Masyarakat kini sedang berada di zaman serba mesin. Semua hal dilakukan dengan bantuan mesin. Termasuk membajak sawah mereka. Padahal, dulu masyarakat menggunakan cara nenggala atau berenggala untuk membajak sawahnya.
HAMDANI WATHONI, Giri Menang
============================
Bagi yang lahir di bawah tahun 2000-an, nenggala merupakan cara membajak lahan sawah yang sudah tidak asing lagi. Hampir semua petani menggunakan cara ini untuk mengolah tanah di sawah mereka agar tetap subur. Namun untuk generasi setelahnya, cara ini sudah mulai asing. Karena banyak dari mereka melihat petani membajak sawah menggunakan mesin traktor yang lebih instan dan praktis.
“Karena kalau pakai mesin lebih cepat. Bisa sampai tiga kali lipat, makanya banyak petani yang beralih,” tutur Riman, salah seorang petani di Desa Kebun Ayu kepada Lombok Post.
Menggunakan mesin juga dirasakan lebih praktis. Tidak perlu menggiring sapi menggunakan pecut. Hanya tinggal mengarahkan kendali mesin traktor. Maka dalam hitungan beberapa jam, petak demi petak sawah bisa dibajak. Beda halnya dengan menggunakan tenaga sapi, butuh waktu setengah hari untuk membajak satu petak sawah saja.
“Ya memang agak lama. Karena sapi jalannya kan lamban. Kalau mesin kecepatannya bisa diatur,” akunya memberi penjelasan.
Inilah yang membuat nenggala kalah saing. Hanya segelintir orang yang bisa bertahan dengan cara ini. Sebagian besar peternak sapi yang menyiapkan jasa nenggala memilih banting setir. Mereka lebih tertarik menjalankan usaha penggemukan sapi daripada menyediakan jasa nenggala.
“Kalau nenggala sehari dapat upah sekitar Rp 60 ribu. Itu pun kalau setiap hari ada yang minta. Makanya sekarang lebih menjanjikan usaha penggemukan sapi,” lanjut pria 60 tahun lebih itu.
Sedangkan untuk usaha penggemukan sapi, warga biasanya akan mendapatkan keuntungan per tiga bulan hingga enam bulan. Tergantung kapan mereka mau menjual sapi miliknya. Untuk satu ekor sapi yang biasa dibeli dengan harga Rp 12 juta, dalam enam bulan bisa dijual dengan harga Rp 15 juta hingga Rp 18 juta.
Itu untuk satu ekor saja. Bayangkan jika masing-masing orang memiliki dua sampai empat ekor sapi. Maka keuntungan yang didapat tentu saja berlipat. “Makanya sekarang orang lebih memilih usaha penggemukan. Lebih banyak untungnya,” aku dia.
Namun demikian, Riman berharap tradisi nenggala ini tidak dilupakan. Karena dari warisan cara membajak turun temurun ini sebenarnya banyak yang bisa mendapatkan manfaat. Misalnya saja tukang pandai besi yang membuat alat nenggala hingga tukang kayu. Termasuk juga penggembala sapi. “Tapi sayang, sudah sangat jarang warga yang membajak sawahnya dengan cara ini. Mereka lebih pilih menggunakan mesin,” pungkasnya. (*/r8)
Editor : Administrator