LombokPost - Banyak orang terjun ke instrumen investasi tertentu mulai dari kripto, saham, hingga bisnis titip modal.
Bukan karena paham risikonya, melainkan karena takut kehilangan momentum saat orang lain pamer profit.
Agar tetap aman, terapkan prinsip berikut:
1. Gunakan Rumus "Paham Dulu, Bayar Kemudian"
Jangan pernah menaruh uang pada instrumen yang tidak Anda mengerti cara kerjanya.
Jika seseorang menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat tanpa risiko, itu adalah lampu merah (red flag). Luangkan waktu untuk riset mandiri sebelum memutuskan.
Baca Juga: FOMO Rambah Berbagai Aspek Kehidupan, Tidak Semua Hal Cocok dengan Kita
2. Bedakan Kebutuhan, Keinginan, dan Gengsi
Seringkali, pengeluaran kita membengkak bukan karena kebutuhan, tapi karena gengsi agar terlihat setara dengan lingkungan sosial. Sebelum membeli barang branded atau gadget terbaru yang sedang tren, tanyakan: "Apakah saya membeli ini karena fungsinya, atau hanya agar tidak terlihat tertinggal?"
3. Amankan "Uang Dingin" dan Dana Darurat
Baca Juga: Media Sosial Jadi Akselerator Utama, FOMO Tidak Memiliki Batas
Aturan emas investasi: Jangan gunakan uang untuk makan atau bayar sekolah (uang panas). Gunakan dana menganggur setelah kebutuhan pokok dan dana darurat terpenuhi. Investasi akibat FOMO biasanya menggunakan uang yang seharusnya tidak boleh hilang, sehingga memicu stres berlebih saat pasar fluktuatif.
4. Verifikasi Legalitas (Cek 2L: Legal dan Logis)
Khusus di wilayah NTB yang sedang banyak dilirik investor, pastikan entitas investasi tersebut memiliki izin resmi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau Bappebti. Pastikan juga imbal hasil yang ditawarkan masuk akal secara logika bisnis.
5. Fokus pada Tujuan Keuangan Pribadi
Setiap orang punya "jalur lari" masing-masing. Jika tujuan Anda adalah menabung untuk pendidikan anak atau DP rumah, jangan terdistraksi oleh teman yang pamer liburan mewah hasil trading. Konsistensi pada rencana jangka panjang jauh lebih menguntungkan daripada mengejar tren sesaat.
Kekayaan yang dibangun dengan kesabaran akan lebih kokoh daripada hasil 'keberuntungan' yang didorong oleh rasa takut tertinggal.
Editor : Redaksi