LombokPost - Seiring melonjaknya antusiasme, kebutuhan akan fasilitas pun tak terelakkan. Padel yang sebelumnya hanya dikenal segelintir kalangan kini mendorong hadirnya infrastruktur penunjang. Dalam waktu relatif singkat, lapangan-lapangan padel mulai bermunculan di berbagai titik di Lombok, menjadi penanda nyata bahwa olahraga ini telah menemukan pasar dan penggemarnya sendiri.
Rooftop Padel Club
Di Kota Mataram, Rooftop Padel Club Mataram Mall sukses mencuri perhatian publik. Sejak beroperasi pada akhir November tahun lalu, bisnis olahraga ini terus menunjukkan grafik peningkatan signifikan selama tiga bulan terakhir.
Pengelola Rooftop Padel Club Putu Erni Noviyani Keswara mengatakan, kehadiran klub ini membawa standar baru bagi fasilitas olahraga di NTB. Tidak tanggung-tanggung, klub ini menyediakan lima lapangan (court) sekaligus.
"Untuk menjamin kualitas, kami mendatangkan ahli khusus dalam pembangunannya, sehingga kualitas lapangan sudah standar dan pasti aman bagi pemain," ujar Putu Erni.
Rooftop Padel Club tidak hanya menyewakan tempat bermain. Bagi pengunjung yang tidak memiliki perlengkapan, pengelola menyediakan penyewaan raket Rp 30 ribu yang bisa dipakai sepuasnya selama durasi sewa lapangan. Menariknya, raket yang disediakan pun beragam, mulai dari grade untuk pemula hingga kelas profesional dengan biaya sewa yang tetap sama.
Sementara untuk bola, pengelola menyediakan display penjualan dengan harga variatif. Mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per bola tergantung merek. Tidak hanya bola, juga dijual kostum dan kebutuhan olahraga padel lainnya.
Menyadari olahraga padel masih tergolong baru, Rooftop Padel Club sangat ramah bagi pemula. Mereka menyiagakan dua orang pelatih (coach) laki-laki dan perempuan yang selalu siap mendampingi kapan pun dibutuhkan.
Bahkan, klub ini membuka program kids coaching bagi anak-anak usia di atas 5 tahun.
"Antusiasme generasi muda sangat tinggi, mulai dari anak SMP hingga SMA. Olahraga ini memang butuh energi banyak untuk lari dan memukul bola," tambahnya.
Saat ini, harga sewa lapangan masih berada pada angka promo, yakni Rp 210.000 per jam. Satu lapangan umumnya digunakan 2 hingga 4 orang pemain dengan sistem poin set tenis atau skor americano. “rand Opening yang dijadwalkan pada 24 Januari," pungkas Putu Erni.
La Reunion Padel Club
Tak hanya di Kota Mataram, lapangan padel sebelumnya sudah merambah Lombok Tengah. La Reunion Padel Club berlokasi di jalan wisata Desa Kuta, Pujut hadir pada Desember 2023. Saat itu, La Reunion hanya memiliki tiga lapangan padel hingga bertambah menjadi enam lapangan dan satu restoran di akhir tahun 2024.
“Sejak awal hadir La Reunion diramaikan oleh ekspatriat, di mana orang-orang ekspart yang menetap di Kuta untuk berbisnis, bekerja,” kata Manager La Reunion Padel Club Johan Chris.
Hadirnya La Reunion bukan tanpa alasan. Pemilik fasilitas ini adalah warga negara asing (WNA). “Berawal untuk menyediakan fasilitas olahraga untuk komunitas sesama WNA, kemudian berkembang menjadi para wisatawan asing yang memang jadi pasar utama, barulah merambah warga lokal,” tuturnya.
Untuk berolahraga padel di La Reunion, tarif yang dikenakan pada pengunjung cukup beragam.
“Tarif untuk pengunjung yang memang datang berwisata, orang asing yang menetap hingga orang lokal. Untuk lokal per satu jam Rp 350 ribu, sedangkan orang asing menetap Rp 400 ribu per jam, dan turis Rp 440 ribu per jam,” beber Johan.
Kian berkembang dan diliriknya olahraga padel di Desa Kuta, kata Johan, La Reunion segera ekspansi ke dua lokasi baru, Selong Belanak dan Kota Mataram. Memilih Selong Belanak karena melihat potensi wisata mulai berkembang, meski ini jadi pilihan terakhir, manajemen akan mengejar lokasi di Kota Mataram lebih dulu. “Selain penyebaran, kami ingin memenuhi standar dan menyajikan kualitas yang sama di Kota Mataram,” katanya.
Seccha Club Rampung Dua Bulan Lagi
Bergeser ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, ITDC mulai membangun lapangan olahraga padel pada Juni 2025 lalu. Lokasinya tepat di depan Bazaar Mandalika. Lapangan ini akan terntegrasi dengan 38 kamar penginapan Bale Seccha. Serta terdiri atas tiga lapangan olahraga padel, satu lapangan olahraga basket bertaraf internasional dan satu restoran.
“Fasilitas ini akan rampung dua bulan lagi,” kata Direktur Operasi ITDC Troy Reza Warokka.
Hadirnya fasilitas ini diharapkan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan komunitas olahraga. “Kami membuat bukan asal buat-buat, tapi lakukan beberapa survei dan memang padel ini paling banyak dicari wisatawan asing,” jelasnya.
Diharapkan dengan hadirnya lapangan olahraga padel dan fasilitas pendukung lainnya di The Mandalika, kata dia, dapat membangun ekosistem sport tourism yang semakin baik. Terpenting, memajukan olahraga padel dan membangkitkan animo masyarakat untuk berolahraga dan sehat. “Kami berharap bisa menjadi bagian venue PON NTB-NTT 2028,” kata Troy.
Malibu Beach Club
Di Lombok Utara, satu-satunya lapangan padel adalah Malibu Beach Club. Lokasinya di Gili Trawangan yang hadir sejak 2025.
Operational Manager Malibu Beach Club Padel Gili Trawangan Dewa Made Subrata mengatakan kebanyakan yang main itu wisatawan asing. Namun, padel juga mulai menarik minat wisatawan nusantara, meski jumlahnya belum banyak. “Umumnya, wisatawan domestik yang bermain padel berasal dari Bali dan Jakarta,” bebernya.
Made Dewa mengatakan, fasilitas ini bukan sebagai destinasi utama, melainkan sebagai pendukung pariwisata. Untuk harga sewa, lapangan padel di Malibu Beach Club dibanderol antara Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per jam. Menurut Dewa Made, wisatawan asing justru senang mengetahui adanya fasilitas padel di Gili Trawangan. “Bule senang tahu ada padel," ujarnya. (fer/ewi/bib/r3)
Editor : Kimda Farida