Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sewa iPhone Makin Tren, Risiko Data Pribadi Mengintai

J
Penulis: Jay❯
M Mujahid Dakwah
M Mujahid Dakwah

Advertisement

 

LombokPost- Di balik gaya mewah sesaat lewat gawai premium sewaan bisa memunculkan persoalan. Mulai tekanan untuk tampil bergengsi, perilaku konsumtif, literasi keuangan, hingga keamanan data pribadi.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram) M Mujahid Dakwah menilai fenomena sewa iPhone berkaitan dengan perubahan perilaku konsumen di era ekonomi visual.

Advertisement

Menurutnya, jenis gawai dan kualitas konten kini dapat menjadi bagian dari indikator status sosial. Dorongan Fear of Missing Out (FOMO) juga membuat konsumen mengejar prestise yang melekat pada barang, bukan hanya fungsi perangkat.

Kondisi tersebut melahirkan istilah pseudo-affluence atau kekayaan semu. Seseorang berusaha menampilkan citra mapan secara instan, meski kondisi finansial sebenarnya belum tentu sejalan dengan gaya hidup yang ditampilkan.

Advertisement

Dari sisi bisnis, rental iPhone menjadi pasar yang cukup menarik. Pelaku usaha tidak lagi sekadar menjual perangkat, tetapi menawarkan akses menggunakan ponsel premium untuk kebutuhan tertentu dalam waktu terbatas.

Sejumlah seri iPhone menjadi perangkat yang banyak dicari. Diantaranya iPhone 13 Pro, iPhone 14 Pro Max, hingga iPhone 15 Pro Max. Tarif sewa rata-rata berkisar Rp 50 ribu untuk seri lama hingga Rp 250 ribu lebih per 24 jam untuk seri flagship.

Paket sewa tiga hari juga menjadi salah satu pilihan yang diminati. Periode tersebut dianggap cukup untuk kebutuhan persiapan acara, hari-H, hingga pembuatan konten. Permintaan rental iPhone di Lombok juga meningkat pada akhir pekan, musim wisuda, festival musik, dan berbagai event di kawasan Mandalika.

Perputaran modal bisnis sewa iPhone pun terbilang menarik. Sebagai gambaran, iPhone 13 Pro bekas dengan modal sekitar Rp 10 juta dapat disewakan Rp 150 ribu per hari. Jika tersewa 20 hari dalam sebulan, pendapatan kotor mencapai sekitar Rp 3 juta.

Mujahid menyebut model tersebut sejalan dengan konsep sharing economy. Daya beli masyarakat untuk membeli gawai premium secara tunai terbatas, tetapi kebutuhan menggunakan perangkat tersebut tetap tinggi. Sistem sewa kemudian menjadi jalan tengah.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Lombok PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Hilangkan Jejak, Haekal Buang Handphone Korban dalam Kasus Pembunuhan Mahasiswi Unram 

Hilangkan Jejak, Haekal Buang Handphone Korban dalam Kasus Pembunuhan Mahasiswi Unram 

Tersangka pembunuhan mahasiswi Universitas Mataram (Unram) Nadya Dwi Ramadhany, Haekal Putra sempat mengambil dua handphone korban. Dia men

Petani Tiongkok Atur Irigasi Cukup lewat Handphone, Tak Perlu Pergi ke Sawah

Petani Tiongkok Atur Irigasi Cukup lewat Handphone, Tak Perlu Pergi ke Sawah

Modernisasi didukung pembangunan infrastruktur air berskala besar. Tiongkok berupaya membangun sistem pertanian yang lebih modern, hemat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer