiliki visi besar untuk masa depan.
Ia melihat peluang emas bagi NTB untuk mencetak atlet berprestasi karena olahraga ini relatif baru di Indonesia, sehingga persaingan antar daerah masih sangat terbuka.
"Untuk jangka panjang, kita harus mulai menyasar atlet junior atau anak-anak. Jadi mereka terbentuk murni dari teknik padel, bukan sekadar peralihan dari cabor raket lain. Karena kita mulainya barengan dengan daerah lain, kita tidak merasa tertinggal. Semua punya peluang yang sama," ucapnya optimis. (arl/ton/r3)
Editor : Kimda Farida