Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Medsos Dorong Perkembangan Padel, Sekali Mencoba Malah Ketagihan!

Lombok Post Online • Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:54 WIB
Ilustrasi bermain padel
Ilustrasi bermain padel

LombokPost - Bertambahnya lapangan hanyalah satu sisi dari fenomena ini. Di baliknya, ada lonjakan minat masyarakat yang membuat padel cepat diterima.

Karakternya yang mudah dimainkan, bersifat sosial, dan tidak menuntut kemampuan teknis tinggi menjadikan padel menarik bagi pemula hingga pemain berpengalaman, sekaligus menjelaskan mengapa olahraga ini kian ramai digemari.

Selebgram asal Kota Mataram Maya Agustin menjadi salah satu sosok yang terhipnotis oleh olahraga ini.

“Awalnya coba-coba main pas pembukaan (opening) lapangan di rooftop Mataram Mall sekitar November tahun lalu. Waktu itu ada kerja sama trial. Eh, ternyata malah keterusan sampai sekarang, kayak kecanduan gitu,” kata Maya, Selasa (13/1). 

Punya Daya Tarik

Bagi Maya, padel memiliki daya tarik tersendiri. Keunikan utama padel terletak pada dinding kaca yang mengelilingi lapangan. Dinding ini bukan sekadar pembatas, melainkan bagian dari permainan. Bola yang memantul dari kaca tetap boleh dipukul kembali asalkan sudah memantul sekali di area lapangan lawan. “Ini yang bikin seru. Ada teknik pantulan kaca ke jaring, itu trik-trik yang bikin kita terus penasaran,” tambahnya.

Meski terlihat lebih santai dibanding tenis, Maya menegaskan, padel adalah mesin pembakar kalori yang efektif. Dalam satu sesi permainan, ia mengaku bisa membakar 500 hingga 600 kalori. “Baru main 15-20 menit saja sudah basah kuyup. Karena lapangannya kecil, pergerakannya sangat spontan ke kanan, kiri, dan belakang. Jantung benar-benar terlatih,” tuturnya.

Selain faktor kesehatan, sisi sosial menjadi alasan utama mengapa padel sangat cepat berkembang di Mataram. Menurut Maya, padel adalah olahraga yang sangat fun dan memungkinkan seseorang bertemu orang-orang baru. “Sering banget kita mabar (main bareng). Misalnya kita datang cuma sendiri atau berdua, terus ada grup lain yang datang berenam, kita bisa langsung gabung main bareng. Jadi nambah teman baru,” kata Maya.

Terkait munculnya anggapan bahwa padel adalah olahraga eksklusif untuk kalangan menengah ke atas, Maya tidak sepenuhnya menampik hal tersebut. Namun ia memberikan perspektif lain bahwa padel bisa dinikmati secara kolektif agar lebih hemat.

“Memang kalau beli raket sendiri itu lumayan, harganya kisaran Rp 4 jutaan. Bola satu kaleng isi tiga sekitar Rp 90 ribu. Tapi kan nggak harus punya sendiri dulu. Kita bisa sewa raket seharga Rp 30 ribu,” ungkapnya.

Untuk biaya sewa lapangan, harganya berkisar antara Rp 210 ribu hingga Rp 300 ribu per jam. “Kelihatannya mahal, tapi kalau datangnya bersepuluh kan bisa patungan cuma Rp 30 ribuan per orang,” kelakarnya.

Jadi Ruang Sosial

Penggemar padel lainnya adalah Farah Ghinan, wiraswasta yang telah bermain sejak November lalu. Farah pertama kali mengenal padel dari lingkungan pertemanannya. Ajakan teman menjadi pintu masuk, meski ketertarikannya sudah tumbuh lebih dulu setelah kerap melihat aktivitas padel di media sosial.

Menurutnya, eksposur di platform digital memiliki peran besar dalam memperkenalkan olahraga ini ke publik. “Awalnya memang sering lihat postingan padel di media sosial. Lama-lama jadi penasaran, apalagi ada teman yang mengajak langsung,” tutur wanita 31 tahun tersebut.

Fenomena fear of missing out (FOMO) dalam olahraga padel, menurut Farah, adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Ia menilai padel berkembang pesat karena kuatnya pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan.

“FOMO itu wajar. Di zaman sekarang, orang melihat apa yang ramai di media sosial lalu ikut mencoba. Tapi pada akhirnya, olahraga seharusnya dilakukan karena kesadaran akan pentingnya kesehatan,” ujarnya.

Bagi Farah, padel bukan semata-mata olahraga untuk kebugaran. Ia melihat padel sebagai bagian dari gaya hidup modern dan ruang sosial yang efektif. Di lapangan padel, menurutnya, interaksi antarpemain kerap berlanjut menjadi relasi profesional maupun pertemanan baru. “Padel itu lebih ke gaya hidup untuk mengisi waktu luang. Networking-nya bagus, mirip seperti golf. Itu kenapa padel sering dianggap olahraga privilege,” ujarsalah satu Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI) NTB.

Dia menilai komunitas padel di Lombok masih dalam tahap awal dan terus berupaya memperkenalkan olahraga ini ke khalayak yang lebih luas. Meski demikian, ia mengakui masih ada tantangan besar dalam pengembangan padel di Lombok. Minimnya pemahaman masyarakat tentang padel serta keterbatasan sumber daya manusia menjadi hambatan utama.

Selain itu, persepsi bahwa padel adalah olahraga mahal masih melekat di benak sebagian masyarakat. “Banyak yang belum tahu apa itu padel. Ada juga anggapan bahwa padel itu olahraga mahal, jadi orang ragu mencoba,” jelas Farah. (chi/yun/r3)

Editor : Kimda Farida
#pemain #kecanduan #padel #Mataram #lapangan