LombokPost - Salah satu destinasi bagi penggemar Tek Tok adalah Bukit Keteri di Lombok Barat. Sebagai destinasi wisata alam baru, bukit ini mulai memberikan warna tersendiri bagi geliat pariwisata lokal.
Destinasi yang resmi dibuka pada 25 Agustus 2025 ini tidak hanya menawarkan panorama alam dan jalur pendakian santai, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi perekonomian masyarakat sekitar.
Bukit Keteri lahir dari inisiatif swadaya para pemuda setempat.
Sekitar 22 orang tergabung sebagai pengelola, yang sebagian besar memiliki hobi mendaki dan kerap melakukan perjalanan tek tok ke sejumlah bukit di Lombok.
Dari aktivitas tersebut, muncul gagasan untuk membuka sebuah destinasi wisata alternatif yang mudah dijangkau dan ramah bagi pendaki pemula.
Salah satu pengelola Bukit Keteri Heri Wijaya menuturkan, pembukaan bukit ini juga dilatarbelakangi oleh penutupan Bukit Jamitora. ebelumnya, Bukit Jamitora masuk dalam kawasan Summit Lombok, namun akhirnya ditutup karena berada di lokasi yang digunakan sebagai tempat ibadah.
"Bukit Keteri kami siapkan sebagai alternatif baru bagi para pencinta alam, bersama dengan Gunung Sasak,” ujar Heri.
Sejak dibuka untuk umum, jumlah kunjungan ke Bukit Keteri terus menunjukkan perkembangan positif.
Pada hari biasa, pengunjung tercatat sekitar 10 hingga 15 orang per hari.
Namun, saat akhir pekan, jumlah tersebut meningkat signifikan, bahkan bisa mencapai lebih dari 50 orang.
Lonjakan ini umumnya dipicu oleh aktivitas berkemah yang menjadi favorit wisatawan pada Sabtu dan Minggu.
Selain camping, Bukit Keteri juga diminati sebagai lokasi pendakian santai.
Jalur yang relatif ramah serta pemandangan alam yang terbuka menjadikan bukit ini cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus menempuh jalur ekstrem.
Mayoritas pengunjung berasal dari Mataram dan Lombok Timur, termasuk para pecinta alam dari kawasan Sembalun.
Dari sisi ekonomi, kehadiran Bukit Keteri mulai memberikan dampak nyata.
Tiket masuk dipatok dengan harga terjangkau, yakni Rp10 ribu per orang.
Meski murah, keberadaan destinasi ini mampu menggerakkan roda ekonomi warga, khususnya para pedagang di area basecamp hingga Pos 3.
Pengelola juga menjalin kerja sama dengan kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) sebagai bagian dari upaya pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Salah satu warga yang merasakan langsung manfaat tersebut adalah Nurminah, pedagang kecil di Pos 3 Bukit Keteri.
Sebelum adanya aktivitas wisata, ia tidak memiliki pekerjaan tetap.
Kini, ia menggantungkan hidup dari berjualan kebutuhan pendaki.
Pada hari biasa, pendapatannya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari.
Saat akhir pekan, pendapatan tersebut melonjak drastis hingga mencapai Rp400 ribu sampai Rp500 ribu per hari.
Perjuangan Nurminah dalam menjalankan usahanya tidaklah mudah.
Setiap hari, ia harus membawa sendiri perlengkapan dagangannya dari kaki bukit menuju Pos 3 dengan waktu tempuh sekitar 40 menit hingga satu jam perjalanan menanjak.
Barang yang dijual pun beragam, mulai dari makanan ringan, es, kopi, hingga pop mi yang banyak diminati pendaki.
Meski harus bersusah payah mengangkut barang ke atas, Nurminah tetap berpegang pada prinsip harga yang adil.
Air mineral yang di bawah dijual Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu, di atas hanya dipatok Rp 5 ribu. “Biar pendaki tetap nyaman dan usaha bisa jalan terus,” katanya.
Di sisi lain, pengelola Bukit Keteri mengakui masih adanya keterbatasan fasilitas.
Hingga saat ini, penyewaan alat kemah belum tersedia secara langsung.
Namun, pengelola siap membantu menghubungkan pengunjung dengan penyedia perlengkapan outdoor di sekitar kawasan.
Ke depan, pengelola dan masyarakat berharap adanya dukungan lebih dari pemerintah daerah, khususnya terkait perbaikan akses jalan menuju lokasi.
Pengaspalan jalan dinilai sangat penting, tidak hanya untuk menunjang sektor pariwisata, tetapi juga untuk mempermudah akses pertanian warga.
Cuaca Pengaruhi Jumlah Kunjungan
Di Lombok Timur, sejak memasuki musim hujan, pendakian ke Bukit gedong di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) cukup berdampak.
Pengunjung tek tok maupun yang camping mengalami penurunan yang cukup drastis.
“Tingkat kunjungan turun drastis saat musim hujan ini, jika dibandingkan saat musim kemarau,” terang Anton Wijaya, pengelola Bukit Gedong.
Kata dia, saat musim hujan kunjungan bisa kurang dari 10 orang. Tidak seperti saat musim kemarau, kunjungan mencapai ratusan orang per hari. Baik yang tek tok maupun yang camping.
Jika cuaca bagus atau saat musim ramai. Banyak pengunjung yang naik tanpa harus camping. Biasanya mereka naik sekitar pukul 07.00 dan akan turun ketika pukul 12.00. Atau naik 13.00 turun pukul 17.00.
“Mereka kebanyakan tek tok karena menikmati suasana hutan, kemudian sampai puncak mereka nikmati pemandangan dan foto-foto saja terus turun,” terangnya.
Kata dia, saat pengunjung kurang, pengelola memanfaatkannya untuk gotong royong perbaikan jalur yang rusak akibat hujan deras, melakukan clean up di jalur pendakian hingga puncak.
Jika pengunjung terlalu sedikit pengelola tidak berani terima. Hal ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di atas.
“Kalau terlalu sedikit tidak berani kami terima. Takutnya kenapa-kenapa. Kita utamakan saat musim ramai. Pengunjung kebanyakan merupakan lokal, beberapa dari luar daerah maupun luar negeri,” terangnya.
Saat musim hujan, pengelola akan memperketat pengawasan.
Hal ini untuk mengantisipasi adanya insiden di jalur pendakian maupun puncak bukit.
Bahkan pengelola telah menyiapkan sebanyak tim 30 orang untuk melakukan pengamanan. (ton/par/r3)
Editor : Kimda Farida