Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Eksis atau Stres? Orang yang FOMO Cenderung Ingin Instan

Sanchia Vaneka • Sabtu, 18 April 2026 | 10:42 WIB
Psikolog klinis Fitriani Hidayah (CHIA/LOMBOK POST)
Psikolog klinis Fitriani Hidayah (CHIA/LOMBOK POST)

LombokPost - Di era media sosial, menjadi “terlihat” sering kali terasa lebih penting daripada sekadar menjadi diri sendiri.

Anak muda berlomba mengikuti tren, mengabadikan momen, dan membagikannya ke public tak jarang demi pengakuan. Namun di balik layar yang tampak sempurna, ada tekanan yang diam-diam menggerus.

Fenomena fear of missing out (FOMO) kini kian lekat dalam kehidupan anak muda. Rasa takut tertinggal membuat banyak orang terus mengejar tren dari tempat nongkrong, gaya hidup, hingga konten digital meski harus mengorbankan waktu, uang, bahkan kesehatan mental.

Baca Juga: Fenomena FOMO di Kalangan Pendaki Pemula, Pelaku Usaha Kebanjiran Rezeki

Pertanyaannya, semua itu benar-benar demi eksistensi, atau justru menjadi sumber stres yang tak disadari?

Berisiko Tinggi

Psikolog klinis Fitriani Hidayah mengatakan, FOMO dapat memicu tekanan psikologis besar bagi generasi muda. 

Baca Juga: Stop FOMO, Investasi Pasar Modal Bukan Cara Cepat Kaya

Jika tidak dikendalikan, ambisi untuk diakui secara sosial ini berisiko tinggi menjerat remaja dalam pusaran utang pinjaman online (pinjol) demi validasi semu di media sosial.

FOMO bukan sekadar keinginan untuk mengikuti pembaruan informasi, melainkan berakar pada kebutuhan dasar manusia akan pengakuan dan eksistensi yang tidak terpenuhi. 

Menurut dia, dorongan untuk terus memantau gawai muncul dari kecemasan emosional yang mendalam agar tetap dianggap ada dalam lingkaran sosial.

Baca Juga: Trend Garis Merah di Atas Kepala Seperti Drakor S Line Viral, Netizen: Jangan Asal Fomo

“Ada dorongan kuat untuk diakui yang membuat seseorang membandingkan hidupnya dengan 'cuplikan terbaik' orang lain di media sosial. Ini menciptakan ilusi bahwa orang lain lebih bahagia, sehingga memaksa individu mengejar tren agar merasa setara dan diterima,” kata Fitriani, Kamis (9/4).

Pergeseran Standar

Fitriani menyoroti perubahan tren gaya hidup di Lombok, khususnya di Kota Mataram. Jika satu dekade lalu gengsi anak muda diukur dari kepemilikan sepeda motor atau ponsel terbaru, kini standar tersebut bergeser pada kehadiran di tempat-tempat hits. Maraknya kafe dengan konsep hidden gem, pemandangan pantai, hingga desain minimalis telah mengubah fungsi nongkrong dari sekadar interaksi menjadi ajang produksi konten.

“Nongkrong bukan lagi soal minum kopi, tapi soal konten. Tempat unik di Mataram memicu FOMO akut jika belum dikunjungi. Sayangnya, banyak yang merasa jika tergabung dalam kelompok yang sama, hidup akan terasa lebih mudah karena banyak pertolongan, padahal realitanya tidak selalu demikian,”jelasnya.

Fenomena ini, sangat berdampak pada psikologis remaja. Ia menyebut ada dua faktor utama mengapa validasi di media sosial menjadi kebutuhan yang mendalam bagi mereka. Pertama adalah faktor pola asuh. Anak yang tumbuh tanpa cinta kasih dan validasi maksimal dari orang tua cenderung menjadi haus validasi di luar rumah.

Kedua adalah fase pencarian jati diri. Masa muda merupakan laboratorium identitas di mana umpan balik digital seperti likes dan komentar dianggap sebagai konfirmasi apakah identitas mereka diterima oleh lingkungan. Namun, proses ini justru sering membuat mereka terpuruk karena media sosial memanipulasi sistem imbalan di otak melalui hormon dopamin.

“Setiap interaksi memicu dopamin yang memberikan rasa senang sesaat. Karena paparan terus-menerus, otak membangun toleransi sehingga seseorang membutuhkan lebih banyak validasi digital untuk merasakan kepuasan yang sama. Inilah yang menciptakan siklus rasa kurang yang tidak ada habisnya,” paparnya.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan ketika rasa takut tertinggal tersebut berubah menjadi obsesi. Fitriani memperingatkan adanya lampu merah ketika seseorang mulai mengalami kecemasan intens jika tidak mengecek media sosial, merasa rendah diri, hingga mengalami depresi karena membandingkan diri dengan highlight reel hidup orang lain.

Gangguan Finansial

Dampak yang paling nyata dan berbahaya secara finansial adalah perilaku konsumtif yang tidak terkontrol. Fitriani membenarkan bahwa FOMO menjadi penggerak utama maraknya perilaku utang, termasuk pinjol. Di era sekarang, akses pinjaman yang sangat mudah menjadi pintu masuk bagi mereka yang ingin mendapatkan validasi secara instan tanpa mau melalui proses usaha yang panjang.

“Dulu mungkin susah mau pinjam uang untuk gaya hidup. Sekarang dengan pinjol, aksesnya sangat gampang. Orang yang FOMO cenderung ingin hasil instan karena terdoktrin pikiran 'kalau dia bisa, aku juga harus'. Akhirnya, mereka menempuh jalan yang salah hanya demi mengikuti tren yang sebenarnya secara finansial tidak mereka sanggupi,” tegasnya.

Bagi Generasi Z (Gen Z), tekanan konstan ini berkontribusi signifikan pada peningkatan angka stres dan krisis identitas. Untuk memutus rantai tersebut, Fitriani menyarankan pentingnya melatih rasa cukup. Strategi utama yang bisa dilakukan adalah melakukan detoks media sosial atau puasa digital secara rutin.

Ia mengimbau masyarakat, terutama anak muda, untuk berani melakukan unfollow atau mute pada akun-akun yang dianggap toksik atau memicu rasa rendah diri. Sebaliknya, mulailah mengikuti akun-akun yang bersifat edukatif dan inspiratif.

“Ingatlah bahwa apa yang tampil di layar hanya satu persen keberhasilan, sementara 99 persen perjuangannya disembunyikan. Nilai diri kita tidak ditentukan oleh barang mewah atau latar foto kafe yang bagus, melainkan oleh karakter dan kemampuan. Mari terapkan skip dan fokus pada apa yang kita miliki saat ini,” pungkasnya. (chi/r3) 

Editor : Redaksi
#pencarian jati diri #fomo #psikolog #gawai #pengakuan