Belakangan ini isu SARA menjadi bola liar yang digelindingkan oleh sejumlah oknum tidak bertanggung jawab. Namun di Pulau Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, persoalan SARA sebenarnya sudah tuntas. Terbukti dengan berdirinya salah satu Masjid berarsitektur China yang ada di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat.
HAMDANI WATHONI, Giri Menang.
============================
Panas terik matahari yang menyegat tak terasa. Akibat udara sejuk hutan dan perbukitan berhembus di Desa Pakuan. Pepohonan hijau dengan daun yang rimbun mengiringi perjalanan menuju salah satu masjid yang cukup terkenal di Lombok Barat (Lobar) ini. Tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini kini menjadi salah satu destinasi wisata desa.
Namanya Masjid Ridwan. Namun orang lebih mengenal masjid yang ada di Dusun Jurang Malang ini sebagai Masjid China Desa Pakuan. Bukan tanpa alasan orang menyebut masjid ini sebagai Masjid China. Konstruksi bangunan khas Tionghoa begitu kental dalam desain pembangunan masjid ini. Perpaduan warna merah dan kuning keemasan menjadi ciri khasnya. Tulisan kaligrafi alquran dan tulisan mandarin menghiasai dinding tembok masjid ini.
“Masjid mulai ini dibangun sekitar tahun 2007 namun mulai digunakan tahun 2010,” tutur Satral, penunggu Masjid Ridwan.
Masjid ini dikatakannya dibangun oleh oleh H Maliki, warga Etnis Tionghoa yang menjadi mualaf bersama seluruh keluarganya. Konon H Maliki membangunkan warga setempat masjid ini sebagai tempat beribadah. Ia mewakafkan hartanya untuk membangun masjid agar bisa dimanfaatkan warga setempat.
Niatan baik H Maliki ini pun disambut hangat warga. Ini menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat Desa Pakuan sudah tuntas dengan persoalan SARA. Mereka menerima niat baik siapapun tanpa membedakan etnis maupun suku sesorang. Karena masyarakat desa ini percaya bahwa semua manusia apapun suku dan rasnya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Sang Pencipta. Yang membedakan derajat seseorang adalah keimanan dan ketakwaannya. Termasuk manfaatnya bagi makhluk lain.
“Masyarakat banyak mengadakan kegiatan keagamaan di sini. Maulid, akad nikah atau yang lainnya. Bahkan kadang warga dikasih hadiah kalau akad nikah di masjid ini oleh H Maliki,” ucap Satral.
H Maliki dari penuturan Satral adalah seorang pengusaha beretnis Tionghoa. Dia tinggal di Kota Mataram dan memiliki sejumlah toko di wilayah Sweta. Masjid ini dibangun H Maliki di atas lahan seluas 90 are. Di sekitar Masjid ini juga terdapat Taman Pakkua yang memiliki arti segi delapan. Ini adalah filosopi pembangunan masjid yang juga memiliki desain segi delapan. Berbeda dengan kebanyakan masjid di Pulau Lombok pada umumnya yang dibangun persegi atau persegi panjang.
Keberadaan masjid ini pun lantas menjadi daya tarik bagi wisatawan ke Desa Pakuan. Di samping keberadaan sejumlah destinasi wisata pemandian yang juga terdapat di desa ini. “Banyak wisawatan yang datang, dari Manado, Palembang, Balik Papan, bahkan Filipina, Malaysia, Thailand datang ke sini. Biasanya wisatawan yang datang ke Senggigi datang pakai bus,” ungkapnya.
Sayangnya beberapa bulan terakhir kunjungan mulai sepi. Menyusul terjadinya gempa hingga longsor yang menyebabkan jalur utama ke masjid ini terputus. (Bersambung)
Editor : Administrator