LombokPost - Tekanan ekonomi yang kian nyata memaksa banyak orang menjalani dua kehidupan sekaligus. Siang bekerja sesuai profesi utama, malam hingga akhir pekan mereka beralih peran: menjadi pengemudi ojek online, kurir lokal, pelaku UMKM rumahan, hingga pekerja lepas digital.
Side job kini bukan sekadar tambahan penghasilan, tetapi telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup, menyalurkan hobi, dan strategi bertahan hidup masyarakat urban.
Setiap sore usai kuliah, Samudra tidak langsung pulang ke rumah. Setelah berganti pakaian, mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Mataram itu langsung menyalakan aplikasi ojek online dan mulai menyusuri jalanan ibu kota hingga malam.
Bagi Samudra, side job ini dilakukan di sela-sela waktu kuliahnya. Dia mengaku kuliah mulai Senin sampai Jumat. Nah, selepas kuliah itulah waktu luangnya dimanfaatkan untuk menjadi driver ojek online. “Kalau Sabtu dan Minggu saya full narik, karena libur kuliah,” tutur mahasiswa semester 6 itu.
Kata dia, biaya kuliah masih ditanggung oleh orang tuanya. Sehingga penghasilan sebagai driver ojek online ini ditabung dan digunakan jika ada keperluan saja. “Side job sama sekali tidak menggung kuliah saya,” tegasnya.
Seperti Samudra, ribuan warga Lombok kini menjalani side job di sela pekerjaan utama—sebuah pilihan yang lahir dari tekanan ekonomi, kebutuhan hidup yang terus naik, sekaligus peluang baru di era digital. Fenomena side life ini kian menguat, menyentuh lintas profesi: dari ASN, karyawan swasta, hingga mahasiswa.
Jaga Kestabilan Ekonomi Keluarga
Pekerjaan sampingan pun menjadi solusi alternatif guna menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Hal tersebut dirasakan langsung oleh Ena Wati, pegawai pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Di sela pekerjaannya sebagai aparatur pemerintah, Ena juga menekuni usaha sampingan di bidang penjualan perabot rumah tangga dan elektronik, baik secara tunai maupun kredit. “Menurut saya pribadi, jangan pernah mengandalkan satu sumber penghasilan. Apalagi saat ini kebutuhan hidup semakin meningkat, sementara penghasilan utama sering kali terasa pas-pasan,” ujar Ena.
Ia mengungkapkan, usaha sampingan yang dijalaninya memang tidak selalu menghasilkan keuntungan besar. Namun, dengan pengelolaan yang baik, hasilnya dinilai cukup membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan sebagian bisa disisihkan untuk tabungan pendidikan anak-anak.
Motivasi utama Ena menjalankan usaha sampingan adalah keinginan untuk membantu perekonomian keluarga. Tentu saja mempersiapkan masa depan. “Apalagi setelah dikaruniai anak, tentu yang dipikirkan bukan hanya hari ini, tapi juga pendidikan dan kebutuhan mereka ke depan,” katanya.
Terkait kelelahan dan manajemen waktu, Ena menilai hal tersebut kembali pada motivasi diri. Menurutnya, rasa lelah tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berusaha. “Kalau kita sudah mengeluh lelah, pekerjaan tidak akan selesai dan hasil pun tidak akan ada,” ucap ibu warga Dusun Karang Kates, Desa Gondang, Kecamatan Gangga ini.
Ia juga memastikan usaha sampingan yang dijalani tidak mengganggu tugas utamanya sebagai pegawai pemerintah. Pemasaran produk dilakukan secara daring melalui media sosial, sehingga tidak menyita waktu kerja. “Sekarang semuanya sudah canggih, tidak perlu promosi keliling,” jelasnya.
Ena sendiri telah menekuni dunia usaha sejak lama. Bahkan sebelum bekerja di BKAD, ia sudah berjualan pulsa menggunakan ponsel sederhana. Pernah juga berjualan ponsel bekas. Meski sempat mengalami kerugian besar akibat pencurian sekitar tahun 2009, ia tidak menyerah.
Beri Dampak Sosial
Aipda I Made Indrayana, seorang anggota kepolisian membuktikan dedikasi di luar jam dinas mampu menciptakan kerajaan bisnis sampingan. Tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekologis.
Di balik seragam cokelat yang melambangkan ketegasan, Aipda I Made Indrayana menyimpan ketelatenan seorang pembudidaya. Sejak tahun 2021, personel kepolisian di Kota Mataram ini memutuskan untuk memanfaatkan lahan seluas 2,5 are miliknya.
Lahan sempit itu diubah menjadi sesuatu yang jauh lebih produktif daripada sekadar pekarangan kosong. Ia memilih budi daya lebah Trigona, atau yang lebih dikenal masyarakat lokal sebagai madu klanceng, lebah mungil tanpa sengat yang menyimpan potensi ekonomi besar.
Di lahan yang terbatas tersebut, Made mengelola sedikitnya 60 koloni lebah yang terdiri dari empat jenis spesies unggulan. "Dalam sekali panen, hasilnya bervariasi mulai dari 200 ml, 500 ml, hingga 1,5 liter madu, tergantung pada kekuatan dan kondisi koloninya," jelas Made Indrayana.
Dibanderol Rp 100 ribu per botol kemasan 250 ml, Made berhasil menembus pasar nasional. Permintaan rutin kini mengalir deras dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, hingga Kalimantan. Dari usaha sampingan di pekarangan rumah ini, Made mampu meraup omzet rata-rata Rp 4 juta per bulan.
Lebih dari sekadar angka, usaha Made Indrayana memiliki efek domino positif. Ia berhasil menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar dengan membentuk delapan kelompok pembudidaya baru. Selain itu, kehadiran lebah-lebah ini membantu penyerbukan alami tanaman buah milik warga, menciptakan simbiosis mutualisme antara bisnis dan kelestarian lingkungan.
Berawal dari Coba-Coba
Hal senada dilakukan Romiadi Kurniawan, ASN di Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat. Dia juga sukses menyulap lahan tidur miliknya menjadi "tambang hijau" melalui instalasi sayur hidroponik yang menjanjikan.
Langkah Romi dimulai pada tahun 2023. Saat itu, ia baru saja menetap di kediaman barunya di Narmada. "Awalnya saya melihat teman-teman komunitas hidroponik di Mataram. Saya perhatikan, latar belakang mereka bukan petani, ada yang dosen dan profesi lain, tapi kok bisa jalan. Dari sana saya tertarik mencoba," ujar Romi mengenang awal perjalanannya.
Kini, kebun hidroponik milik Romi telah berkembang pesat. Dari awalnya hanya ratusan lubang, kini sudah mencapai 1.200 lubang tanam yang terbagi dalam beberapa meja instalasi. Meski sempat mencoba berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, selada, hingga kangkung, Romi akhirnya memilih fokus pada satu komoditas utama yakni selada keriting.
Dari 1.200 lubang tanam tersebut, Romi mampu memanen sekitar 40 hingga 50 kilogram selada per bulan. Dengan serapan pasar yang sudah pasti mulai dari hotel, restoran, pengepul hingga pedagang di pasar Naranada.
Dengan modal awal sekita Rp 30 juta untuk instalasi hidroponik dan green house semi permanen, Romi mampu meraup omzet kotor sekitar Rp 3 sampai Rp 4 juta setiap bulannya. Dikurangi biaya operasional listrik, pompa dan lainnya, kadang omzetnya mencapai Rp 3 juta.
"Lumayan untuk menambah uang dapur," pungkasnya dengan senyum. (rur/bib/fer/ton/r3)
Editor : Kimda Farida