Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harus Higienis sebelum Dipakai, Risiko dari Pakaian Bekas Bisa Diminimalisir

Ali Rojai • Sabtu, 25 April 2026 | 11:03 WIB
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram) dr Arfi Syamsun (DOK/LOMBOK POST)
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram) dr Arfi Syamsun (DOK/LOMBOK POST)

LombokPost - Tren thrifting semakin digemari, terutama di kalangan anak muda. Namun, di balik tren yang dianggap hemat dan stylish, risiko penyakit kulit dari baju bekas tetap perlu diwaspadai.

Karena itu, memahami bahaya baju bekas menjadi penting agar aktivitas thrifting tetap aman.

Fenomena thrifting baju bekas kini bukan sekadar alternatif belanja murah, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup dan gerakan sustainable fashion.

Baca Juga: Tindakan Keras Menkeu Purbaya Soal Thrifting Baju Bekas: Siapa yang Tolak, Saya Tangkap!

Meski begitu, tren baju bekas juga memunculkan berbagai kekhawatiran, mulai dari regulasi hingga isu kesehatan akibat baju bekas yang tidak higienis.

Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram) dr Arfi Syamsun menjelaskan, faktor ekonomi menjadi pendorong utama masyarakat memilih baju bekas.

“Di tengah himpitan ekonomi, thrifting baju bekas jadi pilihan,” ujarnya.

 Baca Juga: Aktivitas Pasar Baju Bekas Karang Sukun Belum Normal

Namun, ia menegaskan bahwa risiko penyakit kulit dari baju bekas tidak boleh diabaikan.

Baju bekas yang tidak ditangani dengan baik berpotensi menjadi media penularan penyakit kulit akibat jamur, bakteri, hingga parasit seperti kutu.

Perlu diwaspadai, masyarakat harus memahami risiko penyakit kulit dari baju bekas.

Baca Juga: Bisnis yang Menjanjikan, Larangan Impor Pakaian Bekas bikin Galau

Artinya, masyarakat tidak perlu menghindari thrifting sepenuhnya, tetapi harus lebih cermat dalam menjaga kebersihan baju bekas sebelum digunakan.

Arfi menyarankan beberapa langkah untuk menghindari penyakit kulit dari baju bekas. Pertama, lakukan pencucian intensif menggunakan detergen yang kuat agar mikroorganisme mati.

Kedua, jemur baju bekas di bawah sinar matahari langsung hingga benar-benar kering. Ketiga, lakukan penyetrikaan dengan suhu panas sebagai tahap akhir sterilisasi.

“Sebenarnya risiko dari baju bekas bisa diminimalisir dengan mencuci, menjemur, dan menyetrika,” tegasnya.

Pada tren thrifting baju bekas ini kewaspadaan tetap menjadi kunci. Dengan menjaga kebersihan baju bekas, risiko penyakit kulit dari baju bekas dapat ditekan sehingga aktivitas thrifting tetap aman dan nyaman. (jay/r3)

Editor : Redaksi
#baju bekas #kedokteran #Thrifting #Penyakit Kulit #Kesehatan