Self Reward Tak Harus Belanja, Ini Cara Menikmati Hasil Kerja

Jay • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 23:20 WIB
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram Mohammad Najib Roodhi
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram Mohammad Najib Roodhi

 

LombokPost- Self reward dapat menjadi bentuk apresiasi setelah seseorang menyelesaikan target tertentu. Masalah muncul ketika istilah tersebut berubah menjadi pembenaran untuk belanja tanpa perencanaan.

Di tengah budaya konsumsi dan derasnya promosi di media sosial, batas antara self reward dan perilaku konsumtif terkadang menjadi tipis. Rasa lelah mudah diterjemahkan menjadi alasan membeli sesuatu, meski barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram) Mohammad Najib Roodhi menjelaskan, dorongan memberikan penghargaan kepada diri sendiri memiliki dasar psikologis. Secara perilaku, hal itu berkaitan dengan prinsip operant conditioning yang diperkenalkan B.F. Skinner.

Baca Juga: Harus Higienis sebelum Dipakai, Risiko dari Pakaian Bekas Bisa Diminimalisir

Manusia membutuhkan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempertahankan motivasi terhadap perilaku tertentu. Ketika seseorang menyelesaikan pekerjaan atau ujian yang menguras pikiran, kelelahan kognitif (cognitive fatigue) dapat muncul. Pada kondisi tersebut, seseorang membutuhkan mekanisme pemulihan atau coping mechanism untuk mengembalikan energi mental.

Di Lombok, misalnya, melepas penat bisa dilakukan dengan menikmati sore di pesisir Senggigi atau Kuta Mandalika, menyantap kuliner bersama keluarga, nongkrong di coffee shop, atau sekadar menikmati waktu luang tanpa memikirkan pekerjaan.

Najib menjelaskan, seseorang bisa menggunakan alasan memberikan hadiah kepada diri sendiri untuk membenarkan pembelian yang sebenarnya dipicu tekanan emosional. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan stress shopping maupun revenge spending.

Baca Juga: Gaya Hemat, Gaya Keren! Nilai Barang Jadi Daya Tarik Utama

Padahal, self reward yang sehat memiliki ciri berbeda. Penghargaan diberikan setelah pencapaian tertentu, direncanakan sebelumnya, tidak mengambil jatah kebutuhan pokok maupun tabungan, dan tetap berada dalam kemampuan keuangan.

Sebaliknya, belanja impulsif cenderung lahir dari dorongan sesaat. Barang dibeli karena ingin segera mendapatkan rasa senang, bukan karena sudah masuk dalam rencana pengeluaran. Kepuasan tersebut bisa cepat berlalu. Yang tersisa kemudian adalah notifikasi saldo rekening yang menipis atau bahkan penyesalan setelah transaksi (buyer's remorse).

“Karena itu, tidak setiap pembelian setelah melewati hari yang melelahkan otomatis dapat disebut self-reward,” kata Najib.

Baca Juga: Tren WFC Makin Marak, Kafe Kini Jadi Tempat Kerja dan Peluang Bisnis Baru

Tantangan lain datang dari media sosial. Setiap hari, pengguna melihat konten gaya hidup, kuliner, fesyen, perjalanan hingga berbagai barang yang dikemas sebagai simbol kebahagiaan.

Fenomena fear of missing out (FOMO) dapat membuat seseorang merasa perlu mengikuti tren agar tidak tertinggal dari lingkungan sosialnya. Di titik ini, self-reward berpotensi bergeser dari apresiasi terhadap diri menjadi pencarian validasi.

Kebahagiaan tidak lagi hanya dirasakan secara personal, tetapi juga ingin diperlihatkan kepada orang lain. Ada pula present bias, kecenderungan untuk memberikan nilai lebih besar terhadap kenikmatan yang diperoleh sekarang dibandingkan manfaat yang baru dirasakan pada masa mendatang.

Baca Juga: Sewa iPhone Makin Tren, Risiko Data Pribadi Mengintai

“Jika kita tidak disadari, keinginan menikmati sesuatu hari ini bisa mengalahkan pertimbangan mengenai kondisi keuangan di masa depan. Ketika uang tunai tidak cukup, layanan utang konsumtif dan paylater bisa menjadi pilihan yang menggoda,” ucapnya.

Menikmati hasil jerih payah sendiri bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang penting, self reward ditempatkan dalam perencanaan keuangan. Salah satu caranya dengan membuat anggaran khusus untuk kebutuhan yang bersifat hiburan atau keinginan. Dengan begitu, dana untuk self reward tidak mengambil porsi kebutuhan pokok, tabungan, maupun kewajiban lainnya.

Model anggaran 50/30/20 yang populer dapat menjadi salah satu referensi. Pendapatan dibagi untuk kebutuhan, tabungan atau investasi, serta keinginan. Besarannya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Pos self-reward dapat dimasukkan ke dalam kategori keinginan (wants). Dana tersebut disisihkan secara berkala melalui sinking fund. Sehingga ketika ingin menikmati hasil kerja, uangnya memang sudah tersedia.

Baca Juga: Berburu Sunrise-Sunset Bukan Sekadar Tren, Ada Misi Ekologis

Pemisahan dana juga dapat dilakukan melalui konsep mental accounting. Dana untuk hiburan bisa ditempatkan pada rekening atau dompet digital khusus. Ketika alokasinya habis, pengeluaran untuk keinginan dihentikan sampai periode berikutnya.

Untuk barang non-esensial dengan harga relatif mahal, memberikan jeda sebelum membeli juga dapat membantu. Misalnya, menunggu 48 jam untuk memastikan keputusan tersebut memang sudah dipertimbangkan, bukan sekadar mengikuti emosi.

“Self-reward tidak harus selalu berbentuk transaksi,” cetusnya.

Baca Juga: Krisis Air Bersih NTB Tak Bisa Andalkan Mobil Tangki, Akademisi Unram Tawarkan Solusi Permanen

Tidur cukup, menghabiskan waktu bersama keluarga, berjalan-jalan, membaca buku, menikmati alam, atau sekadar mengambil jeda dari pekerjaan juga merupakan bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Makna self-reward sejatinya bukan terletak pada seberapa banyak uang yang dikeluarkan. Yang lebih penting adalah kemampuan menikmati hasil kerja tanpa mengorbankan kebutuhan hari esok.

Bekerja keras memang layak diapresiasi. Namun, hadiah hari ini jangan sampai berubah menjadi beban finansial pada bulan berikutnya. “Self reward yang sehat adalah ketika rasa senang hari ini tetap berjalan beriringan dengan keamanan keuangan di masa depan,” pungkasnya.

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Lombok Post
self reward self reward sehat belanja impulsif perilaku konsumtif perencanaan keuangan