LombokPost - FOMO atau ketakutan akan tertinggal tren merupakan sesuatu hal yang sudah lama diperbincangkan.
Dari sisi ekonomi, FOMO kini nyata membentuk pola belanja masyarakat. Terutama di pusat perkotaan seperti Kota Mataram dan kawasan penyangga pariwisata.
Konsumsi yang dulunya berbasis pada pemenuhan kebutuhan dasar, kini mulai bergeser menjadi pemenuhan validasi sosial dan gaya hidup.
Baca Juga: Eksis atau Stres? Orang yang FOMO Cenderung Ingin Instan
Pengamat Ekonomi NTB Prof. Dr. Iwan Harsono mengungkapkan, kekhawatirannya terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi di tingkat rumah tangga.
Meski secara statistik angka konsumsi rumah tangga di NTB masih tumbuh stabil di kisaran 4 hingga 5 persen, terdapat anomali yang terjadi di akar rumput.
Menurut Iwan, pertumbuhan angka konsumsi tersebut tidak dibarengi dengan penguatan ketahanan finansial keluarga.
Baca Juga: Fenomena FOMO di Kalangan Pendaki Pemula, Pelaku Usaha Kebanjiran Rezeki
Sebaliknya, yang terjadi justru penurunan kualitas konsumsi. Hal ini karena tabungan masyarakat cenderung tertekan demi membiayai belanja impulsif.
"Di lapangan, yang saya lihat bukan hanya soal pertumbuhan, tapi perubahan kualitas konsumsi. Ini bukan sekadar konsumsi yang naik, ini adalah konsumsi yang mulai kehilangan arah," tegas Iwan, Jumat (10/4).
Belanja gaya hidup yang meningkat drastis sering kali menomorduakan pertimbangan rasional. Masyarakat cenderung lebih mengutamakan kepemilikan barang atau pengalaman yang sedang hype agar tetap relevan di lingkaran sosialnya. Meskipun hal tersebut harus mengorbankan alokasi dana darurat atau investasi jangka panjang.
Baca Juga: Stop FOMO, Investasi Pasar Modal Bukan Cara Cepat Kaya
“Ini bukan sekadar konsumsi naik, ini konsumsi yang mulai kehilangan arah,” sambungnya.
Contoh paling konkret dari fenomena ini terlihat pada sektor UMKM kuliner di Kota Mataram. Pola konsumsi ‘viralitas’ membuat sebuah produk bisa mengalami lonjakan penjualan yang luar biasa dalam waktu singkat. Namun, popularitas tersebut sering kali bersifat efemer atau sementara.
"Hari ini sebuah gerai bisa antre sangat panjang karena viral di media sosial, namun besok bisa tiba-tiba sepi. Ini membuktikan bahwa konsumsi masyarakat kita sangat dipengaruhi oleh emosi sesaat dan dorongan tren, bukan karena daya beli yang stabil atau loyalitas terhadap kualitas produk," jelas Iwan.
Kondisi ini menciptakan tantangan bagi pelaku UMKM. Bisnis yang hanya mengandalkan gelombang FOMO akan sulit memiliki keberlanjutan (sustainability) jangka panjang karena pasar mereka sangat fluktuatif dan mudah berpaling ke tren berikutnya.
Iwan memperingatkan pemerintah dan masyarakat tentang risiko terjebak dalam situasi ‘Ekonomi Semu’. Sebuah kondisi di mana ekonomi terlihat tumbuh segar dari luar karena perputaran uang yang cepat di sektor konsumsi, namun sebenarnya memiliki fondasi yang rapuh.
Ekonomi semu ini berbahaya karena tidak memberikan ketahanan saat terjadi guncangan ekonomi riil. Ketika tabungan menipis akibat pola hidup boros, masyarakat tidak akan memiliki bantalan finansial yang cukup. Terutama saat terjadi kenaikan inflasi atau kehilangan pendapatan.
"Ekonomi tidak akan runtuh dalam sehari, tapi ia melemah pelan-pelan. Pelemahan ini sering tidak kita sadari karena tertutup oleh gaya hidup yang terlihat makmur di permukaan," terangnya.
Menghadapi tantangan ini, edukasi mengenai literasi keuangan harus lebih masif dilakukan. Masyarakat perlu didorong untuk kembali pada prinsip perencanaan keuangan yang sehat, yakni memprioritaskan kebutuhan di atas keinginan.
Di sisi lain, pelaku UMKM diharapkan mulai membangun strategi pemasaran yang fokus pada kualitas dan kepuasan pelanggan, bukan sekadar mengejar viralitas sesaat di media sosial.
Lebih lanjut, ada beberapa cara menghindari fenomena FOMO dari sisi ekonomi. Di antaranya, memahami tujuan keuangan pribadi. Punya tujuan yang jelas akan membantu tetap fokus, meski lingkungan sekitar ramai dengan tren tertentu.
Melakukan riset dan edukasi diri. Sebelum ikut investasi atau tren apa pun, pastikan paham risikonya untuk meminimalisir kerugian di kemudian hari.
Mengelola emosi dan media sosial. Penting untuk mengelola emosi dan apa yang dilihat di media sosial, karena sering kali itu hanya bagian terbaik dari hidup seseorang. Bandingkan diri dengan progres sendiri, bukan orang lain.
Memprioritaskan kebutuhan. Sesuaikan gaya hidup dan keputusan finansial dengan kondisi dan prioritas. Perasaan FOMO tidak akan membantu mencapai stabilitas keuangan. (fer/r3)
Editor : Redaksi