LombokPost - Pasar Karang Sukun, sebuah tempat yang telah dijuluki sebagai ‘rajanya’ barang bekas impor atau thrifting di jantung Kota Mataram.
Di sini, kasta pakaian seolah luruh. Mulai dari jaket parka branded asal Jepang, dress vintage bergaya Eropa, hingga kaos oblong tanpa merek dari Korea, semua bersanding rapi.
Pasar Karang Sukun bukan sekadar tempat jual beli. Tempat ini adalah destinasi bagi mereka yang memiliki mata jeli dan kesabaran ekstra.
Daya tarik utama pasar ini tentu saja harga yang sangat miring. Mulai dari Rp 5.000 untuk barang-barang ‘turun gantungan’ hingga ratusan ribu untuk jaket kulit atau celana jeans bermerek ternama.
Fajar, salah satu pedagang di Karang Sukun mengungkapkan, perputaran uang di sini cukup menggiurkan, terutama saat akhir pekan. "Kalau hari kerja memang kadang sepi, pendapatan mungkin sekitar Rp 1 juta. Tapi kalau Sabtu-Minggu, bisa Rp 2 juta lebih," ujarnya.
Fajar mendatangkan stoknya dalam bentuk ‘bal-balan’ atau karung besar dari Surabaya dan Bali dengan sistem daring. Satu bal kemeja atau jaket bisa dibanderol seharga Rp 8 juta hingga Rp 10 juta. Namun, bisnis ini bak judi, pedagang tidak pernah tahu pasti isi di dalam bal tersebut hingga segelnya dibuka.
Anggap Pemerintah Tidak Adil
Keceriaan di pasar ini kini dibayangi oleh kebijakan ketat Kementerian Keuangan terkait larangan impor pakaian bekas. Kebijakan yang sejatinya bertujuan untuk melindungi industri tekstil dalam negeri ini dirasakan sebagai lonceng kematian bagi pedagang kecil baginya.
Bagi pria yang sudah 15 tahun menggantungkan hidup dari tumpukan baju bekas ini, larangan tersebut terasa tidak adil. "Ini satu-satunya lahan pendapatan kami dari dulu. Kalau diberhentikan, mau usaha apa lagi?" tuturnya.
Baca Juga: Tak Perlu Modal Besar, Barang Bekas Bisa Disulap Jadi Peralatan
Fajar tidak menentang aturan negara, namun ia menuntut solusi. Baginya, pakaian bekas bukan sekadar kain, melainkan biaya sekolah dua anaknya. "Jika pemerintah mau biayai anak-anak sekolah dan makan kami sehari-hari, silakan tutup. Kami hanya butuh kepastian untuk bertahan hidup," tambahnya.
Senada dengan Fajar, Yadi menilai pemerintah perlu melihat realitas di lapangan. Menurutnya, alasan pemerintah melarang impor pakaian bekas demi mendorong UMKM lokal adalah hal yang baik secara teori. Namun sulit secara praktik bagi masyarakat ekonomi lemah.
"Masyarakat kecil beli pakaian bekas karena murah, tapi kualitasnya bagus. Kalau uang mereka banyak, tentu mereka pilih yang baru di mal," tegasnya.
Yadi sangat bergantung pada usaha pakaian bekas ini. Sebab penghasilannya dari usaha pakaian bekas digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari hingga pendidikan anak-anaknya.
Kondisi pasar thrifting tahun ini juga dirasakan berbeda oleh Mariana. Pedagang asal Narmada yang sudah satu dekade berjualan ini mengeluhkan penurunan omzet, terutama di momen Idulfitri. Jika biasanya H-7 Lebaran pasar sudah disesaki pembeli dengan omzet mencapai Rp 2,5 juta per hari, kini angka Rp 500 ribu saja sulit diraih.
"Sekarang sepi. Tahun lalu saya berani ambil empat bal, sekarang satu bal saja habisnya lama. Harga satu bal juga semakin mahal," kata Mariana.
Penurunan daya beli masyarakat serta isu pelarangan yang terus berhembus membuat pedagang lebih berhati-hati dalam menyetok barang. Apalagi harga per bal cukup mahal, sekitar Rp 10 juta.
“Kalau lagi ramai, satu ball bisa habis satu minggu, tetapi kalau lagi sepi bisa habis satu bulan,” bebernya.
Pasar Karang Sukun adalah bukti nyata ekonomi kreatif kerakyatan yang tumbuh secara organik. Di sana terdapat rantai ekonomi yang panjang. Mulai dari pemasok, kuli panggul, pedagang, hingga jasa cuci (laundry) yang ikut kecipratan rezeki.
Kini, para pedagang hanya bisa berharap adanya kebijakan transisi. Mereka meminta pemerintah tidak langsung memutus urat nadi perdagangan ini tanpa memberikan solusi alternatif.
Diminati Pengusaha Muda
Tak hanya di Kota Mataram, peminat thrifting di Lombok Timur (Lotim) juga cukup tinggi. Sehingga usaha thrifiting juga mulai menjamur.
"Pembeli banyak dari kaum muda karena i harga lebih terjangkau. Dari segi kualitas lebih bagus dan kuat," terang salah seorang pengusaha thrifting di Kecamatan Masbagik, yang tidak mau disebutkan namanya.
Bagi anak muda yang paham fashion thrifting, jarang yang beli sekali, namun mereka berulang kali untuk membeli. Biasanya anak muda lebih memilih baju kaos, celana pendek hingga kemeja.
Diakui, saat ini stok pakaian thrifting terbatas. Hal ini membuat harga pakaian bekas layak pakai ikut naik.
Sementara itu, salah satu pengusaha sepatu second branded di Lotim Edy Janwar Saputra menambahkan, usaha seperti ini mulai banyak. Hal ini karena peminat sepatu bekas ini juga cukup tinggi di Lotim, terutama di kalangan anak-anak muda dan masyarakat.
"Yang paling banyak dicari sekarang itu ialah sepatu lari. Karena sekarang olahraga lari lagi ngetren di masyarakat," ujarnya.
Salah satu penyebab tingginya peminat sepatu second branded ini ialah harga yang terjangkau, kualitas dan merek yang terkenal. Serta adanya perubahan fashion masyarakat.
Diakui, saat ini harga sepatu sedang naik, hal ini dikarenakan ongkos kirim yang naik. Adapun untuk penjualan selam ini ia hanya memanfaatkan jual beli online dan relasi karena saat ini dirinya belum memiliki toko sendiri. (fer/par/r3)
Editor : Redaksi