LombokPost – Perkembangan teknologi digital yang kian masif bak pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan kemudahan, namun di sisi lain menyimpan risiko kesehatan yang nyata.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr. Emirald Isfihan mengingatkan masyarakat untuk tidak terlena dengan kenyamanan era serba online yang memicu gaya hidup kurang gerak atau sedenter.
"Kita sudah masuk di eranya, suka tidak suka aspek digital sudah merambah ke semua lini, termasuk kesehatan. Banyak sisi positifnya, namun ada risiko yang harus kita kelola agar tidak berdampak luas bagi kesehatan jangka panjang," ujar dr. Emirald, sapaan dokter yang terkenal komunikatif ini kepada Lombok Post.
Salah satu fenomena yang paling disoroti adalah kemudahan dalam memesan makanan. Kini, warga cukup menekan layar ponsel, makanan dari aplikasi online langsung tiba di depan pintu.
Baca Juga: Lansia Mataram Meningkat, dr. Emirald: Petugas Harus Jemput Bola Pantau Pasien Kronis
Kondisi ini, menurut dr. Emirald, seringkali membuat orang malas beranjak dari tempat tidur atau sofa.
"Cukup berbaring saja makanan datang. Ini mengurangi aktivitas fisik secara signifikan," cetusnya. Padahal, gerak tubuh adalah kunci utama menjaga metabolisme tetap stabil.
Tak hanya soal malas gerak, dr. Emirald juga menaruh perhatian serius pada faktor higienitas. Berbeda dengan restoran besar yang memiliki sertifikat Layak Sehat atau Penjamah Makanan (SLHS), banyak usaha kuliner rumahan atau UMKM yang terdaftar di aplikasi online belum terpantau secara komprehensif oleh otoritas kesehatan.
"Kita tidak tahu bagaimana proses pembuatannya di dapur rumahan, apakah bahannya segar atau bagaimana kebersihannya. Ini risiko yang bisa memicu keracunan makanan.
Ke depan, sektor kesehatan harus masuk ke sana, bekerja sama dengan penyedia layanan seperti Gojek atau Grab untuk memverifikasi higienitas produk yang mereka pasarkan," tega pria yang memiliki keahlian sebagai Surveyor Akreditasi Rumah Sakit Nasional, Ahli Manajemen Rumah Sakit, dan FISQua (Fellowship ISQua).
Baca Juga: dr Emirald Terpilih Jadi Ketua IDI Cabang Kota Mataram
Selain kebersihan, dr. Emirald juga mencemaskan komposisi bahan makanan dan minuman yang sedang tren, seperti kopi keliling atau minuman kekinian yang menjamur di sudut Kota Mataram. Saat turun lapangan bersama BPOM, ditemukan fakta bahwa banyak produk yang tidak mencantumkan informasi kandungan secara jelas.
Risiko terbesar datang dari tingginya kadar gula, garam, dan lemak. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa kontrol, hal ini akan menjadi pemicu utama Penyakit Tidak Menular (PTM).
"Risikonya nyata; mulai dari obesitas, gangguan ginjal, hipertensi, hingga diabetes. Kita sedang menggencarkan pengawasan PTM ini karena seringkali masyarakat tidak sadar ada kontraindikasi antara kondisi tubuh mereka dengan apa yang mereka konsumsi secara bebas," jelas dokter yang juga penah menjabat Wakil Direktur RSUD Kota Mataram tersebut.
Kendati demikian, dr. Emirald tidak menampik bahwa teknologi juga bisa menjadi alat promosi kesehatan yang efektif. Ia melihat tren masyarakat yang kerap membagikan aktivitas olahraga di media sosial sebagai hal yang positif.
"Sisi positifnya, sekarang banyak orang berkunjung ke spot-spot aktivitas fisik seperti joging di Udayana atau jalan santai, lalu mempostingnya di medsos. Itu bagus untuk memotivasi orang lain," katanya.
Baca Juga: Dunia Digital seperti Pisau Bermata Dua, Bentengi Masyarakat dengan Literasi dan Edukasi digital
Ia menyarankan warga yang memiliki kesibukan tinggi atau yang sedang menerapkan Work From Home (WFH) agar tetap bergerak di sela-sela pekerjaan.
"WFH itu bukan berarti hanya duduk atau berbaring. Bisa diselingi dengan joging kecil atau menggunakan treadmill di rumah. Prinsipnya, kemudahan digital harus diimbangi dengan kesadaran sendiri untuk menjaga kondisi tubuh," imbuhnya.
dr. Emirald menekankan pentingnya peran pemerintah dan sektor ekonomi untuk mulai memikirkan aspek kesehatan dalam setiap inovasi bisnis. Pengawasan tidak boleh hanya dilakukan pada titik-titik yang terlihat (on the spot), tetapi juga harus menyentuh hingga ke skala rumahan yang menjual produknya secara daring.
Dinas Kesehatan Kota Mataram berkomitmen untuk terus melakukan edukasi dan pengawasan, namun ia menegaskan bahwa benteng pertahanan kesehatan yang paling kuat ada pada pilihan masyarakat itu sendiri.
"Mari kita ambil sisi positif teknologinya, tapi jangan abaikan risikonya. Tetap bergerak, perhatikan apa yang dimakan, dan jangan lupa bahagia agar imun tetap terjaga," pungkasnya.
Editor : Kimda Farida